Pola Asuh dengan Kekerasan Fisik Menurun, tapi Kekerasan Verbal Justru Meningkat

Banyak orang tua kini mulai meninggalkan hukuman fisik saat mendisiplinkan anak. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada bentuk kekerasan lain yang justru semakin sering dialami anak, yaitu kekerasan verbal.
Penelitian yang dipimpin oleh Liverpool John Moores University dan dipublikasikan dalam jurnal BMJ Open menemukan bahwa prevalensi kekerasan verbal pada anak terus meningkat dari generasi ke generasi. Padahal, dampaknya terhadap kesehatan mental anak dapat berlangsung hingga dewasa dan tidak kalah serius dibandingkan kekerasan fisik.
Kekerasan Fisik Menurun, Kekerasan Verbal Justru Naik
Peneliti menganalisis data lebih dari 20.000 orang dewasa di Inggris dan Wales yang lahir sejak tahun 1950-an. Dari data tersebut terlihat adanya perubahan pola kekerasan terhadap anak selama beberapa dekade terakhir.
Pada responden yang lahir antara tahun 1950 hingga 1979, sekitar 20% mengaku pernah mengalami kekerasan fisik saat kecil. Angka ini turun menjadi sekitar 10% pada mereka yang lahir pada tahun 2000 atau setelahnya.
Namun, tren berbeda terlihat pada kekerasan verbal. Jika pada kelompok yang lahir sebelum tahun 1950 sekitar 12% pernah mengalaminya, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 20% pada generasi yang lahir tahun 2000 atau setelahnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa meski hukuman fisik semakin jarang digunakan, sebagian anak justru lebih sering menerima bentakan, hinaan, ancaman, atau kata-kata yang merendahkan.
Kenapa Kekerasan Verbal pada Anak Sering Tidak Disadari?
Berbeda dengan kekerasan fisik yang meninggalkan luka atau memar, kekerasan verbal tidak selalu tampak dari luar. Karena itu, banyak orang tua maupun orang di sekitar anak tidak menyadari bahwa perilaku tersebut juga termasuk bentuk kekerasan.
Padahal, menurut para peneliti, kekerasan verbal dapat menjadi sumber toxic stress atau stres beracun yang memengaruhi perkembangan otak anak. Dampaknya bahkan dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang hingga bertahun-tahun kemudian.
Dalam penelitian tersebut, anak yang mengalami kekerasan verbal diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesejahteraan mental yang rendah saat dewasa, hampir setara dengan mereka yang mengalami kekerasan fisik.
Orang Tua Perlu Dibekali Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan
Peneliti utama, Profesor Mark Bellis, mengatakan bahwa berbagai negara telah berhasil mengurangi praktik hukuman fisik terhadap anak melalui kebijakan dan perubahan cara pandang masyarakat. Namun, menurutnya, upaya tersebut belum cukup jika tidak diiringi edukasi mengenai pola pengasuhan yang positif.
Bellis menjelaskan bahwa ketika orang tua tidak memiliki alternatif dalam mendisiplinkan anak, kekerasan fisik bisa saja tergantikan oleh kekerasan verbal yang sama-sama berbahaya bagi perkembangan anak.
"Tanpa dukungan tersebut, upaya mengurangi hukuman fisik berisiko hanya menggantikan satu bentuk kekerasan dengan bentuk lainnya, yaitu kekerasan verbal, yang memiliki konsekuensi jangka panjang yang sama besarnya," ujarnya.
Pentingnya Membangun Komunikasi yang Menghargai Anak
Setiap orang tua tentu pernah merasa lelah, kesal, atau frustrasi saat menghadapi perilaku anak. Namun, penelitian ini menjadi pengingat bahwa kata-kata yang diucapkan kepada anak dapat meninggalkan dampak yang panjang.
Alih-alih membentak, menghina, atau melabeli anak dengan sebutan negatif, orang tua dapat mencoba menjelaskan kesalahan anak dengan tenang, menetapkan batasan yang jelas, serta mengajarkan konsekuensi dari perilakunya. Pendekatan disiplin yang penuh rasa hormat tidak hanya membantu anak memahami aturan, tetapi juga menjaga kesehatan emosionalnya dalam jangka panjang.
