Kumparan Logo

Tanda Intoleransi Laktosa pada Balita

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi balita tidak bisa minum susu. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi balita tidak bisa minum susu. Foto: Shutter Stock

Beberapa balita mungkin tidak bisa mencerna atau menerima zat tertentu yang masuk dalam tubuhnya. Contohnya saja laktosa, yaitu salah satu jenis gula yang umumnya ditemukan di dalam susu atau produk yang mengandung susu. Ya Moms, kondisi tubuh yang tidak bisa menerima laktosa disebut dengan intoleransi laktosa.

Mengutip Verywell Family, intoleransi laktosa merupakan kondisi ketika tubuh tidak mampu memecah laktosa dengan baik. Proses pemecahan laktosa sendiri membutuhkan enzim laktase yang ada di lapisan usus. Jika tidak bisa dicerna dengan baik, hal itu dapat menyebabkan masalah pada organ pencernaan.

Intoleransi laktosa umumnya dapat diketahui sejak balita, tepatnya pada usia dua tahun. Lantas, seperti apa tanda-tandanya?

Tanda Balita Mengalami Intoleransi Laktosa

Ilustrasi balita sakit perut. Foto: Shutterstock

Pada usia dua tahun, tubuh balita umumnya menghasilkan enzim laktase lebih sedikit. Kondisi ini bisa menyebabkan beberapa gangguan, seperti diare, kembung, kram perut, mual, dan sakit perut. Namun, balita usia dua tahun mungkin belum memahami saat ia merasa kembung. Itu lah sebabnya intoleransi laktosa jadi lebih sulit dikenali.

Meski begitu, ada dua gejala yang mungkin menjadi tanda yang jelas bahwa balita mengalami intoleransi laktosa. Gejala tersebut umumnya muncul setelah balita mengonsumsi susu atau produk yang mengandung susu. Ada pun gejalanya, seperti:

  1. Kotorannya lebih encer dan berbau lebih busuk. Dalam beberapa kasus, kotorannya bisa jadi berbau agak manis karena ususnya tidak bisa memecah laktosa dengan baik.

  2. Mudah menangis atau marah setelah mengonsumsi produk yang mengandung susu. Hal itu menjadi cara balita untuk mengeluhkan kondisi perutnya yang bermasalah dan membuatnya tidak nyaman.

Intoleransi laktosa umumnya hanya bisa didiagnosis oleh dokter. Beberapa dokter mungkin mendiagnosisnya melalui gejala yang terlihat. Namun, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan tes napas hidrogen non-invasif atau biopsi usus invasif untuk mendiagnosis kondisi agar hasilnya terlihat lebih jelas.

Bisakah Balita Tumbuh Sehat dengan Intoleransi Laktosa?

Ilustrasi ibu berkonsultasi dengan dokter tentang intoleransi laktosa. Foto: Shutterstock

Meski balita mungkin lebih sedikit atau tidak mengonsumsi produk susu sama sekali, ia tetap dapat tumbuh sehat seperti balita pada umumnya. Pasalnya, masih banyak makanan atau minuman yang memiliki kandungan nutrisi sama seperti susu, tapi tanpa laktosa.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin masih mengizinkan balita untuk mengonsumsi produk susu dalam jumlah terbatas. Untuk itu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu pada dokter apakah si kecil masih boleh mengonsumsi produk susu atau tidak boleh sama sekali.

kumparan post embed