Kumparan Logo

Moms, Pahami Pentingnya Kelola Emosi Agar Anak Tidak Jadi Korban KDRT

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pentingnya orang tua kelola emosi agar anak tidak jadi korban KDRT.oto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pentingnya orang tua kelola emosi agar anak tidak jadi korban KDRT.oto: Shutter Stock

Moms, beberapa waktu belakangan ini kita disuguhi kabar miris soal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menjadikan anak sebagai korbannya.

Pertama, soal ayah berinisial RIS yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan, yang memukul dan menendang anaknya berkali-kali dalam rentang setahun terakhir.

Kemudian, seorang ayah berinisial J (39 tahun) asal Tasikmalaya, Jabar, yang memotong penis anaknya (5 tahun) menggunakan silet saat si anak sedang tertidur. Penyebabnya karena beberapa hari cekcok dengan istri yang meminta anaknya disunat sedangkan mereka belum punya biaya.

Kejadian kekerasan terhadap anak ini begitu miris dan menyakitkan ya, Moms. Padahal, orang tua semestinya menjadi pelindung bagi anak-anak, menjadi sosok yang menyayangi dan mengayomi. Termasuk ketika anak melakukan kesalahan.

Ya Moms, setiap orang tua memiliki cara tersendiri dalam mendisiplinkan anak bila melakukan kesalahan. Tapi, semestinya tidak perlu menggunakan kekerasan karena tidak efektif.

Lantas, apa yang perlu orang tua lakukan ketika mengetahui si kecil melakukan kesalahan?

Pentingnya Orang Tua Kelola Emosi Tanpa Kekerasan

Ilustrasi ibu memarahi anak. Foto: Shutter Stock

Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog, berpandangan orang tua perlu mengelola emosinya jika mendapati anak melakukan kesalahan. Apa alasannya? "Setiap orang tua perlu belajar cara-cara mengelola emosi agar dapat memberi kesempatan berpikir dan mengambil tindakan/perkataan yang tepat dalam menghadapi anak," tutur Vera kepada kumparanMOM. Sebab, menurut Vera, bila ayah dan ibu merespons dengan kekerasan atau perkataan yang tidak semestinya, perlakuan salah tersebut akan membekas dalam benak anak. Dikhawatirkan juga akan mempengaruhi tumbuh kembang anak di kemudian hari. Maka dari itu, Vera berpesan kepada orang tua untuk bisa melatih diri sendiri agar tidak terbawa emosi apabila mengetahui anak melakukan kesalahan. Temukan cara-cara sederhana sesuai preferensi masing-masing untuk menenangkan diri ya, Moms! "Misalnya, tarik napas panjang beberapa kali sambil memejamkan mata. Atau mencuci muka, menarik diri sebentar dari anak sampai emosi lebih tenang," tutup wanita yang praktik di Lembaga Psikolog Terapan Universitas Indonesia itu.