Pentingnya Permainan Inklusif Tanpa Membedakan Gender Anak
ยทwaktu baca 3 menit

Bermain merupakan aktivitas yang dibutuhkan anak sebagai sarana untuk belajar hal baru dan mendukung perkembangannya. Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari aktivitas ini, seperti membangun kepercayaan diri anak hingga menurunkan tingkat stres. Itulah sebabnya orang tua perlu mendukung dan memberikan waktu bagi anak untuk bermain.
Sayangnya, beberapa orang tau tak menyadari bahwa cara yang digunakan dalam memberikan kesempatan bagi anak untuk bermain bisa berdampak buruk pada perkembangan si kecil pada masa mendatang. Salah satunya adalah mainan dengan stereotip gender. Ya Moms, orang tua umumnya memberikan mainan boneka atau yang bersifat feminin pada anak perempuan, sedangkan anak laki-laki diberikan mainan senjata-senjataan atau yang bersifat maskulin.
Moms, perlu dipahami bahwa gender berbeda dengan jenis kelamin. Jenis kelamin merupakan hal yang bersifat biologis dan tidak bisa diubah, sedangkan gender mengacu pada label sosial antara perempuan dan laki-laki. Pada pengasuhan, misalnya. Anak perempuan umumnya selalu diperlakukan sebagai anak yang lemah dan harus diperlakukan lembut, sedangkan anak laki-laki dituntut kuat dan tidak boleh menangis.
Mengutip laman UNICEF, orang tua didorong agar menerapkan pola asuh responsif gender pada anak melalui kegiatan bermain. Pola asuh ini berkaitan dengan cara orang tua dalam merawat dan mengasuh anak sejak dini tanpa memandang gender anak. Dengan kata lain, orang tua disarankan untuk memperlakukan anak perempuan dan anak laki-laki dengan setara.
Lantas, bagaimana cara menerapkan permainan inklusif untuk anak tanpa memandang gendernya? Simak penjelasannya berikut ini, Moms.
Cara Menerapkan Permainan Inklusif untuk Anak Tanpa Memandang Gender
Menurut UNICEF, ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menerapkan permainan inklusif untuk anak dan menghapus stereotip gender pada aktivitas bermain, yaitu sebagai berikut.
Beri anak perempuan dan anak laki-laki waktu yang sama untuk bermain.
Pastikan anak bermain dengan mainan atau permainan yang mengembangkan keterampilan sosial dan kognitif yang dapat merangsang kreativitas dan kemampuan untuk memecahkan masalah.
Bacakan buku atau beri tontonan pada anak tentang kisah infklusif dan positif pada anak. Kenalkan pada anak bahwa perbedaan tidak hanya dilihat dari jenis kelamin, tetapi juga suku, agama, dan ras. Jelaskan bahwa semua orang memiliki hak yang sama meski berasal dari kelompok yang berbeda.
Beri kesempatan bagi anak untuk bermain tanpa memandang gendernya, misalnya anak laki-laki boleh bermain masak-masakan dan anak perempuan boleh bermain bola.
Minimalkan pemberian mainan yang sengaja mendorong stereotip gender, misalnya warna pink hanya untuk anak perempuan dan warna biru hanya untuk anak laki-laki.
Pilih mainan yang memiliki pesan positif untuk anak.
Cegah anak bermain dengan mainan yang mendorong kekerasan.
Dorong anak perempuan dan anak laki-laki untuk melakukan permainan yang melibatkan aktivitas fisik, seperti olahraga, petak umpet, dan lain sebagainya.
Sebagai orang tua, Anda mungkin perlu menyikapi mainan dan permainan anak dengan bijak, Moms. Tak ada salahnya jika anak ingin mencoba berbagai mainan selama itu memberikan manfaat bagi perkembangannya. Selain itu, Anda juga dapat memberikan contoh dari hal lain. Misalnya, ayah ikut memasak dan ibu ikut membantu ayah mencuci mobil. Dengan begitu, anak lebih paham bahwa ada aktivitas yang bisa dilakukan oleh perempuan dan laki-laki.
