Proses Persalinan Terlalu Lama, Apa Penyebab dan Risikonya?
ยทwaktu baca 3 menit

Melahirkan adalah pengalaman unik bagi setiap wanita. Ada yang proses persalinannya berlangsung begitu cepat, namun ada juga yang memakan waktu berjam-jam dari awal kontraksi hingga pembukaan.
WebMD melansir rata-rata waktu persalinan wanita yang baru pertama kali melahirkan bisa memakan waktu sekitar 12-18 jam. Sementara wanita yang sudah pernah melahirkan sebelumnya, waktu persalinan bisa lebih cepat atau sekitar setengah dari waktu yang pertama.
Tetapi, ada juga ibu hamil yang mengalami persalinan lama (prolonged labor) atau dikenal juga sebagai partus lama. Apa maksudnya?
Apa Itu Persalinan Lama?
Jika bayi tidak kunjung lahir setelah kira-kira 20 jam mengalami kontraksi secara teratur, kemungkinan besar Anda mengalami persalinan lama. Beberapa ibu hamil yang mengandung anak kembar pun lebih berisiko menjalani persalinan lama yang berlangsung 16-24 jam.
Tentunya, waktu persalinan yang berkepanjangan bisa begitu melelahkan dan menguras emosi. Di sisi lain, juga bisa menyebabkan komplikasi meski kasusnya jarang terjadi.
Ada beberapa kemungkinan penyebab terjadinya persalinan lama. Menurut American Pregnancy Association, penyebabnya bisa diakibatkan penipisan serviks yang lambat, ukuran bayi terlalu besar, hingga jalan lahir atau panggul ibu terlalu kecil. Tak hanya itu, hamil bayi kembar juga berisiko menjalani persalinan lama akibat posisi bayi tidak normal atau sungsang maupun kontraksi sangat lemah. Tak hanya fisik, persalinan lama juga bisa berkembang kepada faktor psikologis, seperti muncul rasa khawatir, cemas atau takut.
Penanganan Ibu Hamil yang Alami Persalinan Lama
Jangan khawatir, Moms, karena dokter maupun bidan akan selalu memantau kondisi Anda dan bayi untuk memastikan proses melahirkan tetap bisa berjalan aman. Petugas medis akan rutin melakukan pemeriksaan, seperti frekuensi dan kekuatan kontraksi hingga mengukur detak jantung bayi. Anda pun mungkin diberi obat pereda nyeri untuk membuat tubuh lebih rileks di tengah rasa sakit kontraksi.
Jika bayi sudah mulai terlihat di jalur lahirnya, dokter atau bidan akan menggunakan alat khusus forceps atau alat vakum untuk membantu menarik bayi keluar melalui vagina. Namun, apabila dokter merasa Anda butuh lebih banyak kontraksi, maka Anda akan diberi pitocin atau obat untuk memperkuat kontraksinya.
Akan tetapi, jika kontraksi yang dialami sudah cukup kuat namun belum kunjung muncul tanda-tanda bayi akan keluar, maka dokter akan melakukan intervensi dengan operasi caesar sebagai jalan terbaik.
Apa yang Terjadi Jika Persalinan Berjalan Terlalu Lambat?
Nah Moms, persalinan yang lama memang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang membutuhkan operasi caesar. Waktu persalinan yang lama bisa berbahaya bagi bayi, seperti:
- Kadar oksigen pada bayi menurun
- Detak jantung bayi jadi abnormal
- Zat abnormal dalam cairan ketuban
- Infeksi rahim
Jika sudah mengalami kondisi ini dan bayi mulai susah untuk keluar, maka dokter akan melakukan persalinan darurat.
