Penularan Herpes terhadap Janin Bisa Dicegah, Ini Penjelasannya

Pada saat menjalani kehamilan, banyak hal yang sering kali dikhawatirkan oleh seorang perempuan. Menjaga diri sendiri dan janin dari penyakit yang ada di sekitarnya seolah menjadi ikrar yang diucapkan setiap ibu.
Herpes salah satunya. Penyakit kulit yang diakibatkan oleh virus ini memiliki kecenderungan untuk menyebar terhadap orang lain, termasuk dengan ibu hamil. Meskipun bukan hal yang mudah untuk menghindarinya, namun perlu diketahui bahwa herpes tidak dipastikan akan menular pada janin seorang ibu hamil.
"Herpes itu ada dua. Herpes pertama itu ada pada tubuh dan herpes yang kedua ada pada genital. Biasanya yang ditakutkan itu adalah herpes yang kedua," ungkap dr. Ardiansjah Dara Syahruddin, Sp.OG saat ditemui kumparan (kumparan.com) di Ballroom Grand Hyatt Hotel, pada Rabu, (29/11).
Ia menuturkan bahwa seseorang biasanya dipastikan mengidap herpes berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Herpes Simplex Virus tipe 1 (HSV1) atau yang biasa dikenal dengan oral herpes, merupakan infeksi herpes yang biasanya menyerang sekitar mulut dan wajah. Hal itu ditandai dengan adanya cold scors atau fever blisters.

Infeksi seperti ini akan ditularkan kepada orang lain apabila ada kontak langsung. Sebagiannya lagi baru menyerang alat kelamin atau daerah anal seseorang (genital).
"Biasanya kita akan melakukan pemeriksaan di laboratorium, baru kita akan memberlakukan anti-HSV1 dan anti-HSV2. Kalau seumpamanya dicurigai ada herpes seperti itu, maka harus segera diobati dan diberikan anti virusnya," tutur pria yang biasa disapa dr. Dara ini.
Menurutnya, semakin tinggi jumlah virus yang ada pada tubuh, maka semakin besar potensinya untuk masuk ke dalam janin. Ia meyakini bahwa hampir setiap dokter kandungan pada dasarnya akan mengarahkan pasien, apabila sudah terbukti mengidap herpes dan segera memberinya anti virus agar tidak mudah menular.
"Kalau saya pribadi, biasanya sewaktu usia kehamilan 9 bulan saya cek ulang, karena ini berkaitan dengan proses persalinan. Karena misalnya saja pasien ini ada di tipe 2, sebagaimana yang kita takutkan yaitu di genital, seperti di jalan lahir. Jika herpes ada di situ, maka hal itu bisa berpotensi masuk ke saluran pernapasan atau mulut si pasien atau janinnya," tambahnya.
dr. Dara juga menyarankan agar setiap ibu hamil tidak perlu khawatir secara berlebihan. "Asal yang penting pasien tahu dan dokter tahu, nanti akan langsung diterapi sehingga viral loadnya belum terlalu tinggi. Virus itu tidak pasti menular kepada bayi, namun yang terpenting adalah cepat bertindak jika terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Jangan bersikap santai," ucapnya untuk menutup perbincangan.
