Kumparan Logo

Studi: Anak dengan ADHD Lebih Rentan Mengalami Bullying di Sekolah

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak dengan ADHD. Foto: MIA Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak dengan ADHD. Foto: MIA Studio/Shutterstock

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar dan berinteraksi dengan teman sebaya. Namun, bagi anak dengan ADHD, lingkungan sosial di sekolah terkadang bisa menjadi tantangan tersendiri.

Sebuah studi menunjukkan bahwa anak dengan ADHD lebih rentan mengalami bullying dibandingkan anak lainnya. Apa yang menyebabkan ini terjadi? Begini kata psikolog, Moms.

Anak dengan ADHD Lebih Rentan Mengalami Bullying

Ilustrasi anak dengan kondisi ADHD Foto: Shutterstock

Anak dengan ADHD dapat mengalami tantangan dalam mengendalikan impuls, mengatur perilaku, maupun berinteraksi secara sosial. Kondisi tersebut terkadang membuat mereka lebih rentan menjadi sasaran bullying di lingkungan sekolah.

Psikolog Madeline Jessica, M.Psi, Psikolog, menjelaskan bahwa karakteristik perilaku tertentu pada anak dengan ADHD dapat disalahartikan oleh orang lain.

“Perilaku seperti sering menyela, banyak bergerak, atau bereaksi spontan terkadang dianggap tidak sopan oleh orang lain sehingga dapat membuat anak diejek atau dikucilkan,” ujar Madeline pada kumparanMOM, Rabu (30/9).

Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya memperhatikan perilaku anak di rumah, tetapi juga mengetahui bagaimana pengalaman dan interaksinya selama berada di sekolah.

Cara Mencegah Anak ADHD Mengalami Bullying

Ilustrasi anak dengan ADHD. Foto: japansainlook/Shutterstock

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak menghadapi situasi sosial dan mengurangi risiko menjadi korban bullying.

Pertama, bangun rasa percaya diri anak dengan membantunya mengenali kekuatan, minat, dan kelebihan yang dimiliki. Anak juga dapat dilatih keterampilan sosial secara konkret melalui latihan atau permainan peran.

Selain itu, ajarkan anak bagaimana mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak dapat diselesaikan sendiri.

"Orang tua juga perlu peka terhadap perubahan perilaku anak. Sebab, anak yang mengalami bullying belum tentu berani menceritakannya. Mereka bisa merasa takut, malu, atau bahkan menganggap dirinya memang pantas diperlakukan seperti itu," kata Madeline.

Jika ada dugaan bullying, ajak anak berbicara tanpa menghakimi. Orang tua juga dapat mencatat waktu, tempat, bentuk bullying, serta pihak yang terlibat. Jika bullying terjadi secara daring, simpan bukti seperti screenshot.

Bukti tersebut kemudian dapat disampaikan kepada pihak sekolah untuk dibahas bersama, termasuk meminta rencana penanganan yang jelas.

"Bila anak menunjukkan kecemasan berkepanjangan, suasana hati menurun, gangguan tidur, menolak sekolah, atau aktivitas sehari-harinya mulai terganggu, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan mental," tutup Madeline