Kumparan Logo

Setop Buka Aib Anak Saat Lebaran: Niatnya Bercanda, tapi Bisa Rusak Mental

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi silaturahmi bersama keluarga atau orang tua di hari Lebaran atau Idul Fitri. Foto: Odua Images/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi silaturahmi bersama keluarga atau orang tua di hari Lebaran atau Idul Fitri. Foto: Odua Images/Shutterstock

Lebaran selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu. Selain jadi waktu untuk saling memaafkan, lebaran juga identik dengan kumpul keluarga besar yang hangat dan penuh cerita.

Tapi, Moms, tanpa disadari, di tengah obrolan santai itu, kadang kita—orang tua—justru “kebablasan” membahas hal-hal yang bisa menyakiti hati anak. Niatnya mungkin hanya ingin mencairkan suasana.

Menceritakan tingkah lucu anak, atau bahkan kejadian memalukan yang dianggap sepele. Namun, bagi anak, momen itu bisa terasa sangat berbeda.

Lebaran dan Kebiasaan Basa-basi yang Perlu Diperhatikan

Saat lebaran, obrolan ringan memang jadi “jembatan” agar suasana tidak canggung. Sayangnya, salah satu topik yang sering muncul adalah cerita tentang anak—mulai dari tingkah lucu sampai hal yang memalukan.

Padahal, tidak semua cerita tentang anak layak dijadikan bahan obrolan, apalagi di depan banyak orang. Yang bagi orang dewasa terasa lucu, bisa jadi justru membuat anak merasa tidak nyaman.

Anak juga punya rasa malu. Mereka punya batasan yang mungkin belum bisa mereka ungkapkan dengan jelas.

Dampak yang Bisa Dirasakan Anak

ilustrasi anak berbuat salah Foto: Shutterstock

Sekilas, membuka cerita masa lalu atau kekonyolan anak memang terlihat tidak berbahaya. Tapi jika dilakukan terus-menerus, apalagi di depan banyak orang, dampaknya bisa cukup dalam.

Mengutip jurnal yang dipublikasikan di PubMed Central, gaya pengasuhan orang tua dapat memprediksi munculnya rasa malu dan rasa bersalah pada anak di kemudian hari.

Beberapa hal yang mungkin dirasakan anak antara lain:

  • Anak jadi minder dan kurang percaya diri

  • Merasa gagal atau tidak cukup baik di mata keluarga

  • Merasa tidak dihargai, apalagi jika sudah lebih besar

  • Menganggap dirinya hanya sebagai “bahan lelucon”

  • Suasana lebaran yang harusnya hangat justru terasa canggung

Hal-hal ini mungkin tidak langsung terlihat. Tapi perlahan bisa memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.

Lebaran Tetap Hangat Tanpa Harus Buka Aib

Ilustrasi Lebaran atau Idul Fitri bersama keluarga dengan baju kembaran. Foto: Odua Images/Shutterstock

Moms, mestinya suasana lebaran tetap bisa seru kok, tanpa harus mengorbankan perasaan anak.

Coba alihkan obrolan dengan hal-hal yang lebih positif, seperti:

  • Momen gemas anak yang bikin semua tersenyum

  • Pujian kecil yang membuat anak bangga pada dirinya

  • Cerita ringan yang tidak menyudutkan atau mempermalukan

Dengan begitu, anak tetap merasa aman dan dihargai, sekaligus ikut menikmati kebersamaan.

Lebaran Bukan Hanya Tentang Maaf ke Orang Lain

Sering kali kita begitu fokus untuk meminta maaf kepada orang lain saat lebaran, tapi lupa menjaga perasaan orang terdekat—termasuk anak sendiri.

Padahal, rasa aman dan dihargai di dalam keluarga adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang anak.

Jadi, sebelum berbagi cerita tentang si kecil di depan keluarga, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri:

“Apakah ini akan membuat anakku merasa nyaman atau justru sebaliknya?”

Lebaran seharusnya jadi momen penuh kehangatan—bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk anak-anak kita.