Studi: Gambaran Ibu Ideal oleh Momfluencer Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

24 Februari 2023 14:43
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Ibu yang Terpengaruh Momfluencer. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu yang Terpengaruh Momfluencer. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
Sebagai ibu baru, mungkin Anda akan berusaha mencari banyak informasi seputar parenting, menyusui, dan hal-hal lain tentang ibu dan bayi lewat internet maupun media sosial. Anda juga bisa mengikuti artis maupun momfluencer yang dinilai punya banyak kisah inspiratif seputar pola pengasuhan anaknya.
Saat mengikuti media sosialnya, Anda mungkin tertarik dengan konten-konten dari momfluencer yang terlihat bahagia, kehidupan keluarganya sempurna, anak-anaknya berperilaku baik, pintar dan nurut, serta pasangan yang romantis. Rasanya, Anda berharap bisa diterapkan sendiri, kan?
Namun pada akhirnya, terkadang sulit untuk tidak membandingkan diri sendiri dengan momfluencer yang diikuti.
Perlu dipahami pada realitanya mereka juga ibu biasa yang memiliki problematikanya masing-masing, Moms. Ya, tidak semuanya seindah yang ditampilkan di media sosial.
Dilansir laman Motherly, sebuah studi yang diterbitkan lewat 'Computers in Human Behavior' menunjukkan, ketika seorang ibu dihadapkan pada gambaran 'ibu yang ideal' dari sosok teman, keluarga, atau momfluencer, maka dapat meningkatkan kecemasan, kecemburuan, dan rasa ingin membandingkan. Dan pada akhirnya, bisa mempengaruhi kesehatan mental Anda.
Ilustrasi ibu terpengaruh momfluencer.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu terpengaruh momfluencer. Foto: Shutterstock
"Penggambaran ibu yang ideal bukanlah hal baru. Di tahun 70-an dan 80-an, penggambaran keibuan yang ideal ada di seluruh masalah. Tapi sekarang, mereka semua di media sosial. Siapa pun sekarang dapat 'memamerkan' sosok ibu ideal di media sosial," ucap penulis penelitian sekaligus asisten profesor di University of Nebraska-Lincoln, Ciera Kirkpatrick, PhD.
Ya Moms, media sosial dinilai bisa mengubah cara pandang orang dalam memahami seperti apa sosok ibu yang ideal. Apalagi, sekarang siapa pun bisa membuat dan mengunggah konten seputar ibu, dan bahkan digambarkan sangat ideal meski kenyataannya mungkin tidak seperti itu.
"Mulai dari selebritas hingga saudara Anda sendiri bisa membuatnya, dan jauh lebih mudah diakses. Tapi, efek dari semua unggahan yang tampak 'sempurna' itu bisa berbahaya," jelas Dr. Kirkpatrick.

Hubungan Sebab Akibat Momfluencer di Media Sosial dan Meningkatnya Kecemasan

Nah Moms, Dr. Kirkpatrick memperhatikan momfluencer di media sosial sejak awal setelah ibu melahirkan sudah bisa memengaruhi pengikutnya dengan pengalaman 'sempurna'-nya. Akan tetapi, banyak juga konten-konten yang sebenarnya ditampilkan bukan dengan cara yang sehat.
Teori media sosial memberikan efek negatif bagi ibu-ibu baru, bukanlah hal baru. Dalam penelitian yang dilakukan Dr. Kirkpatrick dan rekan-rekannya, mereka meminta 464 ibu baru --yang setidaknya memiliki anak berusia tiga tahun ke bawah-- untuk melihat dan menonton 20 unggahan Instagram. 10 unggahan dari akun momfluencer, dan 10 lagi dari akun ibu 'biasa'.
Separuh unggahan yang diberikan menggambarkan sosok ibu yang ideal, mengagumkan, dan hanya fokus pada konten-konten positif saja dalam pengasuhan anak, tanpa menyebutkan masalah atau kendala yang dihadapi. Dan separuh konten lainnya menampilkan kondisi yang biasa saja termasuk diceritakan tentang kesulitan yang dihadapi dalam mengasuh anak.
Ilustrasi Ibu yang Terpengaruh Momfluencer. Foto: WPixz/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibu yang Terpengaruh Momfluencer. Foto: WPixz/Shutterstock
Setelah melihat seluruh kontennya, para peserta diminta untuk menilai perasaan mereka sendiri yang dikaitkan dengan perbandingan sosial. Seperti misalnya, kesamaan apa yang dirasakan, mana yang membuat iri atau cemburu, hingga menimbulkan kecemasan. Hasilnya, ketika ibu baru diekspos pada gambaran keibuan yang ideal, mereka jadi memiliki tingkat kecemburuan dan kecemasan lebih tinggi.
"Dan menariknya, sebenarnya tidak ada masalah penggambaran ibu yang ideal berasal dari momfluencer atau pengguna Instagram biasa. Tapi, konten yang diidealkan dari salah satu sumber bisa memiliki efek negatif yang sama. Yang menunjukkan bahwa siapa pun yang menyebarkan konten gambaran ibu ideal seperti ini, dapat menimbulkan efek berbahaya bagi ibu baru," jelas Dr. Kirkpatrick.

Ibu Baru Rentan Terpapar dari Media Sosial

Di sisi lain, posisi ibu baru setelah melahirkan adalah masa-masa yang rentan, seperti keadaan mental, fisik, dan ekonomi. Sebab, banyak aspek kehidupan yang mengalami perubahan setelah hamil dan melahirkan anak. Jadi, kelompok ibu ini mungkin lebih rentan terhadap rasa iri dan kecemasan. Selain itu, menjadi ibu baru juga bisa menandakan Anda 'terisolasi', karena sebagian besar waktu hanya dihabiskan untuk mengurus bayi.
Dan lewat media sosial, mereka merasa bisa 'tersambung' lagi dengan kehidupan di luar rumah. Serta, media sosial menawarkan kesempatan menambah teman maupun pengetahuan saat sebagian ibu mungkin merasa kurang bersosialisasi.
Tapi penting ya, Moms, agar tetap menggunakan media sosial dengan bijak dan mengambil informasi yang memang Anda butuhkan. Terlalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang hanya dilihat lewat media sosial bisa menurunkan harga diri Anda. Karena pada realitanya, semua ibu memiliki masalah dan perjuangannya masing-masing.
"Yang paling penting di tengah konten-konten di media sosial yang bias, kita bisa melihat realitasnya. Karena ketika mereka bicara kesulitan, kita bisa saling membantu dan membuatnya tidak merasa sendirian menghadapi masalah yang dialami. Ingat, menjadi seorang ibu sudah cukup sulit, kita tidak perlu mempersulit satu sama lain," tutup Dr. Kirkpatrick.