Kumparan Logo

Still Birth atau Bayi Meninggal di Dalam Kandungan, Apa Penyebabnya?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Still Birth atau Bayi Meninggal di Dalam Kandungan, Apa Penyebabnya? Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Still Birth atau Bayi Meninggal di Dalam Kandungan, Apa Penyebabnya? Foto: Shutterstock

Still birth atau intrauterine fetal death (IUFD) merupakan kondisi bayi meninggal dalam kandungan atau umumnya disebut lahir mati. IUFD terjadi saat usia kehamilan di atas 20 minggu.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, kematian janin di Amerika terjadi pada sekitar 1 dari 100 kehamilan. CDC juga menyebut, saat ini ada sekitar 24.000 kelahiran mati di Amerika Serikat.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap ada 2,6 juta bayi lahir mati secara global pada tahun 2015. Dari angka itu, ada lebih dari 7.178 kematian setiap harinya. Sebagian besar kasus berasal dari negara-negara berkembang.

WHO menyebut, 98% terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Sekitar setengah dari semua bayi lahir mati terjadi pada saat melahirkan yang merupakan periode dengan risiko terbesar.

Penyebab Umum Bayi Meninggal di Dalam Kandungan

- Cacat lahir bawaan

- Kelainan genetik

- Solusio plasenta dan kelainan plasenta lainnya

- Disfungsi plasenta menyebabkan terhambatnya pertumbuhan janin

- Komplikasi tali pusar

- Ruptur rahim

Sementara itu, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seorang perempuan mengalami insiden bayi meninggal di dalam kandungan. Beberapa faktor tersebut dapat dicegah, namun ada pula yang tidak bisa.

Ilustrasi ibu hamil. Foto: lunamarina/Shutterstock

Faktor Risiko Bayi Meninggal di Dalam Kandungan

1. Kesehatan Ibu

Kesehatan dan kesejahteraan orang tua secara umum adalah kunci. Orang tua yang sejahtera dan sehat memperbesar potensi kemampuan mereka mengandung anak hingga cukup bulan. Sebab hipertensi, diabetes, obesitas, lupus, penyakit ginjal, gangguan tiroid, autoimun, hingga trombofilia, menjadi beberapa kondisi yang berhubungan dengan bayi meninggal di dalam kandungan.

2. Genetik

Kelahiran mati juga berhubungan dengan genetik. Selain itu hambatan sosio-ekonomi yang menghalangi ibu untuk mengakses layanan perinatal juga bisa meningkatkan risiko bayi meninggal di dalam kandungan.

3. Usia

Usia ibu juga menjadi salah satu penyebab bayi meninggal di dalam kandungan. Perempuan di atas 35 tahun lebih mungkin mengalami bayi lahir mati tanpa sebab yang jelas dibandingkan wanita yang lebih muda.

4. Kehamilan Ganda

Mengandung bayi kembar juga ternyata meningkatkan risiko lahir mati.

5. KDRT

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat mempengaruhi ibu dari segi psikis maupun fisik. Namun, pada masyarakat miskin, tingginya angka pengangguran hingga masalah ekonomi lainnya dapat membuat risiko lahir mati lebih besar.

6. Riwayat Kehamilan

Satu kehamilan akan berhubungan dengan kehamilan selanjutnya. Masalah kehamilan seperti terhambatnya pertumbuhan janin dan kelahiran prematur meningkatkan risiko lahir mati pada kehamilan berikutnya.

Sementara itu, ibu yang pernah mengalami lahir mati sebelumnya, memiliki kemungkinan dua hingga 10 kali lebih besar untuk mengalami hal yang sama.