Kumparan Logo

Psikolog Sebut Kamar Tidur Anak Sebaiknya Tenang dan Bebas Distraksi

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Kamar anak sering kali dianggap hanya sebagai tempat tidur dan menyimpan barang-barang mereka. Padahal, cara ruang itu ditata memiliki pengaruh besar pada kenyamanan, fokus belajar, hingga perkembangan emosional anak.

Dengan penataan yang tepat, kamar dapat menjadi ruang yang membuat anak merasa aman, tenang, dan bebas mengekspresikan diri. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bagaimana menciptakan kamar yang tidak hanya rapi, tetapi juga memiliki struktur yang jelas sesuai dengan kebutuhan anak.

Menurut Psikolog Anak, Fabiola Priscilla, M.Psi, kamar anak idealnya tidak dipenuhi terlalu banyak distraksi. Ruang yang lebih sederhana justru membantu anak merasa tenang.

Ilustrasi kamar anak. Foto: hkeita/Shutterstock

“Ternyata, kalau kita punya kamar tidur anak tuh yang ada zona, beberapa zona gitu ya, itu bagus banget untuk tumbuh kembang anak,” ungkap Fabiola dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11).

Pentingnya Pembagian Zona dalam Kamar Anak

-Pertama adalah zona tidur

Ilustrasi anak merapikan kasur. Foto: Odua Images/Shutterstock

Zona ini sebaiknya bersifat tenang dan bebas dari stimulus berlebihan. Tujuannya agar anak memahami bahwa area tersebut adalah tempat untuk beristirahat.

“Kalau zona tidur harus apa sih? Tenang, bebas distraksi ya,” ucapnya.

-Kedua adalah zona belajar

Ilustrasi anak belajar. Foto: Shutter Stock

Di area ini, penting untuk memastikan anak memiliki meja belajar yang ergonomis agar nyaman saat duduk dan menulis. Sebab orang tua tentu ingin anak nyaman dan fokus dalam belajar.

Selain itu, pencahayaan yang baik juga berperan besar, sehingga orang tua perlu memastikan lampu di area ini cukup terang. Kemudian, alat tulis dan perlengkapan belajar perlu disimpan dengan rapi agar si kecil mudah mencarinya dan belajar bertanggung jawab.

-Ketiga adalah zona bermain

Seorang anak bermain menyusun balok kayu. Foto: siro46/Shutterstock

Ini menjadi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri. Di zona ini dapat disediakan mainan edukatif yang mendorong kreativitas dan kemampuan motorik.

“Harus menyenangkan gitu ya. Ada mainan edukasinya. Jadi anak-anak ini bisa merasakan bebas. Punya ruang bebas untuk bergerak,” ujar Fabiola.

Pembagian zona ini bukan hanya soal estetika, tetapi berdampak langsung pada emosi dan perkembangan kognitif anak. Dengan struktur ruang yang jelas, anak merasa aman karena ia tahu di mana harus tidur, belajar, dan bermain. Lingkungan seperti ini mendukung anak untuk lebih tenang, fokus, dan nyaman berada di ruangnya sendiri.

“Kalau kita punya ruang zona-zona seperti ini, bisa banget membuat anak tidurnya nyaman, aman. Dan ini pastinya bisa mendukung tumbuh kembang emosional dan kognitif anak,” tutupnya.

kumparan post embed