Kumparan Logo

Stella Christie: Mengajari Multibahasa Sejak Dini Bikin Anak Pintar!

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Ilustrasi anak cerdas dan ceria Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi anak cerdas dan ceria Foto: Shutterstock

Mengajari anak lebih dari satu bahasa sejak dini masih menjadi perdebatan di kalangan orang tua. Salah satu kekhawatiran yang kerap muncul adalah anggapan bahwa anak yang terpapar beberapa bahasa sekaligus dapat mengalami speech delay karena bingung membedakan bahasa yang dipelajarinya.

Namun, anggapan tersebut dibantah oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Prof. Stella Christie. Menurutnya, kemampuan anak mempelajari beberapa bahasa sekaligus justru merupakan sebuah "super power" yang perlu dimanfaatkan.

"Belajar multibahasa bisa dimulai sejak bayi. Bukti sains menunjukkan otak bayi bisa membedakan bahasa di seluruh dunia sejak lahir," ujar Stella.

Dalam sebuah video yang dibagikannya bertepatan dengan Hari Anak Nasional, Stella mengatakan kemampuan mempelajari banyak bahasa merupakan potensi yang dimiliki anak-anak Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari kekayaan bahasa yang dimiliki Indonesia.

"Anak Indonesia paling punya super power ini, kenapa? Karena Indonesia punya lebih dari 700 bahasa," kata Prof. Stella.

Belajar Banyak Bahasa Tidak Sebabkan Speech Delay

Ilustrasi anak yang tumbuh bahagia dan sejahtera Foto: Shutterstock

Prof. Stella menegaskan, anggapan bahwa belajar banyak bahasa dapat menyebabkan speech delay tidak sesuai dengan bukti sains yang ia sampaikan.

"Banyak orang percaya bahwa belajar multibahasa sekali itu akan membuat speech delay. Apa kata sains? Sama sekali tidak," ujarnya.

Ia juga menyebut terdapat penelitian mengenai kemampuan multibahasa dan fungsi kognitif yang dilakukan, antara lain, oleh Prof. Janet Worker, yang merupakan pembimbingnya ketika menjalani postdoctoral di University of British Columbia, serta koleganya, Prof. Fiorica Marian dari Northwestern University.

Menurut Stella, sejumlah penelitian tersebut menunjukkan adanya manfaat kognitif pada orang yang fasih menggunakan beberapa bahasa. Ia mengatakan, kemampuan multibahasa bahkan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih rendah mengalami alzheimer pada usia lanjut.

Indonesia Punya Potensi Besar untuk Multibahasa

Ilustrasi anak belajar di sekolah. Foto: MAYA LAB/Shutterstock

Menurut Stella, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman bahasa yang sangat tinggi. Ia menyebut Indonesia sebagai negara dengan bahasa yang sangat beragam dan memiliki jumlah penutur tribahasa yang tinggi.

"Indonesia adalah negara kedua yang bahasanya paling beragam di seluruh dunia, dan Indonesia adalah juara satu tribahasa," kata perempuan yang juga ibu satu anak ini.

Ia menjelaskan, istilah tersebut merujuk pada banyaknya orang Indonesia yang dapat berbicara menggunakan tiga bahasa sekaligus. Kondisi ini dinilainya sebagai potensi besar yang dapat dimanfaatkan dalam perkembangan kemampuan bahasa anak.

Tips Bagi Orang Tua untuk Melatih Kemampuan Multibahasa Anak

Prof. Stella memberikan cara sederhana yang dapat dilakukan orang tua dalam keseharian. Salah satunya dengan mengajak anak bercerita tentang kegiatan atau hal yang dipelajarinya di sekolah menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah.

"Mintakan anak-anak untuk setiap hari bercerita satu hal saja dari sekolahnya, dengan bahasa ibunya," ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut bukan hanya membantu anak menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerahnya, tetapi juga dapat menjadi cara bagi orang tua untuk mengetahui apakah anak benar-benar memahami pelajaran yang didapat di sekolah.

"Kalau si anak mampu menyampaikan yang dia pelajari dalam bahasa Indonesia, ke bahasa ibu atau bahasa daerah, itu kan berarti anaknya mengerti apa yang dia pelajari," jelasnya.

Bagi Prof. Stella, kemampuan menggunakan banyak bahasa merupakan potensi yang sudah dimiliki banyak anak Indonesia. Karena itu, orang tua dapat memberikan ruang bagi anak untuk menggunakan dan mengembangkan berbagai bahasa yang ada di lingkungan mereka.

"Jika punya banyak bahasa itu adalah super power, anak Indonesia adalah yang paling bisa memanfaatkan super power ini," tuturnya.