Polling: 33,19% Pembaca Pilih Kondom untuk Cegah Kehamilan

4 Agustus 2022 19:00
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi penis dan kondom Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penis dan kondom Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Ada banyak alat kontrasepsi yang bisa jadi pilihan pasangan suami istri untuk menjaga jarak kehamilan. Beberapa di antaranya seperti, kondom, pil KB, IUD, dan suntik hormon. Tidak jarang juga pasangan suami istri yang menggunakan cara alami dengan menghitung masa subur sebelum berhubungan seks.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan hasil polling di periode 19 Juli-2 Agustus, sebanyak 33,19 persen pembaca kumparan memilih kondom sebagai alat kontrasepsinya untuk mencegah kehamilan. Sementara itu, 24,20 persen pembaca lainnya memilih cara alami dengan menghitung masa subur.
Kemudian dari total 467 responden, 17,77 persen dari mereka lebih ingin menggunakan IUD, lalu 8,35 persennya lebih pilih pil KB dan 2,14 persen pembaca ingin suntik hormon. Tak sampai di sana, sebanyak 14,35 persen pembaca justru memilih alat kontrasepsi lainnya.
Ya Moms, apa pun alat kontrasepsi yang dipilih sebenarnya sama-sama berpeluang untuk mencegah kehamilan. Namun, setiap alat kontrasepsi tentu memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu menjadi pertimbangan ibu dan ayah.
Ilustrasi kondom rasa buah-buahan Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kondom rasa buah-buahan Foto: Shutter Stock

Kondom

Kondom memang jadi salah satu alat kontrasepsi yang cukup efektif untuk mencegah kehamilan. Kondom juga memiliki banyak kelebihan, yaitu ekonomis, mudah didapatkan dan digunakan daripada alat kontrasepsi lainnya. Selain itu, kondom juga bisa menjamin perlindungan terhadap penularan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS).
ADVERTISEMENT
Meski begitu, pasangan suami istri tetap perlu memastikan kondom yang digunakan sudah sesuai standar pabrik dan masih dalam keadaan baru saat digunakan. Apalagi, penggunaan kondom mungkin saja mengganggu kenyamanan saat berhubungan seks dan mempunyai risiko kebocoran, yang akhirnya meningkatkan peluang kehamilan.
Ilustrasi pil KB. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pil KB. Foto: Shutter Stock

Pil KB

Penggunaan pil KB sebagai alat kontrasepsi biasanya tidak akan mengganggu hubungan seksual suami istri. Pil KB juga memiliki efektivitas yang tinggi, yaitu mencapai 90 persen untuk mencegah kehamilan apabila ibu rutin mengonsumsinya setiap hari.
Sayangnya, beberapa jenis pil KB bisa berisiko mengganggu produksi ASI jika ibu masih menyusui. Bila tetap ingin mengonsumsi pil KB, sebaiknya cari pil KB yang memang ramah untuk ibu menyusui. Pil KB jenis ini biasanya hanya mengandung hormon progestin dosis rendah atau tanpa kandungan hormon estrogen. Selain itu, pil KB juga bisa menyebabkan kenaikan dan penurunan berat badan, serta tidak menjamin perlindungan dari HIV.
Ilustrasi IUD. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi IUD. Foto: Shutter Stock

IUD

IUD atau Intrauterine Device yang merupakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dengan efektivitas mencapai 99,4 persen. IUD memiliki rentang waktu penggunaan yang lama dari 3,5 hingga 10 tahun. Penggunaan IUD juga membuat ibu merasa nyaman dan tidak akan mengganggu kesuburan atau siklus menstruasi.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, IUD juga tetap memiliki kekurangan sebagai alat kontrasepsi. Ibu mungkin mengalami rasa tidak nyaman saat pemasangan spiral. Beberapa ibu juga bisa mengalami mual, sakit perut, hingga demam setelah pemasangannya, Moms.
Ilustrasi suntik hormon. Foto: Lynne Sladky/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suntik hormon. Foto: Lynne Sladky/AP Photo

Suntik hormon

Suntik hormon yang disebut juga suntik KB merupakan pemberian injeksi yang mengandung hormon progestin untuk menghentikan indung telur melepaskan sel telur (ovulasi) setiap bulannya. Alat kontrasepsi yang satu ini dianggap memiliki efektivitas 99 persen untuk mencegah kehamilan.
Namun, suntik hormon juga memberikan berbagai dampak pada tubuh ibu seperti siklus menstruasi yang tidak teratur, hingga kemunculan flek. Selain itu, ibu yang melakukan suntik hormon juga disarankan untuk tidak berhubungan seksual sekitar 1-3 minggu, agar hormon bisa bekerja lebih maksimal di dalam tubuh.
Ilustrasi siklus menstruasi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siklus menstruasi. Foto: Shutter Stock

Hitung masa subur

Menghindari berhubungan seks di masa subur kerap dipilih beberapa pasangan suami istri untuk mencegah kehamilan secara alami. Ya Moms, berhubungan seks di masa subur memang bisa memperbesar peluang kehamilan, sehingga melakukannya di luar masa ovulasi pun bisa dicoba.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, cara yang satu ini dianggap kurang efektif bila ibu memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Sebab, masa subur ibu mungkin akan berbeda-beda setiap bulannya, sehingga lebih tinggi risiko kebobolan atau hamil yang tidak sengaja.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020