Kumparan Logo

Studi: Anak yang Banyak Konsumsi Makanan UPF Punya Volume Otak Lebih Kecil

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak makan permen. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak makan permen. Foto: Shutterstock

Sebuah studi baru yang diterbitkan di The American Journal of Clinical Nutrition memberikan peringatan serius bagi para orang tua soal bahaya konsumsi makanan ultraproses (ultraprocessed food/UPF) bagi anak.

Ternyata, konsumsi UPF sejak dini ternyata berkaitan dengan volume otak yang lebih kecil pada delapan area penting di usia 6 tahun.

Uraian Riset soal Dampak Kebiasaan Anak Konsumsi Makanan UPF pada Volume Otak

Ilustrasi anak makan permen. Foto: Shutterstock

Studi berjudul “Early-life cumulative intake of ultraprocessed foods and subcortical brain volume at age 6 y: a prospective cohort study” ini dipublikasikan pada 2 Juni 2026. Penelitian dipimpin oleh Jonatan Ottino-González bersama tim dari Children’s Hospital Los Angeles (CHLA) dan University of Southern California (USC).

Para peneliti memantau konsumsi UPF anak secara kumulatif — dari usia 6 bulan hingga 72 bulan (6 tahun). Konsumsi diukur sebagai persentase energi harian yang berasal dari UPF. Setelah itu, mereka melakukan pemindaian otak menggunakan MRI untuk mengukur volume area-area subkortikal.

8 Area Otak yang Terdampak

Ilustrasi anak terlalu banyak makan makanan manis. Foto: Kenishirotie/Shutterstock

Dari pemindaian MRI, ditemukan bahwa semakin tinggi konsumsi UPF kumulatif, semakin kecil volume di delapan area subkortikal otak berikut:

  • Nucleus accumbens kanan dan kiri (pusat reward dan motivasi)

  • Amigdala kiri (pusat regulasi emosi dan respons rasa takut)

  • Pallidum kanan dan kiri (berperan dalam kontrol gerakan dan motivasi)

  • Putamen kiri (terlibat dalam pembelajaran motorik dan kebiasaan)

  • Talamus kanan dan kiri (pintu gerbang informasi sensorik ke korteks)

Secara keseluruhan, area-area yang terdampak adalah bagian yang bertanggung jawab atas empat fungsi penting: pemrosesan reward, regulasi emosi, motivasi, dan integrasi sensorimotorik.

Bahaya Efek Kumulatif UPF

Banyak penelitian sebelumnya hanya mengukur konsumsi UPF pada satu titik waktu. Studi ini mengukur paparan secara kumulatif dari usia 6 bulan sampai 6 tahun — dan hasilnya menunjukkan pola yang konsisten: semakin besar total paparan UPF sepanjang periode itu, semakin kecil volume di kedelapan area otak tersebut.

Ini memperkuat gagasan bahwa kebiasaan makan yang terbentuk sejak bayi dan balita bukan sekadar masalah sementara. Dampaknya bisa terakumulasi dan terlihat secara struktural di otak anak ketika mereka memasuki usia sekolah.

Bagaimana Bisa Terjadi?

Para peneliti menduga beberapa mekanisme biologis yang menjelaskan hubungan ini:

  • Peradangan sistemik. Kandungan aditif, lemak jenuh, dan gula tinggi dalam UPF dapat memicu inflamasi kronis yang memengaruhi jaringan otak.

  • Defisiensi nutrisi penting. UPF menggantikan makanan bergizi dalam menu anak, sehingga otak yang sedang berkembang kekurangan zat besi, omega-3, zinc, dan vitamin yang krusial untuk pembentukan struktur saraf.

  • Gangguan poros usus-otak. UPF mengubah komposisi mikrobiom usus. Karena usus dan otak memiliki jalur komunikasi langsung (gut-brain axis), gangguan pada usus dapat berdampak pada perkembangan otak.

Yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Studi ini bukan bertujuan membuat orang tua panik, melainkan mendorong kesadaran. Penelitian ini dipublikasikan sebagai open access, artinya bisa dibaca secara gratis oleh siapa saja.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dimulai dari sekarang:

  • Perbanyak makanan utuh: sayur, buah, biji-bijian, protein hewani dan nabati segar

  • Biasakan memasak dari bahan segar, terutama untuk MPASI dan bekal sekolah

  • Baca label kemasan — semakin pendek daftar bahannya, semakin baik

  • Batasi snack ultraproses; ganti dengan camilan berbahan dasar alami

  • Ganti minuman manis kemasan dengan air putih, susu, atau jus buah segar tanpa tambahan gula

Tidak ada orang tua yang sempurna, dan tidak ada anak yang harus sama sekali bebas dari makanan kemasan. Tapi setiap kebiasaan kecil yang lebih baik — dimulai hari ini — adalah investasi nyata untuk otak anak yang sedang tumbuh, Moms.