Panduan Isolasi Mandiri Bagi Ibu Menyusui yang Positif COVID-19
ยทwaktu baca 3 menit

Salah satu ketakutan ibu menyusui di masa pandemi ini adalah positif COVID-19 dan khawatir tidak bisa menyusui bayi. Namun sebenarnya, Anda tak perlu cemas tidak bisa menyusui bayi, sebab belum ada penelitian yang menyebutkan jika virus corona bisa menular melalui ASI, Moms.
Bahkan, menyusui sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kelangsungan hidup bayi. Efek perlindungan ASI sangat kuat dalam melawan infeksi penyakit melalui peningkatan daya tahan tubuh.
Jadi, ibu yang positif COVID-19 tetap bisa menyusui bayi, namun harus memperhatikan prosedur pencegahan penularan virus corona. Sebab, Anda tetap bisa menularkan virus corona ke bayi melalui kontak langsung dengan cairan pernapasan seperti ludah, ingus, semburan bersin, atau juga dengan kontak peralatan yang mungkin terkena cairan dari saluran pernapasan.
Nah Moms, bila Anda terkonfirmasi positif COVID-19 dan perlu melakukan isolasi mandiri, tetaplah semangat. Anda tetap bisa memberikan ASI pada si kecil saat isolasi mandiri. Berikut adalah beberapa panduan yang direkomendasikan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) untuk ibu menyusui yang positif COVID-19.
Rekomendasi ini dapat digunakan oleh ibu menyusui yang sehat, berstatus Kontak Erat maupun telah ditetapkan sebagai Kasus Konfirmasi Tanpa Gejala, yang harus menjalani isolasi mandiri di rumah.
Penjelasan soal Panduan Isolasi Mandiri bagi Ibu Menyusui
1. Tetap Merawat Bayi dan Menyusui Secara Langsung
Ibu menyusui yang menjalani isolasi mandiri di rumah dapat merawat bayinya secara langsung dan menyusui bayinya secara langsung dengan melaksanakan prosedur pencegahan penularan COVID-19, yaitu:
Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan setelah kontak dengan bayi
Rutin membersihkan benda-benda di sekitar dengan disinfektan
Memakai masker
Menjaga jarak fisik dengan orang lain
Menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut
2. Gunakan ASI Perah Jika Tidak Mampu
Apabila ibu tidak mampu menyusui bayinya secara langsung, pemberian ASI dilakukan dengan memerah ASI. Bagaimana prosedurnya?
ASI perah dapat diberikan ke bayi oleh Anda secara langsung maupun anggota keluarga lain yang sehat
Saat memerah ASI, Anda tetap melaksanakan prosedur pencegahan penularan COVID-19
Memerah ASI sangat penting, supaya produksi ASI tetap terjaga
Ketika keadaan Anda membaik, Anda dapat kembali menyusui bayi sesegera mungkin.
3. Hubungi Tenaga Kesehatan
Coba hubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan layanan konseling menyusui, dukungan dasar psikososial, dan dukungan praktek Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) dan lainnya, melalui telepon, atau media komunikasi lainnya.
Sebab, ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, Anda harus mengupayakan bayi tetap mendapatkan ASI, baik dengan menyusui secara langsung maupun diberikan dalam bentuk ASI perah. Jadi jangan lupa meminta dukungan, Moms.
4. Jika Kondisi Parah, Jangan Menyusui Secara Langsung
Apabila status Anda adalah Kontak Erat yang gejala penyakitnya semakin parah atau Kasus Konfirmasi Tanpa Gejala yang mulai menunjukkan gejala COVID-19, maka Anda tidak boleh mengasuh dan menyusui bayi secara langsung. Sehingga, Anda harus selalu melaporkan perkembangan kesehatannya kepada tenaga kesehatan atau puskesmas setempat.
5. Cara Memerah ASI
Anda dapat memerah ASI dengan alat pompa maupun dengan tangan. Saat memerah ASI, Anda dianjurkan untuk:
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, sebelum dan setelah memerah ASI
Menyediakan wadah tertutup dan bersih untuk menampung ASI
Perah sedikit ASI, lalu oleskan pada puting dan bagian hitam dalam payudara (areola). Hal ini bertujuan untuk membersihkan puting dan sekitarnya, karena ASI mengandung zat anti-kuman
Duduk dengan nyaman sambil memegang wadah dekat payudara
Meletakkan jari pada payudara di atas puting dan bagian areola, lalu telunjuk pada payudara di bawah puting dan areola berseberangan dengan ibu jari
Menekan ibu jari dan telunjuk ke arah dalam menuju dinding dada. Sebaiknya, Anda menghindari menekan terlalu ke dalam agar tidak menyumbat ASI
Menekan dengan cara yang sama dari arah samping, untuk memastikan ASI terperah dari seluruh payudara
Jangan memijat payudara, meremas, atau menarik puting
6. Menyiapkan dan Memberikan ASI Perah
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menyiapkan dan memberikan ASI perah kepada bayi:
ASI perah disimpan dalam wadah yang bersih dan ditutup serta diberikan label tanggal ASI diperah
ASI disimpan sebanyak 15-60 ml per wadah atau sekali minum sesuai usia bayi, untuk menghindari ASI perah terbuang karena tidak habis diminum oleh bayi
Apabila ASI yang baru diperah tidak digunakan dalam 72 jam atau tiga hari, ASI perah didinginkan terlebih dahulu di lemari pendingin sebelum dibekukan di freezer
Sebelum ASI perah beku digunakan, ASI perah dikeluarkan dari freezer terlebih dahulu, disimpan selama 12 jam di rak bagian bawah kulkas (chiller) agar menghindari perubahan suhu terlalu ekstrem
Selanjutnya, ASI perah yang sudah mencair, yang akan diberikan kepada bayi dikeluarkan dari kulkas, dimasukkan ke dalam cangkir/gelas kaca bersih, direndam di dalam mangkuk berisi air hangat
ASI perah diberikan kepada bayi dengan cangkir/gelas atau sendok. ASI perah dituangkan ke dalam cangkir atau sendok secukupnya. Dekatkan cangkir atau sendok ke bibir bawah bayi dan biarkan bayi menghisap sedikit demi sedikit dengan lidahnya. Jangan menuangkan ASI ke dalam mulut bayi
Botol dan dot tidak aman digunakan untuk memberi ASI perah karena sulit dibersihkan dan mulai terkontaminasi
ASI perah beku yang diberikan pada bayi adalah ASI yang terakhir diperah
ASI perah beku yang sudah dicairkan selama 24 jam tidak boleh diletakkan di suhu ruangan selama lebih dari 2 jam
Selama bayi minum ASI perah, AIMI tidak menyarankan menggunakan botol susu dan dot, karena memerlukan sterilisasi sebelum digunakan. Bayi juga akan sulit menyusu kembali kepada Anda saat sudah sembuh dari COVID-19.
7. Jika Ibu Tidak Mampu Memerah ASI
Apabila Anda tidak mampu memerah ASI, maka segera hubungi tenaga kesehatan melalui telepon atau pesan singkat, untuk berkonsultasi tentang keadaan Anda. Jika memang Anda ingin memberikan ASI donor pada si kecil, hal ini tetap harus di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Kemudian, jika memang perlu diberikan pengganti ASI, maka konsultasikan dulu dengan tenaga kesehatan.
