Kumparan Logo

Sering Kena Mom Shaming, Vicky Shu Turunkan Berat Badan 10 Kg dalam 8 Minggu!

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perjalanan transformasi Vicky Shu bersama Halofit by Halodoc. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Perjalanan transformasi Vicky Shu bersama Halofit by Halodoc. Foto: Dok. Pribadi

Gaya hidup modern yang serba cepat, kurangnya aktivitas fisik, serta tingginya tingkat stres telah mengubah cara masyarakat menjaga kesehatannya. Tuntutan kesibukan sehari-hari sering kali berujung pada pola makan yang tidak teratur, membuat banyak orang kesulitan mempertahankan berat badan ideal. Bagi perempuan, tantangan ini semakin berat dengan adanya perubahan hormon dan metabolisme, khususnya pada fase pascamelahirkan.

Sayangnya, lonjakan berat badan kerap dipandang semata-mata sebagai akibat dari kurangnya kedisiplinan menjaga pola gaya hidup, padahal terdapat faktor genetik, hormonal, dan metabolik yang kompleks di baliknya. Stigma ini sering kali memicu tekanan mental dan mendorong banyak orang mengambil jalan pintas melalui diet ekstrem yang berbahaya.

Tekanan sosial dan perjuangan mengelola berat badan ini juga dialami oleh salah satu figur publik, Vicky Shu. Pasca melahirkan anak keduanya, Vicky menghadapi tantangan berat badan yang signifikan. Di tengah upayanya beradaptasi dan kembali beraktivitas, ia justru menjadi sasaran body shaming dan mom shaming di media sosial.

Perjalanan transformasi Vicky Shu bersama Halofit by Halodoc. Foto: Dok. Pribadi

Di tengah perjalanannya untuk terus bersemangat di tengah tekanan sosial, Vicky Shu tetap memprioritaskan kesehatannya. Publik sempat menduga ia menjalani operasi potong lambung, karena transformasinya yang terbilang cepat dan berhasil. Padahal Vicky Shu mengikuti program weight management bersama Halofit by Halodoc telah berjalan selama delapan minggu , di bawah pengawasan medis dan sains yang ketat serta dukungan teknologi.

Selain itu Vicky juga menerapkan pola hidup sehat dengan aktif berjalan kaki setiap hari, dan menata ulang pola konsumsi sehari-hari.

“Aku memilih program Halofit karena aku ingin investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik dan mentalku, bukan semata karena ingin menurunkan berat badan saja. Melalui program ini, aku mendapatkan pengawasan dari tim dokter selama 30 hari, diberikan meal plan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhku, dan mendapat terapi GLP-1, jadi nafsu makan aku lebih terkontrol dan nggak lagi lapar mata. Apalagi Halofit ini bisa diakses secara online juga ya, jadi memudahkan aku yang sehari-hari sudah padat bekerja dan mengurus keluarga. Perjalanan transformasi ini ngajarin aku bahwa kita nggak harus memenuhi standar kecantikan orang lain, karena tujuan sebenarnya bukan hanya menurunkan berat badan saja, tapi justru memiliki tubuh yang sehat, dan akhirnya pun dapat berdampak pada mental yang sehat”, ulas Vicky Shu.

Perjalanan transformasi Vicky Shu bersama Halofit by Halodoc. Foto: Dok. Pribadi

Apa yang dialami Vicky Shu mencerminkan realita yang lebih luas. Kelebihan berat badan dan obesitas kerap dipandang semata sebagai persoalan gaya hidup, padahal, bagi banyak orang, kondisi ini dipengaruhi oleh faktor yang jauh lebih kompleks dan sebaiknya ditangani bersama ahlinya.

Itulah mengapa solusi yang efektif perlu menyesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing individu, bukan program generik yang berlaku sama untuk semua orang secara instan. Halofit by Halodoc hadir sebagai klinik digital untuk manajemen berat badan dengan pendekatan medis yang dipersonalisasi.

Halofit by Halodoc : Solusi Manajemen Berat Badan di Tengah Krisis

Obesitas Kehadiran Halofit bukan tanpa dasar, akan tetapi untuk menjawab persoalan obesitas di Indonesia. Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan hingga akhir 2025, satu dari tiga orang Indonesia mengalami obesitas sentral, yakni penumpukan lemak di area perut yang berbahaya bagi kesehatan metabolik1. Kondisi meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

Perjalanan transformasi Vicky Shu bersama Halofit by Halodoc. Foto: Dok. Pribadi

Hal yang mengejutkan lainnya, studi Awareness, Care and Treatment in Obesity Management (ACTION) APAC yang dilakukan Novo Nordisk bersama para peneliti di sembilan negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, pada 2022 menemukan bahwa hanya 43% individu dengan obesitas yang pernah mendiskusikan berat badannya dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir2. Inilah kesenjangan yang ingin dijembatani Halofit, yakni supaya lebih banyak masyarakat yang mendapatkan pendampingan medis yang tepat dalam mengelola berat badannya, dan tidak mencoba diet secara tidak aman.

Ignasius Hasim, VP Consultation & Diagnostics Halodoc, mengatakan, “Bagi Halodoc, mengatasi obesitas bukan sekadar menurunkan angka di timbangan, tetapi membantu masyarakat membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan. Data Halodoc tahun 2024 menunjukkan, sebelum Halofit diluncurkan, sekitar 75% pasien nutrisionis Halodoc telah mencari dukungan untuk manajemen berat badan, namun sebagian besar masih berfokus pada pengaturan pola makan dan edukasi gaya hidup. Maka dari itu, melalui Halofit kami menghadirkan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan menggabungkan edukasi,