Survei: 43 Persen Orang Tua Tidak Tahu Batas Usia Legal Konsumsi Minuman Alkohol
ยทwaktu baca 3 menit

Orang tua punya peran penting dalam memberikan edukasi seputar konsumsi alkohol kepada anak-anak mereka. Dalam penelitian yang dilakukan Universitas Diponegoro, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak dapat secara efektif mencegah konsumsi minuman beralkohol di bawah umur.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum memahami batas usia legal konsumsi minuman beralkohol di Indonesia. Hal tersebut diperoleh dari survei online yang dilakukan kumparan kepada 400 responden orang tua di Jabodetabek selama bulan Juni 2024.
Adapun kriteria responden memiliki anak remaja usia 12-20 tahun dan survei dilakukan dengan menyebar kuisioner.
Dalam survei tersebut, sebanyak 43 persen orang tua tidak mengetahui batasan usia legal konsumsi minuman beralkohol adalah 21 tahun. Ketidaktahuan itu pun dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan orang tua belum melakukan edukasi yang benar ke anak seputar konsumsi minuman beralkohol.
Di sisi lain, survei yang dilakukan kumparan juga menunjukkan, kurangnya kesadaran soal manfaat edukasi konsumsi minuman beralkohol membuat orang tua merasa kebingungan untuk berdiskusi dengan anak seputar topik ini.
Karena kurangnya pemahaman itu, beberapa orang tua memutuskan untuk tidak membicarakannya atau merasa anak-anak mereka masih terlalu muda untuk memahaminya.
Sebagian responden juga merasa bahwa edukasi seputar konsumsi minuman beralkohol sebaiknya dibahas oleh lembaga khusus yang lebih memahaminya.
Padahal, menurut penelitian berjudul Faktor Penentu Konsumsi Alkohol pada Remaja Indonesia Berdasarkan Perhatian Orang Tua: Temuan Survei Nasional disebutkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pencegahan dapat menghambat konsumsi alkohol pada anak hingga 0,8 kali.
Itu berarti, orang tua bisa menjadi garda terdepan dalam pemberian edukasi seputar konsumsi minuman beralkohol. Lantas, apa yang bisa dilakukan?
Tips Memberikan Edukasi pada Anak seputar Konsumsi Minuman Beralkohol
Ada banyak faktor yang membuat anak penasaran mencoba minuman alkohol sebelum batas usia legal. Melalui penelitian yang dilakukan Universitas Negeri Semarang, faktor tersebut bisa dari kurangnya kepercayaan diri, keingintahuan, pelarian dari suatu masalah, dan lingkungan sekitar.
Sebelum faktor-faktor tersebut mendorong anak Anda, coba bicarakan dengannya soal dampak konsumsi alkohol yang berbahaya. Mulai dari mabuk, keracunan, hingga potensi merusak sistem dalam tubuh.
Namun, pastikan Anda melakukan diskusi dengan anak dan tanpa menggurui. Sebab, dalam penelitian yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang, edukasi dengan metode komunikasi terbuka efektif meningkatkan pengetahuan anak seputar pencegahan konsumsi alkohol.
Edukasi seputar minuman beralkohol tentu tidak bisa dilakukan sekali saja. Tunjukkan kepedulian Anda pada anak-anak dengan meluangkan waktu khusus secara rutin untuk berdiskusi.
Tanyakan pada anak hal-hal yang membuatnya bingung. Dengarkan setiap pertanyaannya dan hindari menginterupsi. Bila Anda belum bisa menjawab saat itu juga, coba diskusikan dengan pasangan untuk mencari jawabannya bersama-sama.
Sebagai orang tua, Anda juga boleh menetapkan konsekuensi yang tepat bila anak melanggar aturan yang telah ditetapkan. Memberi batasan yang jelas merupakan bentuk perhatian kepada anak.
Terakhir, anak-anak menjadi 'peniru ulung' atas hal-hal yang orang tuanya lakukan. Oleh sebab itu, tetaplah menjadi role model yang baik untuk anak agar ia berperilaku sesuai yang Anda harapkan.
#21dulu
Artikel ini merupakan bagian dari program edukasi yang dibuat oleh kumparan Studio dan didukung oleh PT Multi Bintang Indonesia Tbk
