news-card-video
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45

Sekolah yang Aman dan Tanpa Bullying, Mungkinkah Bisa Tercipta?

18 Maret 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anak korban bullying. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak korban bullying. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Bullying atau perundungan merupakan salah satu dari tiga dosa besar di dunia pendidikan, selain kekerasan seksual dan intoleran. Padahal, sekolah yang aman dan inklusif mendukung terwujudnya pendidikan berkualitas. Sayangnya, fenomena bullying di lingkungan pendidikan di Indonesia masih menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, Moms.
ADVERTISEMENT
Menurut laporan Jaringan Pemantau Pendidikan di Indonesia (JPPI), tercatat kasus kekerasan di lembaga pendidikan dasar hingga menengah mengalami peningkatan yang signifikan selama tahun 2024. JPPI melaporkan sebanyak 573 kasus kekerasan terjadi, di mana 31 persen kasusnya berkaitan dengan bullying. Angka 573 kasus kekerasan ini bahkan meningkat 100 persen dibandingkan 2023.
Tidak sampai disitu, hasil Survei Global Keterampilan Sosial dan Emosional (SES) oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2023 di Kudus menemukan 17% siswa di Kudus masih mengalami perundungan fisik tetapi hanya 1% dari siswa tersebut bersekolah di mana kepala sekolah menyadari adanya kasus perundungan terjadi di sekolahnya.
Survei tersebut melaporkan siswa yang terlibat dalam bullying cenderung memiliki tingkat keterampilan sosial-emosional yang lebih rendah. Namun, yang membedakan adalah korban bullying memiliki empati yang lebih tinggi daripada pelakunya.
ADVERTISEMENT

Mengapa Kasus Bullying di Sekolah Masih Kerap Terjadi?

Menurut psikolog klinis anak dan remaja, Anastasia Satriyo, masih terjadinya kasus bullying di Indonesia disebabkan oleh budaya tentang hierarki kekuasaan itu sangat tinggi. Hal ini dapat berlaku juga pada hubungan orang tua dan anak di rumah.
"Misalnya, di rumah orang tua harus diikuti sangat patuh, dan anak ditekan untuk memahami orang tua tanpa boleh bertanya. Itu juga kalau dilakukan terus-menerus membuat anak merasa di-bully, walaupun mungkin buat orang tua mendisiplinkan. Jadi, beda perspektif, kan?," ucap psikolog yang akrab disapa Anas itu.
Selain itu, kasus bullying khususnya yang terjadi di lingkungan pendidikan dasar dan menengah terjadi karena mereka belum sepenuhnya paham tentang bedanya bercanda dan merundung terhadap teman-temannya. Anas memberikan contoh, nama anak atau orang tua yang kerap dipelesetkan menjadi nama hewan dan sejenisnya. Bagi anak yang mengucapkannya mengaku hanya bercanda, tetapi dianggap teman lainnya itu sudah menyinggung.
ADVERTISEMENT
Selain itu, masih terjadinya relasi kuasa di tingkat sekolah di mana beberapa guru menganggap posisi mereka superior, dan anak-anak muridnya tidak mengetahui apa-apa. Hal-hal ini, secara tidak langsung, dapat membuat anak jadi stres.
"Apalagi sistem sekolah, sistem kurikulum pembelajaran dengan jam sekolah yang sekarang sekolah, sampai sore banget, tugas sekolah yang banyak, itu sebenarnya sudah bikin anak stres otaknya," ungkap Anas.
Yang tidak kalah penting, Anas turut menyoroti peran orang tua yang minim berinteraksi dan menuntut banyak hal dari anak-anaknya. Ketika anak dianggap tidak berhasil memenuhi ekspektasi orang tuanya, misalnya dalam akademis, anak akan mendapat kekerasan. Pengalaman mendapat kekerasan dari orang tua ini kerap dianggap sebagai salah satu pemicu anak ingin melakukan hal serupa terhadap teman-temannya yang dianggap lemah.
ADVERTISEMENT
"Akibatnya anak di sekolah jadi pem-bully kepada teman-temannya, karena di rumah mendapatkan tekanan. Nah, itu salah satu contoh nyata bagaimana tidak sehatnya bila orang tua hanya menuntut anak berprestasi, tapi tidak mengembangkan keterampilan sosial emosi. Di masa dewasanya akan mempengaruhi kemampuan anak untuk beradaptasi sosial," jelas Anas yang juga dosen Bimbingan dan Konseling Bentara Campus itu.

Bagaimana Menciptakan Lingkungan Sekolah Tanpa Bullying?

Ajarkan anak untuk tidak tinggal diam dan berani mempertahankan kebenaran Foto: Shutterstock
Fenomena bullying yang masih terjadi di lingkungan sekolah menjadi alarm serius yang menggambarkan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif belum sepenuhnya terwujud. Anas menjelaskan, salah satu penyebab terjadinya bullying adalah masih kurangnya implementasi keterampilan sosial-emosional dalam kehidupan sehari-hari.
Meski begitu, Anas menegaskan komitmen memberantas bullying di lembaga pendidikan tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menciptakan lingkungan sekolah tanpa bullying:
ADVERTISEMENT
Ilustrasi ibu mengelola stres bersama anak. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
1. Mengedukasi Diri tentang Pengelolaan Sosial-Emosional Anak
Kenapa ini penting? Terjadinya bullying disebabkan oleh masih rendahnya keterampilan sosial-emosional anak, baik di rumah maupun sekolah. Menurut Anas, otak anak-anak usia praremaja dan remaja memiliki daya tahan stres yang masih terbatas. Di usia ini juga, mereka sedang berada dalam pencarian jati diri, yang ingin berusaha mengenal siapa dirinya, sehingga kerap menghadapi emosi yang membingungkan.
Yang harus dilakukan: Orang tua maupun guru perlu berlatih tentang kesehatan mental, mengelola emosi dan stres diri sendiri, lalu barulah mengajarkannya kepada anak-anak. Tidak kalah penting, penting untuk mengedukasi diri tentang hal-hal apa saja yang membuat anak stres. Anak pun perlu diajarkan tentang keterampilan mengelola konflik dan resolusi konflik untuk bisa berdiskusi, bernegosiasi, dan berdialog.
Ilustrasi keluarga. Foto: shisu_ka/Shutterstock
2. Merefleksikan Kembali Sistem Keluarga dan Sekolah
ADVERTISEMENT
Kenapa ini penting? Masih adanya relasi kuasa di rumah maupun sekolah berdampak pada anak yang pada akhirnya akan merasa stres karena dirinya ditekan. Selain itu, anak memperhatikan posisi 'jabatan' orang tuanya, di mana mereka melihat mereka bisa melakukan apa pun karena punya kekuasaan. Hal ini kemudian di-copy paste di sekolah.
Yang harus dilakukan: Orang tua mungkin tidak menyadari sikap dan tindakannya yang ingin selalu dihormati oleh anak-anak, sehingga akhirnya memicu konflik dengan anak. Makanya, jadikan momen ini untuk refleksi diri, apakah kita sebagai orang tua sudah mencontohkan relasi yang sehat kepada anak-anaknya, atau apakah sudah memanusiakan orang lain. Ini bisa dimulai dengan rutinitas sehari-hari yang dekat dengan keluarga, misalnya, mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama untuk menciptakan bonding. Dalam mengerjakan pekerjaan domestik itu disarankan tidak membedakan gender anak. Apa pun gendernya, baik anak laki-laki atau perempuan harus mampu melakukan semua pekerjaan, yang juga sejalan dengan hasil temuan SES yang dirilis OECD.
Ilustrasi anak belajar di sekolah Foto: Shutterstock
3. Mengevaluasi Sistem Belajar di Sekolah
ADVERTISEMENT
Kenapa ini penting? Sistem belajar, jam sekolah, dan tugas-tugas yang terlalu banyak rentan membuat anak stres. Padahal, kapasitas mengelola stres anak praremaja dan remaja belum sebagus orang dewasa. Ketika anak merasa banyak tekanan dari lingkungan di sekitarnya, mereka bisa mengalami masalah fisik, mental, akademik, hingga penurunan kualitas hidup.
Yang harus dilakukan: Pihak sekolah dapat mengevaluasi kembali, apakah sistem belajar di sekolah saat ini masih wajar atau tidak untuk kesehatan mental anak. Apakah kurikulum sekolah telah mempertimbangkan perkembangan anak, baik dari aspek fisik, kognitif, bahasa, maupun sosial-emosional. Sehingga, penting adanya perencanaan yang terstruktur dan sistematis, seperti menentukan landasan kurikulum, tujuan dan isi kurikulum yang relevan, metode pengajaran yang dilakukan guru, hingga proses evaluasinya. Sekolah juga diharapkan mampu memberikan kesempatan kepada anak untuk menampilkan kemampuannya, serta mendukung minat dan bakatnya, sehingga ia akan merasa kebutuhannya telah terpenuhi.
ADVERTISEMENT
Guru-guru pun perlu diberi informasi yang tepat terkait tatalaksana jika terjadi kasus bullying pada murid-muridnya.
4. Kesejahteraan Guru
Ilustrasi Guru di Sekolah. Foto: Reezky Pradata/Shutterstock
Kenapa ini penting? Kesejahteraan guru sebagai 'orang tua' anak kita di sekolah terkadang masih luput dari perhatian. Anas menyebut guru yang belum sejahtera secara fisik, mental, dan emosional, maka cenderung sulit menciptakan situasi yang kondusif dalam proses belajar-mengajar. Selain mengajar, guru-guru pun masih disibukkan dengan persoalan administrasi yang semakin menambah beban pekerjaan mereka.
Yang harus dilakukan: Pemerintah perlu lebih memperhatikan kesejahteraan guru, mulai dari gaji yang pantas hingga dipertimbangkan kembali sistem administrasi yang selama ini memberatkan tugas mereka untuk mengajar.