Kumparan Logo

Tanda ADHD Bisa Terlihat Sejak Kecil, Kapan Anak Bisa Dievaluasi?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak dengan ADHD. Foto: myboys.me/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak dengan ADHD. Foto: myboys.me/Shutterstock

ADHD sering kali baru menjadi perhatian ketika anak mulai sekolah. Padahal, beberapa penanda perkembangan yang berkaitan dengan kerentanan neurodivergensi dapat diamati sejak anak masih kecil.

Psikolog klinis anak dan keluarga, Roslina Verauli, menjelaskan bahwa beberapa indikator risiko dapat terlihat sejak awal kehidupan. Namun, tanda-tanda tersebut tidak spesifik untuk ADHD.

Beberapa hal yang dapat diperhatikan sejak dini antara lain pola tidur-bangun sejak lahir, pola tidur REM, refleks, serta riwayat keluarga ADHD atau neurodivergensi.

Ciri ADHD yang Bisa Dicermati Sejak Dini

Ilustrasi anak dengan ADHD. Foto: MIA Studio/Shutterstock

Menurut Roslina, pada usia 0–3 tahun, kerentanan perkembangan yang dapat diamati mencakup regulasi tidur, regulasi diri, regulasi sensorik, temperamen, tingkat aktivitas, serta perkembangan motorik dan bicara.

Memasuki usia 3–5 tahun, karakteristik perilaku yang lebih menyerupai gambaran ADHD mulai dapat terlihat. Misalnya, inatensi, aktivitas yang tinggi, impulsivitas, kesulitan menunggu, dan regulasi perilaku yang kurang baik.

Meski begitu, munculnya perilaku tersebut bukan berarti anak otomatis mengalami ADHD, Moms. Sebab, pada usia yang sangat dini, sejumlah perilaku yang menyerupai ADHD masih dapat menjadi bagian dari variasi perkembangan yang normal.

“Pada usia 4 tahun, evaluasi klinis gejala ADHD sudah dapat dilakukan,” jelas Roslina saat dihubungi kumparanMOM, Rabu (23/9).

Ilustrasi psikolog. Foto: Shutterstock

Evaluasi tersebut tidak hanya melihat perilaku anak saat diperiksa. Dokter atau psikolog juga dapat mempertimbangkan laporan orang tua dan guru atau pengasuh, observasi klinis, riwayat perkembangan, serta dampak perilaku terhadap fungsi anak.

“Dalam asesmen ADHD, riwayat anak dapat ditinjau mulai dari periode perinatal, masa kanak-kanak, prasekolah, hingga masa sekolah,” tutup Roslina.

Seiring bertambahnya usia, terutama ketika anak memasuki usia sekolah, gejala dan dampak fungsional ADHD sering menjadi lebih jelas. Kesulitan dapat terlihat pada aspek akademik, sosial, keluarga, maupun fungsi eksekutif.

Namun, orang tua sebaiknya tidak mendiagnosis ADHD hanya berdasarkan satu atau dua tanda yang terlihat pada anak. Penilaian perlu dilakukan secara menyeluruh oleh profesional dengan mempertimbangkan perkembangan dan fungsi anak.

Jadi, jika ada kekhawatiran, orang tua dapat mendiskusikannya dengan profesional agar perkembangan dan kebutuhan anak bisa dipahami secara lebih menyeluruh.