Tensi Tinggi Setelah Melahirkan, Begini Cara Mengatasinya

8 Desember 2020 9:04
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tensi Tinggi Setelah Melahirkan, Begini Cara Mengatasinya (24141)
searchPerbesar
Ilustrasi Pemeriksaan Tekanan Darah setelah Melahirkan. Foto: Shutterstock
Tensi tinggi alias tekanan darah tinggi dapat terjadi setelah melahirkan. Dalam dunia medis, hal ini dikenal dengan istilah preeklamsia postpartum, yaitu kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah di atas 140/90 disertai protein pada urine ibu setelah melahirkan. Biasanya, kondisi ini terjadi karena pada saat ibu hamil terjadi volume plasma pada ruang intravaskuler yang cukup signifikan sebagai respons fisiologis untuk memenuhi nutrisi janin.
ADVERTISEMENT
Pada beberapa wanita, kasus preeklamsia postpartum dapat menyebabkan hipertensi dan tidak langsung membaik usai bersalin. Demikian yang dijelaskan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Gita Pratama, SpOG kepada kumparanMOM. Menurutnya, kondisi ini biasanya terjadi dalam 48 jam (2 hari) setelah melahirkan. Namun, ada pula beberapa wanita yang mengalami hal ini selama 6 minggu.
Beberapa obat untuk pereda nyeri dan menghentikan perdarahan yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah selama proses persalinan ternyata juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi atau tekanan darah tinggi setelah melahirkan, Moms.
"Kondisi ini (preeklamsia postpartum) bukanlah hal yang wajar terjadi pada tiap wanita. Namun pada umumnya, tekanan darah ibu akan kembali normal setelah proses persalinan. Jadi, bila ibu mengalami kondisi ini, segera hubungi dokter atau tenaga medis lainnya, ya," ujar dr. Gita, Kamis (3/12).
Tensi Tinggi Setelah Melahirkan, Begini Cara Mengatasinya (24142)
searchPerbesar
Ilustrasi sakit kepala. Foto: Shutterstock
Dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah Jakarta Selatan dan Klinik Yasmin RSCM Kencana, Jakarta Pusat, ini juga menjelaskan beberapa tanda atau gejala tensi tinggi setelah melahirkan. Beberapa di antaranya: sakit kepala, penglihatan kabur atau sensitif terhadap cahaya, nyeri perut, pembengkakan pada ekstremitas (bagian tubuh/anggota gerak tubuh) dan wajah.
ADVERTISEMENT
Namun terkadang, beberapa gejala tersebut tak dirasakan oleh beberapa wanita. Untuk itu, ia menyarankan agar Anda dapat melakukan pemantauan tekanan darah secara berkala dengan bantuan tenaga medis untuk mengetahui ada tidaknya preeklamsia postpartum dalam diri Anda.
Lantas, bagaimana cara mengatasi tensi tinggi setelah melahirkan? Berikut tips yang dibagikan oleh dr. Gita.
Tensi Tinggi Setelah Melahirkan, Begini Cara Mengatasinya (24143)
searchPerbesar
Ilustrasi tekanan darah Foto: dok.shutterstock

Cara Atasi Tensi Tinggi Setelah Melahirkan

1.Pemeriksaan oleh Dokter

Setelah melahirkan, biasanya dokter akan melakukan pemantauan untuk menilai kondisi ibu. Bila kondisi ibu sudah membaik, maka akan diperbolehkan pulang.
Namun sebaliknya, apabila ditemukan adanya peningkatan tekanan darah, maka dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan mengobati kondisi hipertensi ibu sebelum diperbolehkan pulang.

2. Istirahat yang Cukup dan Mendapat Dukungan Suami, Keluarga, atau Kerabat

Jika Anda sudah diperbolehkan pulang, Anda disarankan untuk beristirahat terlebih dulu. Umumnya setelah melahirkan, ibu akan merasa kelelahan dan mengalami perubahan emosi. Maka dari itu, dukungan dari suami, anggota keluarga lain, atau kerabat sangatlah penting untuk mengatasi tekanan darah tinggi setelah melahirkan, Moms.
ADVERTISEMENT

3. Kembali Berkonsultasi ke Dokter

Namun, bila Anda mengalami tanda atau gejala preeklamsia postpartum dalam 48 jam atau hingga 6 minggu lamanya setelah melahirkan, Anda pun disarankan untuk segera konsultasikan masalah tersebut ke dokter.
Nantinya dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti tekanan darah, pemeriksaan urine untuk melihat apakah urine mengandung protein atau tidak, pemeriksaan darah lengkap, dan juga pemeriksaan fungsi hati dan ginjal.
"Bila dari hasil pemeriksaan tersebut dipastikan bahwa ibu mengalami preeklamsia postpartum, maka ibu perlu istirahat dan diberikan pengobatan," pungkasnya.
Masih kata dr. Gita, biasanya pengobatan yang diberikan adalah obat penurun tekanan darah dan obat anti-kejang seperti Magnesium Sulfat untuk mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi kejang.
ADVERTISEMENT

4. Rutin Kontrol

Selanjutnya bila memang memiliki tekanan darah tinggi, ibu sebaiknya selalu mematuhi jadwal kontrol yang sudah ditetapkan dokter supaya dapat memantau tekanan darah dalam tubuh.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020