PCOS Kini Disebut PMOS, Dokter Ungkap Harapan di Balik Pergantian Nama
·waktu baca 2 menit

Moms, selama ini, banyak perempuan mengenal PCOS (Polycystic Ovary Syandrome) sebagai gangguan yang identik dengan kista di ovarium. Tak sedikit pula yang langsung merasa cemas soal kesuburan ketika mendapat diagnosis tersebut. Padahal, kondisi ini sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar masalah reproduksi.
Nah, beberapa bulan terakhir ini, dalam bahasa medis, PCOS berubah nama menjadi PMOS. Menurut ahli, perubahan nama ini terjadi karena berbagai alasan. Yuk cek di sini penjelasannya, Moms!
Alasan PCOS Berubah Jadi PMOS
Menurut penjelasan dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Andrew Christian Yurius Sp.OG, perubahan istilah ini diperlukan agar fokus penanganan pasien tidak lagi hanya tertuju pada ovarium.
“Selama ini penyebutan PCOS membuat banyak pasien mengira masalah utamanya adalah kista di indung telur. Padahal, penyakit ini melibatkan banyak jalur hormonal bukan hanya hormon reproduksi,” jelasnya pada kumparanMOM, Senin (18/5).
Melalui istilah PMOS, kondisi tersebut jadi dipahami sebagai gangguan sistemik yang melibatkan banyak jalur hormon dalam tubuh, mulai dari hormon reproduksi, insulin, hingga sistem adrenal dan neuroendokrin.
"Harapannya pada perubahan nama untuk pasien bahwa keluhan mereka adalah masalah hormonal sistemik bukan soal kesuburan dan penyakit kista, haid dan sulit hamil, namun berkolaborasi lintas disiplin untuk mengelola kesehatan," kata dr. Andrew.
Ada beberapa gejala yang umum dialami wanita dengan PMOS, seperti haid tidak teratur, kenaikan berat badan, jerawat berat, tumbuh rambut berlebih (hirsutism), hingga gangguan kecemasan. Umumnya wanita yang memiliki PMOS juga berpikir akan sulit hamil ketika sudah berkeluarga.
PMOS pada Wanita Masih Bisa Hamil atau Tidak?
Kabar baiknya, perempuan dengan PMOS tetap memiliki peluang untuk hamil, baik secara alami maupun dengan bantuan terapi medis.
“Wanita dengan PMOS masih bisa hamil alami. Namun, perbaikan kondisi metabolik dan hormonal tentu akan meningkatkan peluang kehamilan,” ujar dr. Andrew.
Karena itu, pasien biasanya dianjurkan mulai memperbaiki pola hidup, seperti rutin olahraga kombinasi kardio dan latihan beban, menjaga pola makan sehat, serta mengurangi konsumsi karbohidrat olahan. Jika diperlukan, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan laboratorium dan terapi medis lanjutan.
