Kumparan Logo

Studi: Depresi saat Hamil Bisa Tingkatkan Risiko Melahirkan Caesar

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ibu Hamil Depresi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ibu Hamil Depresi Foto: Shutterstock

Ibu hamil perlu menjaga kondisi fisik dan psikisnya. Pasalnya, suasana hati ibu hamil kadang tak menentu, sehingga mudah mengalami perubahan atau mood swing.

Jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka dapat memicu risiko terjadinya stres, bahkan hingga depresi. Ya Moms, dikutip dari Parents, sekitar 33 persen ibu hamil kerap mengalami depresi. Hanya saja, kondisi ini kadang tidak diketahui secara langsung. Menurut Healy Smith, MD, psikiater di Kesehatan Mental Wanita di New York Presbyterian Hospital AS, hanya sekitar 20 persen ibu hamil yang menyadari bahwa dirinya mengalami depresi.

Saat mengalami depresi, tubuh ibu hamil akan memproduksi hormon kortisol. Selanjutnya, hormon tersebut akan melewati plasenta, sehingga berisiko untuk mengganggu kesehatan bayi, salah satunya memicu munculnya alergi.

Tak hanya itu, dikutip dari Verywell Family, gangguan mood dan kecemasan perinatal telah dikaitkan dengan risiko komplikasi kehamilan, seperti kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Bahkan, sebuah studi mengungkap bahwa ibu hamil yang mengalami depresi juga memiliki kemungkinan lebih tinggi melahirkan dengan operasi caesar.

Hubungan Antara Depresi saat Hamil dan Melahirkan Caesar

Ilustrasi melahirkan dengan operasi caesar. Foto: Shutterstock

Ya Moms, sebuah studi dari University of Michigan yang diterbitkan pada Oktober 2022 di jurnal Health Affairs menemukan bahwa depresi saat hamil mungkin juga bisa meningkatkan risiko melahirkan caesar untuk pertama kalinya. Meskipun masih dicari tahu hubungan keduanya dengan pasti, tapi ibu hamil yang mengalami depresi perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebab, kondisi kesehatan ibu hamil akan mempengaruhi perawatan yang diperlukan bayi saat lahir.

"Mengklarifikasi konsekuensi kesehatan yang terkait dengan gangguan kecemasan adalah penting sehingga kami dapat mengidentifikasi intervensi yang efektif, dalam hal ini diagnosis dan pengobatan," kata Vanessa Dalton, MD MPH, dokter kandungan ginekolog di University of Michigan Health Von Voigtlander Women's Hospital, seperti mengutip Very Well Family.

Oleh karena itu, ACOG merekomendasikan agar ibu hamil melakukan skrining psikis setidaknya satu kali selama kehamilan untuk mengetahui diagnosis, pengobatan, dan perawatan yang tepat.

kumparan post embed