Studi: Separuh Wanita yang Alami Trauma Melahirkan Cenderung Tunda Hamil Lagi

18 September 2023 14:35
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Studi: Separuh Wanita yang Alami Trauma Melahirkan Cenderung Tunda Hamil Lagi. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Bagi sebagian wanita, proses melahirkan anak tidaklah mudah dijalani. Baik itu menjalani operasi caesar yang tidak direncanakan sebelumnya, harus mendapatkan perawatan darurat akibat komplikasi, atau persalinan yang sulit dijalani seperti durasinya terlalu lama dan melelahkan, atau bahkan menyakitkan.
ADVERTISEMENT
Kondisi-kondisi di atas membuat perempuan pun mengalami trauma melahirkan. Akibatnya, beberapa dari mereka pun menunda punya anak lagi atau bahkan tidak ingin hamil kembali.
Ini terungkap lewat jajak pendapat terhadap 1.000 anggota situs Mumsnet, yang menemukan 79 persen dari mereka yang disurvei pernah mengalami trauma melahirkan. Hampir dua pertiga ibu yang mengalami trauma tersebut menceritakan dirinya merasakan kurang mendapat perhatian dari tenaga kesehatan selama persalinan. Kemudian 44 persen responden mengatakan mereka mendapatkan omongan yang menyiratkan 'gagal atau patut disalahkan' atas pengalaman melahirkan yang mereka alami.
Dari pengalaman itulah, sekitar 53 persen responden mengatakan mereka enggan untuk punya anak lagi, Moms.

Apa yang Membuat Trauma Melahirkan Terjadi Berdasarkan Survei Tersebut?

Ilustrasi depresi pada ibu usai melahirkan. Foto: Shutter Stock
Jadi, hampir dua pertiga dari mereka yang disurvei oleh Mumsnet mengaku tidak percaya tenaga kesehatan setempat telah berupaya melakukan segala hal demi mencegah terjadinya trauma kelahiran.
ADVERTISEMENT
"Kami mendengar setiap hari dari para wanita yang memiliki pengalaman yang sangat mengecewakan dalam perawatan kehamilan. Dan penelitian terbaru ini menggarisbawahi bahwa sebagian besar ibu mengalami trauma saat melahirkan, baik fisik maupun psikologis," ucap Kepala Eksekutif Mumsnet, Justine Roberts, dikutip dari Daily Mail UK.
Menurut Roberts, trauma melahirkan ini bisa berdampak jangka panjang dan dapat memengaruhi proses pemulihan ibu pascapersalinan. Apalagi jika nakes kurang perhatian dan tidak memberikan penjelasan rinci tentang perawatan pascamelahirkan, maka akan berdampak pada kesehatan ibu.
Hal ini juga semakin memilukan karena tingkat kematian bayi di Inggris telah meningkat untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir. Dalam sebuah laporan menunjukkan terdapat 2.473 bayi lahir mati pada 2021, meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 2.292 bayi.
ADVERTISEMENT
Para peneliti dari Oxford University dan Leicester University yang menerbitkan laporan tersebut menjelaskan, peningkatan kematian tersebut terjadi saat bayi yang masih berada di dalam kandungan. Ya, penyebab kematian sepertiga bayi lahir mati diduga akibat masalah pada plasenta. Sementara penyebab paling umum bayi meninggal segera setelah melahirkan akibat cacat lahir bawaan.
Ini terjadi diduga akibat pandemi COVID-19 yang membuat wanita lebih enggan menghubungi tenaga kesehatan jika pergerakan bayi mereka berkurang. Namun, peneliti masih meneliti lebih lanjut terkait penyebabnya, karena diyakini gangguan layanan kesehatan selama pandemi bukanlah faktor utamanya.
Nah Moms, perlu dipahami bahwa kondisi-kondisi di atas terjadi di Inggris. Namun, trauma melahirkan dapat terjadi pada siapa saja, termasuk Anda. Misalnya, Anda dengan trauma ini masih selalu terbayang pengalaman traumatis saat persalinan.
ADVERTISEMENT
Jadi, bila mengalaminya, Anda bisa mencari dukungan dari orang terdekat seperti suami atau orang lain yang mengalami kondisi yang sama. Atau minta bantuan dari ahli seperti psikolog atau psikiater untuk membantu mengatasi kondisi mental yang dialami.