Real Mom Story: Kami Sekeluarga Kena Corona

Virus corona bisa menyerang siapa saja dan di mana saja tanpa kita sadari. Penularannya yang sangat cepat, membuat kita semua harus selalu waspada. Ya Moms, ada satu keluarga di Makassar, Sulawesi Selatan, yang seluruh anggotanya terinfeksi virus corona.
Kepada kumparanMOM, sang ibu, Christine A. Rovani, yang berprofesi sebagai dokter gigi ini menceritakan kisahnya hingga akhirnya bisa sembuh. Ia menjelaskan bahwa di rumah, ia tinggal bersama 3 orang anak, ibu dan ayah kandungnya, dan 2 asisten rumah tangga (ART). Di antara personil yang tinggal di rumah, dirinya, 2 orang anaknya, ibu kandungnya dan satu ART dinyatakan terinfeksi COVID-19. Itu artinya dari 8 orang yang tinggal di rumah, 5 orang terkena virus corona.
Berawal dari ketika akhir April lalu, salah satu ART-nya yang sering membantunya untuk mengurus anak tiba-tiba sakit dengan gejala yang mirip COVID-19 dan ia meminta pulang ke kampung halamannya di Gowa, Sulawesi Selatan. Mengetahui hal itu, wanita yang akrab disapa Ethie ini akhrinya mengizinkan ART-nya pulang kampung sementara. Setelah ART-nya pulang, Ethie pun merasa was-was sebab ART tersebut sering tidur dan menghabiskan waktu dengan anak-anak.
"Karena saya kepikiran, jadi daya tahan tubuh saya menurun secara tidak sadar. Setelah kejadian itu, saya masih pergi beberapa kali ke supermarket untuk membeli kebutuhan rumah untuk 2 minggu ke depan. Lalu, pada 12 Mei, tiba-tiba saya merasakan sakit seperti hidung tersumbat dan saya mengalami anosmia yang menyebabkan indra penciuman saya hilang total. Di situlah saya mulai khawatir," kata Ethie ketika dihubungi oleh kumparanMOM, Senin (9/6).
Curiga dengan kondisinya, wanita yang juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (Unhas) , Makassar ini melakukan rapid test bersama dengan ART yang dicurigainya terpapar virus corona. Hasilnya rapid test Ethie menunjukkan non-reaktif, sementara ART-nya menunjukkan reaktif.
Semakin khawatir, ia memutuskan untuk melakukan swab test yang dibantu oleh rekan dokternya di Unhas pada 15 Mei lalu. Setelah menunggu beberapa hari, Ethie pun dinyatakan positif COVID-19. Tak lama berselang, seluruh keluarganya termasuk salah satu ART-ya melakukan swab test.
"Setelah hasilnya keluar itu, ibu saya (70 tahun), anak kedua saya (7), dan anak ketiga (3), dan salah satu ART saya positif virus corona. Tapi anehnya, ART sakit dan saya kira menjadi carrier, ternyata negatif. Dia kasih tahu saya ketika dia melakukan swab test di kampung halamannya. Justru yang positif itu ART saya yang tidak bergejala. Selain dia, anak-anak saya dan ibu saya pun tanpa gejala, tidak seperti saya," paparnya.
Setelah dia dan anggota keluarganya yang lain dinyatakan positif corona, Ethie pun memutuskan untuk membawa mereka ke rumah sakit untuk dirawat. Apalagi ibunya yang sudah lansia tersebut memiliki penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi. Ia pun tidak ingin mengambil risiko dengan hanya mengisolasi diri di rumah.
"Setelah ketahuan positif hasilnya pada hari Selasa (19/5) itu, kita memutuskan untuk mengisolasi di rumah sakit. Kebetulan adik saya membantu melapor kalau ada keluarga yang positif 5 orang akhirnya kami dijemput oleh ambulans sesuai protokol penjemputan pasien COVID-19. Kami dirawat selama 12 hari hingga tanggal 31 Mei kami diperbolehkan pulang oleh dokter karena hasil swab test sudah negatif dua kali. Selanjutnya kami mengisolasi diri di rumah selama 14 hari," ujarnya.
Ethie pun bercerita, selama di rumah sakit, seluruh keluarganya mendapatkan perawatan yang sama dengan pasien COVID-19 lainnya. Meskipun selain Ethie, anggota keluarga lainnya adalah Orang Tanpa Gejala (OTG). Mereka diberikan antibiotik, antivirus, dan multivitamin, tanpa diinfus. Bahkan anak-anaknya yang juga OTG, diberikan pengobatan yang sama.
"Setelah kami pulang, dokter cuma bilang selama 14 hari harus isolasi di rumah dan sebisa mungkin tidak berkontak dengan orang-orang di rumah yang negatif, juga harus selalu pakai masker. Untungnya untuk anak-anak kalau mereka sudah di swab test 2 kali dan hasilnya negatif berarti sudah bersih dari corona," kata Ethie.
Ketika ditanyakan bagaimana ia bisa tertular padahal hanya keluar beberapa kali dan sebagian besar menghabiskan waktu di rumah, wanita berumur 39 tahun itu pun merasa bingung. Ia merasa selama keluar rumah pun, ia tetap menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak, dan selalu mencuci tangan.
"Saya rasa, mungkin saya tertular waktu sedang berbelanja di supermarket dan kondisi ramai. Meski begitu, saya tidak berkontak dengan orang lain, saya melakukan protokol kesehatan yang disarankan tetap saja bisa tertular. Saya juga tidak pakai kacamata atau face shield saat itu. Kemungkinan ada orang berbicara lalu tidak sengaja terkena. Ditambah kondisi saya tidak terlalu sehat waktu itu dan stres," jelasnya.
Belajar dari kisahnya, Ethie menyarankan agar masyarakat lebih peduli dan tidak menganggap enteng virus tersebut. Sebab, orang bisa tertular kapan saja dan di mana saja tanpa pandang bulu.
"Padahal saya tetap di rumah, menjaga jarak, mencuci tangan, pakai masker, mengkonsumsi makanan sehat, berjemur, rajin berolahraga tapi tetap saja kena kan. Harus selalu sehat, selalu aman, dan jangan stres itu aja pesan dari saya," tutupnya.
