Kumparan Logo

Perbedaan Ujian Nasional dan Asesmen Nasional

kumparanMOMverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi murid di Makassar sedang mengerjakan ujian nasional. Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi murid di Makassar sedang mengerjakan ujian nasional. Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) kini tengah gencar menyosialisasikan Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional (UN) pada 2021. Ya Moms, mulai tahun depan UN tidak ada lagi, sehingga Anda perlu tahu penggantinya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mengatakan perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

"Potret dan kinerja sekolah dari hasil asesmen nasional kemudian jadi cermin untuk kita bersama untuk kemudian refleksi, mempercepat perbaikan mutu pendidikan di indonesia," jelas Nadiem Makarim dalam video singkat di Instagram resmi Kemendikbud.

Membandingkan Ujian Nasional dengan Asesmen Nasional

ibu menemani anak belajar Foto: Shutter Stock

Bila dulu saat Ujian Nasional murid-murid diminta untuk mengerjakan soal-soal. Maka, berbeda dengan Asesmen Nasional, Moms.

Asesmen Nasional nantinya akan terdiri dari tiga instrumen, yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar. Berikut penjelasan Nadiem mengenai tiga instrumen yang ada pada Asesmen Nasional:

  1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)

Asesmen Kompetensi Minimum, jelas Nadiem, terdiri dari literasi dan numerasi. Literasi membaca adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah, mengembangkan kapasitas individu, sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat.

Sementara numerasi merupakan kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagi jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia.

AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. Kedua aspek kompetensi minimum ini, menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan.

Menurut Nadiem, fokus pada kemampuan literasi dan numerasi tidak kemudian mengecilkan arti penting mata pelajaran lain. Sebab, kedua hal itu justru membantu murid mempelajari bidang ilmu lainnya terutama untuk berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis dan dalam bantuk angka atau secara kuantitatif.

"Kemampuan literasi dan numerasi adalah kemampuan yang akan berdampak pada semua mata pelajaran," jelasnya.

  1. Survei Karakter

Bagian kedua dari Asesmen Nasional adalah survei karakter yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila.

Survei Karakter ini akan mengukur enam aspek Profil Pelajar Pancasila, yaitu: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

  1. Survei Lingkungan

Survei lingkungan belajar dilakukan untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah. Oleh sebab itu, survei ini akan dikerjakan oleh murid, guru dan kepala sekolah.

Kegiatan belajar di rumah bisa saja membuat si kecil bosan. Foto: Shutterstock

Nadiem Makarim menekankan bahwa Asesmen Nasional pada tahun 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah dan murid.

“Hasil Asesmen Nasional tidak ada konsekuensinya buat sekolah, hanya pemetaan agar tahu kondisi sebenarnya,” kata Nadiem.

Kemendikbud juga akan membantu sekolah dan dinas pendidikan dengan cara menyediakan laporan hasil asesmen yang menjelaskan profil kekuatan dan area perbaikan tiap sekolah dan daerah.

“Sangat penting dipahami terutama oleh guru, kepala sekolah, murid, dan orang tua bahwa Asesmen Nasional untuk tahun 2021 tidak memerlukan persiapan-persiapan khusus maupun tambahan yang justru akan menjadi beban psikologis tersendiri. Tidak usah cemas, tidak perlu bimbel khusus demi Asesmen Nasional,” pungkas Mendikbud.

embed from external kumparan