Kumparan Logo

Mungkinkah Dapat Terkena Vaginismus Usai Melahirkan?

kumparanMOMverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Melahirkan Secara Caesar Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Melahirkan Secara Caesar Foto: Shutterstock

Bukan cuma urusan menyusui, rasa-rasanya banyak hal baru yang Anda temui usai melahirkan.

Bagaimana dengan urusan percintaan Anda setelah bersalin, Moms? Tak jarang banyak ibu yang masih enggan melakukannya. Alasannya pun beragam, dan bila Anda yang mengalaminya pula, jangan ragu untuk mengkomunikasikan dengan suami.

Bila Anda merasa kaku otot dan nyeri saat berhubungan seks pascamelahirkan, waspada vaginismus. Yaitu suatu kondisi gangguan saat otot sekitar vagina mengencang dengan sendirinya, sehingga dapat menyebabkan rasa sakit dan bisa menghambat penis masuk ke dalam vagina.

Ilustrasi Vagina. Foto: Shutter Stock

Dalam akun Instagram-nya dr Robbi Asri Wicaksono, SpOG, mengatakan banyak perempuan mengetahui dirinya terkena vaginismus setelah menikah atau setelah melakukan aktivitas seksual. Lantas bagaimana dengan ibu hamil atau yang sudah melahirkan, mungkinkah mengalami vaginismus?

Sebelum menjawabnya, dr Robbi menjelaskan bahwa vaginismus terbagi menjadi dua: primer dan sekunder.

Vaginismus primer merupakan sebuah keadaan vaginismus yang terjadi sejak awal seseorang mengalami penetrasi. Sementara vaginismus sekunder terjadi setelah sebelumnya tidak pernah mengalami kendala dalam hal penetrasi vagina.

"Vaginismus (sekunder) sebelumnya hidupnya normal, penetrasi tidak ada masalah, lalu suatu saat di titik tertentu jadi vaginismus," jelasnya saat dikonfirmasi kumparanMOM melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut dr Robbi mengungkap, vaginismus sekunder memang banyak muncul setelah melahirkan, baik itu pravaginam (melahirkan jalur normal) atau operasi sesar. Selain itu, bisa juga pascamenopause dan pernah menjalani operasi di bagian organ reproduksi.

Ilustrasi Vagina Foto: Shutterstock

"Tapi bukan karena melahirkan. Vaginismus primer dan sekunder itu tidak diketahui penyebabnya," katanya. "Di Indonesia tidak ada data resmi (berapa banyak yang terkena vaginismus), tapi data dari mentor saya di Amerika Serikat, saat ini 7 sampai 17 persen populasi perempuan (mengalaminya)," tambah dokter yang praktik di Limijati Hospital Bandung ini.

Dr Robbi juga menegaskan, vaginismus tidak bisa dikendalikan oleh pikiran atau karena rasa takut biasa, Moms. Ini karena otot pada bagian depan vagina merupakan otot yang tidak bisa dikendalikan atau dikontrol oleh pikiran. Jadi dalam keadaan panik ataupun rileks tetap tidak bisa mempengaruhi kerja otot tersebut.

Bila Anda mengalami gejala seperti yang telah disebutkan di atas, segera datangi dokter.

kumparan post embed