Kumparan Logo

Panduan Isoman untuk Anak yang Terinfeksi Omicron

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak isolasi mandiri. Foto: Oranzy Photography/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak isolasi mandiri. Foto: Oranzy Photography/Shutterstock

Ketika anak dinyatakan terinfeksi Omicron, ada dua jenis perawatan yang bisa dilakukan sesuai dengan derajat gejalanya. Jika gejala anak sedang hingga parah atau memiliki komorbid, dokter akan menyarankan dirawat di rumah sakit agar dapat dipantau secara ketat.

Sementara jika anak tidak bergejala atau hanya bergejala ringan, maka ia bisa menjalani isolasi mandiri atau isoman di rumah. Nah Moms, berikut adalah panduan dari Ketua Satgas COVID-19 IDAI soal isoman untuk anak yang terinfeksi Omicron

Panduan Isoman untuk Anak yang Terinfeksi Omicron dari Ketua Satgas COVID-19 IDAI

Ilustrasi anak sakit pakai masker. Foto: Shutter Stock

Menurut Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Yogi Prawira, SpA (K), berikut adalah panduan isoman untuk anak yang terinfeksi Omicron.

  1. Orang tua tidak boleh panik.

  2. Pilih siapa yang akan jadi caregiver atau perawat. Tidak harus orang tuanya, karena kadang-kadang ada orang tua yang memiliki komorbid. Sehingga, pilih perawat yang sehat dan diprediksi tidak akan berat gejalanya jika tertular Omicron. Sebab, risiko perawat bisa saja tertular.

  3. Cukup satu orang yang menjadi perawat untuk mengurangi paparan. Biasanya isoman dilakukan 10 hari ditambah 3 hari bebas bergejala, jadi cari orang yang siap merawat anak selama hampir 2 minggu.

  4. Anak melakukan isoman terpisah atau berada di ruangan terpisah. Pastikan ruangan isoman anak memiliki ventilasi yang baik, karena kalau pakai AC terus menerus, konsentrasi virusnya akan semakin tinggi.

  5. Kamar mandi tidak perlu dipisah jika tidak memungkinkan. Namun yang terpenting, setiap kali digunakan, lakukan pembersihan, baik permukaan dan pintu, semua dibersihkan dan didesinfektan.

  6. Anak tetap pakai masker, apalagi jika sedang bersama orang lain di satu ruangan. Tujuannya, agar anak juga belajar bertanggung jawab dan belajar berempati. Si kecil juga perlu memahami bahwa ada orang yang akan mengalami gejala berat bila tertular darinya.

  7. Menangani pakaian dan popok dengan hati-hati. Sebab menurut beberapa penelitian, ternyata pelepasan virus melalui buang air besar bisa lebih lama dibandingkan dari saluran napas, bahkan bisa sampai lima minggu. Jadi jika anak masih menggunakan popok, setelah popok dibuang sebaiknya diikat sampai dua lapis. Lalu diamkan dulu selama tiga hari di tempat sampah rumah, baru dibuang ke luar. Tujuannya untuk meminimalisir penularan ke orang lain di luar rumah, seperti petugas kebersihan yang mengangkut sampah.