Kumparan Logo

Studi: 85-90% Ibu Melahirkan Pervaginam Mengalami Robekan Perineum

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi melahirkan. Foto: aslysun/Shuttterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi melahirkan. Foto: aslysun/Shuttterstock

Moms, setiap ibu memiliki pengalaman melahirkan yang berbeda. Ada yang melahirkan pervaginam tanpa robekan, ada yang mengalami robekan perineum, memerlukan episiotomi, hingga harus menjalani operasi caesar.

Namun, apa pun prosesnya, semuanya sama-sama membutuhkan kekuatan dan perjuangan. Faktanya, menurut NCBI StatPearls, banyak ibu yang melahirkan pervaginam mengalami trauma perineum, sehingga kondisi ini merupakan hal yang umum terjadi.

Robekan Perineum saat Melahirkan Merupakan Kondisi yang Umum

Ilustrasi vagina. Foto: Shutterstock

Perineum adalah jaringan yang berada di antara vagina dan anus. Saat persalinan pervaginam, area ini akan meregang untuk membantu bayi lahir. Pada sebagian ibu, peregangan tersebut dapat menyebabkan trauma perineum, baik berupa robekan spontan maupun episiotomi.

Menurut NCBI StatPearls, sekitar 85–90% ibu yang melahirkan pervaginam mengalami trauma perineum. Sebagian besar merupakan robekan ringan (derajat 1 dan 2) yang umumnya dapat pulih dengan perawatan yang tepat.

Trauma atau robekan perineum dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ukuran dan posisi bayi, elastisitas jaringan, hingga kondisi selama proses persalinan. Karena itu, pengalaman melahirkan setiap ibu tidak bisa disamakan.

Semua proses tersebut merupakan bagian dari perjalanan melahirkan yang unik bagi setiap ibu. Karena itu, fokus utama persalinan bukanlah apakah perineum tetap utuh atau mengalami robekan, melainkan ibu dan bayi dapat melalui proses persalinan dengan selamat.