Tentukan Jenis Kelamin Bayi Lewat Program Hamil, Bagaimana Hukumnya?

Tak sedikit pasangan yang menginginkan kehadiran bayi dengan jenis kelamin tertentu. Alasannya beragam, bisa karena ingin meneruskan nama keluarga atau ingin jenis kelamin yang berbeda dengan anak sebelumnya.
Kiat yang dilakukan pasangan dalam mencapai tujuan tersebut, dicoba mulai dari mengikuti saran atau kepercayaan agar bisa hamil secara alami dengan jenis kelamin bayi yang diinginkan, seperti makan makanan tertentu dan melakukan posisi seks yang dianjurkan. Dan cara selanjutnya adalah lewat program bayi tabung.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Shanty Olivia Febrianti Jasirwan, SpOG, mengungkap bahwa bisa saja memilih jenis kelamin melalui program kehamilan, baik secara alami maupun program bayi tabung, Moms.
Namun, jika dika dilakukan dengan program bayi tabung, secara hukum di Indonesia diperbolehkan dengan tujuan ada alasan medis di baliknya.
"Kalau medis ini, kan, biasanya karena terkait untuk mencegah penyakit genetik yang terkait dengan jenis kelamin, misalnya hemofilia. Itu diperbolehkan," ujarnya saat dihubungi kumparanMOM.
Ya, alasan medis diperbolehkan apabila orangtua memiliki kondisi genetik serius yang berisiko diturunkan dan lebih besar dampaknya pada salah satu jenis kelamin anak.
Lebih lanjut dr.Shanty menyebut, bila Anda ingin memilih jenis kelamin dalam program kehamilan (bayi tabung) dengan alasan family balance atau menyeimbangkan jenis kelamin anggota keluarga, dalam etika di dunia medis ini masih diperdebatkan.
"Kalau untuk masalah non medis, misalnya tujuannya family balance atau hanya sebagai faktor kultural. Misalnya suku Batak harus anak laki-laki, suku Chinese harus anak laki-laki, itu sebenarnya secara etika masih jadi perdebatan," jelas dr. Shanty.
Pada metode bayi tabung (IVF), Preimplantation Genetic Diagnosis (PGD) merupakan cara dalam menentukan jenis kelamin bayi.
Namun dokter yang praktik di RS Hermina Daan Mogot, Jakarta, tersebut juga menjelaskan bahwa PGD tidak hanya dilakukan untuk memilih jenis kelamin, tetapi utamanya juga metode yang dipakai untuk mendeteksi kelainan genetik.
“Jadi yang pasti tujuan utama PGD ini untuk memastikan embrionya sehat. Enggak mungkin kita memilih jenis kelamin tapi genetiknya kacau," pungkasnya.
