Kumparan Logo

Risiko Kesehatan Anak Menstruasi Pertama Sebelum 10 Tahun atau Di Atas 15 Tahun

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak praremaja menjaga kebersihan tubuh. Foto: Andrey Sayfutdinov/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak praremaja menjaga kebersihan tubuh. Foto: Andrey Sayfutdinov/Shutterstock

Setiap anak perempuan memiliki waktu yang berbeda-beda ketika mendapati menstruasi pertama mereka. Anak perempuan umumnya akan mengalami haid pertamanya (menarche) pada rentang usia 10—15 tahun. Tetapi, ternyata anak-anak perempuan generasi sekarang mengalami sebuah fenomena di mana menstruasi pertamanya lebih cepat dari generasi sebelumnya.

Dikutip dari New York Post, usia rata-rata dimulainya menstruasi sedikit mengalami penurunan. Misalnya, dari sekitar usia 12,5 tahun pada tahun 1950-an dan 1960-an, menjadi 11,9 tahun pada anak-anak perempuan yang lahir antara tahun 2000 hingga 2025.

Penelitian menunjukkan sekitar 2 persen anak perempuan mulai mengalami menstruasi setelah usia 15 tahun. Bahkan, lebih sedikit yang mengalaminya sebelum usia 9 tahun.

Penelitian terbaru yang dilakukan di Brasil mengungkapkan risiko kesehatan yang bisa dialami anak ketika menstruasi lebih awal atau di bawah 10 tahun, atau terlambat yakni di atas 15 tahun.

“Kami sekarang memiliki bukti dari populasi besar Brasil yang mengonfirmasi bagaimana pubertas dini dan akhir dapat memiliki dampak kesehatan jangka panjang yang berbeda,” kata penulis studi Flávia Rezende Tinano dari Universitas Sao Paulo.

“Kebanyakan wanita dapat mengingat kapan mereka pertama kali mengalami menstruasi, tetapi mereka mungkin tidak menyadari bahwa hal itu dapat menjadi tanda risiko kesehatan di masa mendatang," kata penulis studi, Flávia Rezende Tinano, dari Sao Paulo University.

Bagaimana Hasil Studi tentang Dampak Kesehatan pada Anak yang Mengalami Menstruasi Dini atau Telat Menstruasi?

Ilustrasi Periode siklus menstruasi. Foto: WindNight/shutterstock

Dalam studinya, Tinano dan timnya menganalisis data lebih dari 7.600 wanita berusia 35-74 tahun. Para wanita ini dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan usia menstruasi pertama mereka: Kategori dini (di bawah 10 tahun), tipikal (10-15 tahun), atau terlambat (di atas 15 tahun). Kesehatan peserta pun dipantau melalui wawancara, pengukuran fisik, tes laboratorium, hingga pemeriksaan ultrasonografi.

Para peneliti menentukan wanita yang mulai menstruasi sebelum usia 10 tahun lebih mungkin mengalami obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes, masalah jantung, dan masalah reproduksi seperti preeklamsia seiring berjalannya waktu.

Sementara wanita yang menstruasi pertamanya terjadi setelah usia 15 tahun cenderung tidak mengalami obesitas, tetapi lebih mungkin mengalami menstruasi tidak teratur dan memiliki kondisi jantung tertentu.

“Memahami penemuan ini diharapkan dapat membantu perempuan dan dokter mereka lebih proaktif dalam mencegah kondisi seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung,” kata Tinano.

Beberapa penelitian sebelumnya juga pernah menyinggung hubungan antara menstruasi pertama yang terlambat dan meningkatnya risiko osteoporosis, patah tulang, dan penyakit Alzheimer.

Selain itu, menstruasi pertama yang lebih lambat juga artinya remaja perempuan mengalami penundaan paparan hormon estrogen, atau hormon utama yang melindungi dan membangun kepadatan tulang. Di sisi lain, menstruasi yang mulai lebih awal berarti paparan seumur hidup yang lebih tinggi terhadap hormon estrogen, yang merangsang pertumbuhan dan perkembangan jaringan payudara dan dapat menciptakan ketidakseimbangan hormon.

Sampai saat ini, peneliti masih terus mendalami mengapa anak perempuan saat ini cenderung mengalami pubertas lebih awal dari generasi-generasi sebelumnya. Tetapi, beberapa penelitian mengungkapkan penyebabnya karena angka obesitas pada anak yang meningkat, paparan yang lebih tinggi terhadap zat kimia pengganggu endokrin, hingga tingkat stres yang tinggi.