Kumparan Logo

Orang Tua Perlu Paham, Ini 3 Tanda Praremaja pada Anak

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tanda-tanda anak memasuki fase praremaja. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Tanda-tanda anak memasuki fase praremaja. Foto: Shutterstock

Seiring bertambahnya usia, anak-anak akan memasuki fase pubertas sebagai jembatan memasuki masa dewasa. Dilansir Kids Health, pubertas dipicu oleh salah satu bagian otak yang disebut hipotalamus yang mulai memberikan sinyal pada kelenjar pituitari–kelenjar sebesar kacang polong di dekat pangkal otak–untuk melepaskan hormon estrogen pada anak perempuan dan hormon testosteron pada anak laki-laki.

Menurut IDAI, anak perempuan mengalami pubertas di usia yang lebih cepat yakni mulai 8-13 tahun, sedangkan laki-laki mulai pubertas pada usia 9-14 tahun. Namun sebelum mengalami pubertas, anak-anak akan terlebih dahulu melewati praremaja (prapubertas), yaitu periode dua tahun sebelum anak pertama kali mengalami pubertas.

Di masa ini, orang tua perlu bersiap-siap mendampingi anak agar tetap tenang. Bukan tanpa alasan, Moms, saat praremaja anak akan mulai merasakan tiga fase perubahan, baik fisik dan emosionalnya.

Ini dia tiga tahap praremaja yang harus dipahami orang tua:

1. Perubahan fisik

Seiring bertambahnya massa otot, fisik anak akan menjadi lebih kuat dan tidak mudah kelelahan. Mulai terlihat juga perubahan yang kasat mata dari fisiknya, seperti menebalnya tekstur rambut dan perubahan pada tekstur kulit yang berangsur menyerupai kulit orang dewasa. Di tahap ini, tak sedikit juga anak yang mulai merasakan adanya perubahan pada suara, terutama pada anak laki-laki.

2. Perubahan perilaku

Memasuki fase praremaja, anak memiliki cara berpikir baru yang lebih logis dan efektif. Foto: Shutterstock

Di masa ini, perkembangan kognitif yang mengacu pada kemampuan mengingat, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah, akan berkembang pesat. Akibatnya, si kecil mulai memiliki cara berpikir baru yang lebih logis dan efektif untuk mempersiapkannya menghadapi masa depan.

Anak juga akan mulai mengungkapkan pandangan mereka tentang aktivitas yang ia lakukan serta adanya keinginan untuk memilih tujuan mereka sendiri, termasuk mengambil andil dalam pekerjaan rumah dan sekolah.

3. Perubahan emosi

Salah satu tanda-tanda perubahan emosi yang paling terlihat adalah meningkatnya kemampuan anak dalam menafsirkan dan merespons emosi dirinya maupun orang lain. Di sisi lain, fase ini terkadang membuat orang tua kewalahan karena anak akan sering mengalami mood swing atau ketidakstabilan emosi.

Tak jarang, anak-anak juga mulai mengalami lebih banyak konflik dan beradu argumen dengan orang tua mereka. Meski begitu, orang tua harus tetap memberikan dukungan dan pendampingan agar si kecil bisa melewati tahapan praremaja ini. Lalu, apa yang sebaiknya orang tua lakukan?

Cara orang tua menyikapi praremaja yang dialami anak

1. Jelaskan tentang hal yang sedang dialami anak

Moms, konflik dan ketidakstabilan emosi yang dialami anak biasanya terjadi karena ia merasa “kaget” tentang perubahan yang terjadi pada dirinya. Jadi, orang tua sebaiknya bisa menyisihkan waktu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang ia alami.

Jelaskan bahwa fase yang sedang mereka lewati merupakan hal yang normal, termasuk perubahan fisik yang terjadi pada si kecil. Fase praremaja juga bisa menjadi waktu yang tepat bagi orang tua untuk mulai memberikan sex education, terutama tentang menjaga kesehatan alat reproduksi.

2. Menjadi pendengar yang baik untuk anak

Saat anak memasuki fase praremaja, orang tua sebaiknya menjadi pendengar yang baik dan tidak bereaksi berlebihan saat anak mulai mengeluh. Foto: Shutterstock

Menjelang pubertas, anak akan lebih sering mengeluh bahkan berontak mengenai hal-hal yang menurutnya tidak sesuai dengan pemikirannya. Hal ini ia lakukan demi mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang terdekat, terutama orang tua.

Selalu dampingi anak dengan menjadi pendengar yang baik dan tidak bereaksi berlebihan saat anak mulai mengeluh. Setelah mendengarkan seluruh keluh kesah si kecil, Anda bisa mengajaknya diskusi tentang bagaimana ia harus mengambil sikap, tentunya tanpa memojokkan atau mengabaikan perasaan anak ya, Moms.

3. Jangan memaksa anak bercerita masalahnya

Ada kalanya juga anak menjadi lebih banyak diam dan memendam perasaannya. Meski orang tua bermaksud baik, sebaiknya jangan terlalu memaksa anak untuk menceritakan masalah yang sedang ia hadapi.

Biarkan anak mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri dengan tetap mendampinginya dari jauh. Hal ini juga bisa melatih kemandirian anak, mengasah kemampuan mengontrol emosi, dan membuatnya berani mengambil keputusan, Moms.

4. Dukung anak lewat asupan makanan bergizi

Memasuki fase praremaja hingga akhirnya pubertas, kebutuhan nutrisi anak tentunya akan berbeda dari rentang usia sebelumnya. Asupan nutrisi yang tercukupi dapat mendukung pertumbuhan anak sehingga ia lebih sehat, bahkan berprestasi di sekolah.

Pastikan asupan yang anak konsumsi dapat memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutriennya, Moms. Makronutrien contohnya adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Sedangkan mikronutrien adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit seperti besi, kalsium, selenium, dan vitamin. Termasuk vitamin C.

Anak berusia 9-13 tahun membutuhkan sekitar 45 mg vitamin C per hari. Sedangkan remaja membutuhkan 65-90 mg vitamin C per hari untuk menunjang aktivitasnya.

Vitamin C dapat membantu meningkatkan imunitas dengan cara melindungi kerusakan sel tubuh akibat radikal bebas, menstabilkan tekanan darah, mempertajam daya ingat, hingga menurunkan risiko beberapa penyakit kronis. Bahkan vitamin C juga dapat mencegah infeksi dan meringankan gejala flu pada anak.

Selain memberikan asupan bergizi seimbang saat waktu makan, orang tua bisa mendukung kesehatan anak lewat camilan dan makanan pendamping lainnya. Milkuat Susu dengan Vitamin C bisa menjadi tambahan bekal yang ideal untuk membantu #TambahinKuatnya si Kecil dengan menjaga imunitas anak agar tetap kuat.

instagram embed

Sebotol Milkuat Susu mengandung vitamin C 90 mg yang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin C harian anak sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG). Dikemas menggunakan botol PET 180 ml yang praktis, Milkuat Susu dengan Vitamin C tersedia dalam tiga pilihan rasa yang disukai anak-anak, yaitu strawberry, orange, dan yoghurt. Tiga rasa tersebut dipilih karena rasanya yang trendy dan disukai banyak kalangan.

Milkuat Susu Botol Tinggi Vitamin C yang bisa didapatkan di official store Milkuat di e-commerce favorit dan minimarket terdekat.

Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Milkuat