Kumparan Logo

Parenting VOC versus Gentle Parenting, Apa Dampaknya terhadap Prestasi Anak?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu menemani anak belajar. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu menemani anak belajar. Foto: Shutterstock

Istilah parenting VOC dan gentle parenting semakin sering dibahas di media sosial. Perbincangan ini membuat orang tua terbagi menjadi dua kubu, ada yang menilai pola asuh tegas dibutuhkan agar anak patuh, sementara yang lain memilih pola yang lebih komunikatif.

Dokter Spesialis Anak, dr. S. Tumpal Andreas, menjelaskan bahwa kedua pola asuh tersebut tak hanya memengaruhi cara anak tumbuh, namun juga mendukung prestasinya di sekolah.

“Pada parenting VOC anak memang lebih nurut, namun kekurangannya anak tidak bisa berkontribusi terhadap banyak hal sehingga tidak berani berkomunikasi di depan umum. Hal ini lama-kelamaan dapat berdampak terhadap prestasi anak di sekolahnya,” terang dr. Andreas di sesi webinar Energen bersama kumparanMOM “Parenting VOC vs Gentle Parenting, Mana yang Pengaruhi Prestasi Anak?”, Senin (25/5).

Sesi webinar Energen bersama kumparanMOM “Parenting VOC vs Gentle Parenting, Mana yang Pengaruhi Prestasi Anak?”, Senin (25/5).

Sementara itu, Praktisi Pendidikan Dasar dan CEO & Co-Founder Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra, menegaskan bahwa gentle parenting bukan berarti orang tua selalu menuruti keinginan anak. Orang tua tetap memiliki kendali dalam menentukan aturan, namun disampaikan secara lebih komunikatif.

“Perlu dipahami bahwa gentle parenting tidak sama dengan permissive parenting. Pada gentle parenting, harus ada diskusi dua arah, jadi orang tua menghadirkan forum diskusi dan anak mendengarkan,” terang Galih.

Jika diterapkan secara konsisten, dr. Andreas menyebut gentle parenting dapat membantu anak mengenali dan mengelola emosi, serta lebih berani menyampaikan pendapat.

“Pola asuh yang dididik berdasarkan rasa aman, nyaman, dan terbuka, membuat anak memiliki kedewasaan emosional. Karena dia terbiasa untuk diarahkan secara terbuka, emosionalnya pun semakin terkontrol,” tambah dr. Andreas.

Dukung Prestasi Anak Mulai dari Rutinitas Sarapan Bergizi Lengkap

Menerapkan pola asuh yang sesuai dengan karakter anak tidak selalu dimulai dari percakapan besar atau aturan yang rumit, Moms. Menurut Galih, orang tua justru bisa membangunnya dari momen sederhana, seperti rutinitas sarapan bergizi lengkap bersama anak.

Saat sarapan, orang tua dapat hadir, memberi arahan, melibatkan si kecil dalam rutinitas sederhana, dan membiasakannya memulai hari dengan lebih teratur.

“Prakteknya bisa dimulai dengan melibatkan anak terhadap peraturan di rumah yang dimulai saat dari sarapan. Kita bisa siapin bareng sama anak, sehingga anak jadi lebih semangat. Sambil melakukan kegiatan itu, kita bisa menjelaskan pentingnya sarapan bergizi lengkap. Sehingga nantinya anak tidak akan merasa dipaksa untuk melakukannya,” kata Galih.

dr. Andreas juga mengingatkan pentingnya sarapan bergizi seimbang untuk membantu memenuhi kebutuhan makro dan mikronutrisi si kecil setiap hari.

“Yang pasti sumber energi atau makronutrien, karbohidrat, protein hewani, dan lemak. Mikronutrien seperti vitamin dan mineral juga harus ada. Kalau enggak nanti makronutrien tidak bisa bekerja secara optimal. Jadi, anak harus terpenuhi secara lengkap,” jelasnya.

Namun, jika waktu terbatas, orang tua bisa memilih menu yang mudah disiapkan. Tetapi pastikan tetap memiliki kandungan gizi yang lengkap, seperti Energen.

Energen pilihan untuk membantu menambah energi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi anak dan keluarga di pagi hari.

Ya, Moms, Energen bisa menjadi pilihan untuk membantu menambah energi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil dan keluarga di pagi hari agar anak berprestasi di sekolah.

Energen terbuat dari kombinasi sereal, susu, dan telur sehingga bisa membuat kenyang lebih lama. Selain itu, dilengkapi juga dengan kandungan karbohidrat, protein, serat, serta Sigmavit, yaitu kombinasi vitamin A, B1, B2, B6, B12, D, E, dan asam folat.

Pilihan rasanya pun enak dan beragam, mulai dari vanila, cokelat, kacang hijau, jahe, hingga kurma. Apalagi sekarang ada Energen topping Beng-Beng Balls dan Energen topping Malkist bikin sarapan bergizi lengkap makin seru tinggal suap. Dengan rasa yang disukai anak, momen sarapan jadi lebih menyenangkan dan bisa membantu mendukung aktivitas serta prestasinya di sekolah.

Ternyata bila dilakukan secara konsisten, kebiasaan sederhana seperti sarapan bergizi lengkap bersama orang tua juga bisa mendukung perkembangan emosional anak. Dampaknya, si kecil lebih termotivasi untuk belajar dan berprestasi

“Ngobrol bareng di pagi hari membuat love language-nya penuh. Kedua nutrisinya juga penuh, dan ketiga pola asuh yang biasa dibuat setiap hari akan membentuk prestasi yang baik di kemudian hari,” pungkas dr. Andreas.

Nah, kalau Anda, tim parenting VOC atau gentle parenting saat mendampingi tumbuh kembang anak?