Kumparan Logo

Tanda dan Gejala Bayi Keracunan Makanan

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi keracunan makanan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi keracunan makanan. Foto: Shutter Stock

Saat memasak dan menghidangkan MPASI untuk bayi, pastikan bahwa bahan-bahannya higienis, matang, dan belum kedaluwarsa. Sebab jika tidak, bayi berisiko mengalami keracunan makanan, Moms.

Keracunan makanan bisa terjadi karena bayi mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri dan kuman lainnya. Jadi, saat bayi mengonsumsi makanan atau susu formula yang terkontaminasi, patogen akan memasuki saluran pencernaannya dan mengiritasi, hingga menyebabkan infeksi.

Lantas, bagaimana kita mengetahui bayi mengalami keracunan makanan? Berikut tanda dan gejala keracunan makanan pada yang perlu dipahami.

Tanda dan Gejala Bayi Keracunan Makanan, Seperti Apa?

Ilustrasi bayi keracunan makanan. Foto: Shutter Stock

Keracunan makanan dapat memengaruhi sistem pencernaan bayi. Sehingga, biasanya ada beberapa gejala umum yang ditunjukkan bayi ketika mengalami keracunan makanan, berikut di antaranya seperti dikutip dari John Hopkins Medicine:

  • Menangis dan rewel berlebihan

  • Rasa tidak nyaman di perut atau sakit perut

  • Sakit perut atau diare

  • Mual dan muntah

  • Demam

  • Darah dalam tinja atau muntahan

  • Badan lemas

Jika keracunan makanan terlalu parah dan ia mengalami diare, maka si kecil berisiko dehidrasi. Dehidrasi ini ditandai dengan menangis tanpa air mata, mulut kering, fontanel cekung, mata kering, dan buang air kecil lebih sedikit atau jadi jarang ganti popok.

Kemudian biasanya gejala keracunan makanan muncul dalam beberapa menit, jam, atau hari setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Tingkat keparahan gejala ini dapat bervariasi dari satu bayi ke bayi lainnya, dan dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari.

Cara Mendiagnosis Keracunan Makanan Bayi

5 hal yang membuat bayi malas merangkak Foto: Shutterstock

Untuk bayi, karena memiliki kekebalan tubuh yang masih lemah, diagnosis keracunan makanan yang cepat sangat penting untuk perawatan yang tepat waktu. Sebab, keterlambatan dalam diagnosis dan pengobatan dapat memperburuk infeksi dan berdampak buruk pada bayi.

Oleh karena itu, bila menemui beberapa gejala di atas, segera bawa ke dokter agar dapat diperiksa. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, dan mencatat gejala bayi, serta memeriksa perut apakah ada nyeri atau tidak.

Kemudian, dokter juga akan menanyakan apa yang dialami bayi, memeriksa parameter vital bayi, seperti tekanan darah dan denyut nadi, dan menelusuri riwayat kesehatan bayi. Berdasarkan temuan, dokter juga bisa melakukan tes tambahan, seperti tes tinja, untuk menentukan mikroba spesifik yang menyebabkan gejala.

Mengutip Mom Junction, tes tinja dapat membantu menentukan mikroba spesifik yang menyebabkan keracunan makanan. Tes darah juga dilakukan untuk mendeteksi infeksi atau tanda-tanda komplikasi, seperti dehidrasi. Ini akan membantu menyingkirkan masalah kesehatan yang mungkin berkontribusi pada gejala, Moms.