Rupiah Anjlok dan Emas Meroket, Apa yang Ibu Perlu Ketahui?

20 April 2024 16:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Rupiah Anjlok dan Emas Meroket, Apa yang Ibu Perlu Ketahui? Foto: fizkes/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Rupiah Anjlok dan Emas Meroket, Apa yang Ibu Perlu Ketahui? Foto: fizkes/Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Konflik dunia yang sedang panas antara Iran dan Israel menyebabkan rupiah anjlok. Dolar Amerika Serikat (USD) terus mengalami penguatan terhadap rupiah, dengan nilai tukar dolar AS menembus hingga Rp 16.200.
ADVERTISEMENT
Imbas dari rupiah anjlok ini dapat memengaruhi beberapa sektor, termasuk kebutuhan pokok. Apalagi, ibu sebagai pengelola keuangan keluarga harus siap memutar otak agar bisa mempersiapkan diri atas segala situasi terburuk yang mungkin terjadi.
Meski hingga kini kenaikan harga-harga bahan pokok belum terlihat signifikan, tetapi tidak ada salahnya Anda untuk melakukan antisipasi. Sebab, tidak dapat dipungkiri, ketika rupiah anjlok yang berimbas pada harga-harga bahan pokok naik, uang yang dimiliki menjadi tidak cukup untuk membeli barang atau bahan makanan yang biasa dibeli.
Di sisi lain, uang belanja juga tidak bertambah karena belum ada tambahan penghasilan. Sehingga, menambah jatah uang belanja seringkali tidak bisa dilakukan dalam waktu yang dekat.
Lantas, strategi apa yang bisa dilakukan para ibu agar bisa tetap hemat di tengah rupiah yang tengah anjlok? Simak penjelasan dari financial planner, Bareyn Mochaddin, di bawah ini!
ADVERTISEMENT

Strategi Tetap Hemat di Tengah Rupiah Anjlok

Ilustrasi mengatur keuangan bersama pasangan. Foto: Shutterstock
Tetap hemat di tengah naiknya harga bahan-bahan pokok bukanlah angin belaka. Meski kini mungkin uang bulanan Anda tidak mengalami penambahan, sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar pengeluaran tetap bisa terkendali.
"Pertama, buat rencana bulanan dengan batasan harian. Artinya, kita perlu membuat sebuah rencana belanja bulanan dengan membuat batasan pengeluaran harian," kata Bareyn kepada kumparanMOM.
Bareyn mencontohkan ketika uang bulanan Anda untuk makanan adalah Rp 3 juta. Dari Rp 3 juta itu, dibagi per hari untuk makan adalah Rp 100 ribu per hari. Dari nominal itulah Anda menentukan mau masak dan belanja apa saja.
Menurutnya, dengan cara sederhana ini, Anda akan lebih mudah dalam menentukan bahan-bahan yang dibeli, serta menghindari belanja secara berlebihan.
ADVERTISEMENT
"Kedua, lihat catatan dan minimalisir yang tidak perlu. Disadari atau tidak, banyak pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya kecil, sering, dan tidak diperlukan. Pengeluaran seperti inilah yang membuat uang bulanan tidak cukup," tegas dia.
Maka dari itu, Bareyn menyarankan agar Anda rutin mencatat setiap pengeluaran yang dilakukan. Kemudian, lakukan evaluasi atas pengeluaran-pengeluaran yang telah dilakukan. Jika sebenarnya ada pengeluaran yang tidak dibutuhkan, maka tidak perlu diulangi di bulan depan.
Dan yang ketiga adalah mencari alternatif barang dan tempat belanja. Ya Moms, mungkin beberapa ibu ada yang telah memiliki tempat belanja favoritnya sendiri dengan berbagai alasan: lokasi dekat rumah, harga barangnya lebih terjangkau, dan lainnya.
Namun, terkadang tidak jarang barang dan bahan makanan yang sama di tempat lain bisa lebih menguntungkan bagi Anda.
ADVERTISEMENT
"Jika masih ingin lebih hemat lagi, kita bisa mencari alternatif barang atau bahan makanan. Entah dengan mengganti mereknya atau mengganti jenisnya. Misalnya, biasa pakai beras merek A, maka sekarang ubah jadi merek B," jelas Bareyn.
Atau upaya penghematan juga bisa dilakukan dengan mengganti jenis makanan. Contohnya, bila Anda terbiasa menu protein dalam makanan diisi dengan ayam dan daging, maka bisa dikurangi porsi daging-dagingan dan diganti dengan tempe, tahu, atau telur yang lebih terjangkau namun memiliki manfaat yang sama.

Ibu Berinvestasi dengan Emas, Jual atau Tahan?

Ilustrasi investasi emas. Foto: Shutter Stock
Eits, enggak hanya bicara soal kebutuhan pokok saja. Imbas dari konflik di Timur Tengah juga menyebabkan harga emas terus melejit. Bahkan, per Sabtu (20/4) pagi, harga emas telah menyentuh Rp 1.347.000 per gramnya.
ADVERTISEMENT
Bagi Anda yang punya investasi emas mungkin jadi galau, mending disimpan atau dijual, ya? Apalagi melihat harga jual (buyback) emas bikin beberapa orang jadi tergiur untuk menjualnya.
Tetapi, sebelum memutuskan menjual atau menahan emas, Anda bisa memperhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Tujuan Membeli Emas
Ya Moms, menurut Bareyn, jika tujuan awal berinvestasi adalah untuk biaya-biaya seperti pendidikan dan sejenisnya dalam jangka panjang, maka itu bukanlah kebutuhan saat ini. Bisa jadi itu untuk dua atau tiga tahun lagi.
"Jadi akan lebih baik ditahan dulu aja sampai saatnya tiba. Selanjutnya, jika tujuannya mencari keuntungan dari jual beli logam mulia, coba pertimbangkan dulu situasi dan kondisi pada saat ini. Sebagai orang yang mencari keuntungan, Kita harus peka dengan kemungkinan naiknya harga emas dalam waktu dekat," jelas Bareyn.
ADVERTISEMENT
2. Dijual, Uangnya untuk Apa?
Bila Anda berencana untuk menjual emas, perlu ditetapkan dulu uang hasil penjualanannya diperuntukkan untuk apa.
"Jangan sampai, uang hasil penjualan logam mulia justru jadi 'uang nganggur' yang habis begitu saja karena terpakai untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan," ungkap dia.
3. Tidak Perlu FOMO
Dan terakhir, tidak perlu terburu-buru menjual emas. Sebab, secara historis, harga logam mulia cenderung akan selalu naik seiring berjalannya waktu.
"Sehingga, tidak perlu FOMO untuk kehilangan momentum kenaikan harga emas pada saat ini. Juallah logam mulia jika memang ada kebutuhannya, bukan hanya karena tren saja," tutup Bareyn.