Perbedaan Baby Blues dan Postpartum Depression
ยทwaktu baca 2 menit

Bagi sebagian ibu, melahirkan merupakan momen membahagiakan dalam hidupnya. Kehadiran si kecil seolah melengkapi hidupnya. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa momen tersebut juga membawa perubahan besar dalam hidup ibu. Bahkan, tak jarang ibu merasa stres karena jam tidurnya berkurang dan tangisan bayi yang sering terdengar.
Ya Moms, masa-masa awal merawat bayi menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian ibu. Tak sedikit dari mereka yang mendiagnosis diri sendiri mengalami baby blues karena merasa stres dan tidak siap dengan kehadiran si kecil. Padahal, stres setelah melahirkan belum tentu merupakan tanda baby blues.
Mengutip Orlando Health, sekitar 80 persen ibu mengalami baby blues setelah melahirkan. Mereka merasakan perubahan mood yang cepat, kelelahan, dan insomnia. Kondisi ini biasanya bertahan dalam waktu singkat. Jika terjadi dalam jangka waktu lama dan jadi lebih buruk, bisa jadi itu merupakan postpartum depression atau depresi pascapersalinan.
Lantas, apa perbedaan kedua hal tersebut? Simak penjelasan berikut ini sebagaimana dikutip dari Web MD.
Beda Baby Blues dan Postpartum Depression
Baby Blues
Baby blues biasanya terjadi pada hari-hari pertama merawat bayi baru lahir dan akan membaik sampai bayi berusia dua minggu. Pada masa-masa itu, suasana hati atau mood Anda akan berubah dengan cepat dari senang menjadi sedih. Mulanya, Anda merasa bahagia dengan status Anda sebagai ibu. Tak lama kemudian, Anda sedih karena merasa tidak mampu menjalani kewajiban tersebut.
Baby blues membuat ibu tak nafsu makan dan malas merawat diri. Bahkan, kondisi ini juga membuat ibu mudah tersinggung, cemas, dan merasa kewalahan.
Meskipun begitu, kondisi ini masih dapat diatasi secara mandiri. Sempatkan untuk tidur dan istirahat saat ada waktu. Luangkan waktu untuk berolahraga atau jalan-jalan santai di sekitar tempat tinggal. Konsumsi makanan yang sehat dan enak juga mampu meningkatkan mood Anda.
Postpartum Depression
Postpartum depression merupakan baby blues yang terjadi lebih lama dan makin buruk dari hari ke hari. Kondisi ini dialami oleh 10 persen ibu pasca melahirkan. Ibu yang mengalami ini biasanya sudah pernah depresi sebelumnya.
Ibu dengan postpartum depression kerap merasa putus asa, sedih, tidak berharga, dan kesepian sepanjang waktu. Emosi negatif tersebut membuat ibu mudah menangis, kehilangan nafsu makan, dan insomnia. Selain itu, kondisi ini membuat ibu merasa tak dapat melakukan tanggung jawabnya dengan baik dan tidak bisa merawat bayinya. Ibu juga berisiko mengalami kecemasan dan serangan panik.
Kondisi ini hanya dapat diatasi dengan pemeriksaan dokter. Dokter mungkin akan menyarankan ibu untuk konseling ke psikolog dan meresepkan antidepresan jika diperlukan.
