Mungkinkah Pneumonia pada Anak Terulang Lagi saat Dewasa?
·waktu baca 2 menit

Pneumonia adalah infeksi yang dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Namun, banyak orang tua bertanya-tanya, apakah pneumonia yang dialami saat kecil bisa terus terjadi hingga dewasa? Atau apakah pneumonia bisa berulang dalam hidup seseorang?
Penyebab Pneumonia pada Masa Anak Terus Terjadi di Usia Dewasa
Dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A, menjelaskan bahwa pneumonia memang bisa berulang, terutama jika faktor risikonya tidak ditangani. Karena sifatnya adalah infeksi, seseorang bisa saja terkena pneumonia bulan ini, lalu terserang lagi beberapa bulan kemudian.
“Apakah pneumonia bisa jadi berulang? Bisa, kan namanya juga infeksi. Jadi ya, kena kemarin, bulan depan, dua bulan, tiga bulan lagi (mungkin terjadi),” tutur dr. Kanya di Park Hyatt Menteng, Jakarta Pusat, Senin (10/11).
Menurut dr. Kanya, ada beberapa kondisi yang membuat anak lebih rentan mengalami pneumonia berulang, antara lain:
1. Belum mendapatkan vaksin lengkap, terutama vaksin yang melindungi dari bakteri penyebab pneumonia.
2. Adanya faktor risiko tambahan, seperti asma, penyakit jantung bawaan, atau kondisi medis lain yang menurunkan daya tahan tubuh.
3. Status gizi kurang atau gizi buruk, yang membuat tubuh lebih mudah terserang infeksi.
4. Paparan asap rokok, yang merusak saluran napas dan memudahkan bakteri masuk.
5. Lingkungan sekitar dengan cakupan imunisasi rendah, sehingga penularan lebih mudah terjadi.
“Kekebalan imunitas yang divaksin di sekitar si anak itu tidak banyak, dia belum sempat mengejar imunisasi, ketularan, dan seterusnya, akhirnya sakit lagi pneumonia, bisa,” tegasnya.
Selain itu, pneumonia juga bisa kambuh karena disebabkan oleh kuman yang berbeda, baik bakteri, virus, maupun jamur. Artinya, meski pernah terkena sebelumnya, seseorang tetap bisa terinfeksi lagi bila terpapar jenis kuman lainnya.
“Jadi bisa nggak berulang? Bisa selama dia terpapar dengan bakteri yang berbeda atau virus yang berbeda atau jamur yang berbeda, ya bisa-bisa saja,” tutup dr. Kanya.
