Terjadi Lagi! Balita di Bengkulu Keluarkan Cacing dari Mulut dan Hidung
·waktu baca 4 menit

Kasus cacingan kembali terjadi dan kali ini dialami oleh seorang anak balita bernama Khaira Nur Sabrina di Seluma, Bengkulu. Dikutip dari Antara, balita berusia 1,5 tahun tersebut mengeluarkan cacing gelang dari mulut dan hidungnya.
Balita itu telah dirujuk ke RSUD M Yunus, Bengkulu, untuk mendapat perawatan intensif. Bagaimana awal mula kejadian cacingan pada pasien tersebut diketahui?
Kakak dari Pasien Juga Mengalami Cacingan
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu, Edriwan Mansyur, mengungkapkan Khaira bukanlah satu-satunya anak yang mengalami cacingan di keluarganya. Sebelumnya, kakak dari pasien juga mengalami kondisi yang sama. Pemerintah daerah pun telah memberikan penanganan medis.
Edriwan menduga keluarga pasien tidak mengikuti aturan konsumsi obat cacing yang sudah diberikan. Di sisi lain, dinas terkait telah melakukan pengecekan ke rumah pasien dan kondisi rumahnya tidak layak huni.
"Keluarga ini memang ada riwayat sebelumnya, kakaknya kan juga mengalami kejadian yang serupa. Cuma mungkin dalam hal penggunaan atau mengikuti aturan seperti pemberian obat cacing kemarin mungkin tidak ditaati mungkin. Jadi pemberian obat cacing kan sudah kita lakukan minimal 2 kali dalam setahun. Kemudian kemungkinan ada faktor lingkungan juga kemarin," kata Edriwan.
Dan yang juga menjadi sorotan adalah kondisi pasien yang cukup mengkhawatirkan. Sehingga, Khaira dirujuk ke RSUD tidak hanya untuk penanganan medis terhadap penyakit cacingan yang diidapnya, tetapi juga upaya peningkatan gizinya. Serta, diharapkan adanya penanganan lingkungan rumahnya agar lebih sehat dan bersih.
"Pertama, gizinya kan juga bermasalah ini. Beratnya juga sangat tidak seimbang dengan umurnya. Dan tindakan-tindakan preventif kita sudah lakukan di lapangan. Untuk kuratifnya di rumah sakit kawan-kawan di rumah sakit dokter sudah menangani dengan baik," ujar dia.
Kondisi Pasien Sudah Semakin Membaik
Kabar terbarunya, Moms, kondisi Khaira dinyatakan sudah membaik usai mendapat penanganan medis terhadap penyakit cacingan yang dialaminya.
“Ya kondisi bayi sekarang sudah ditangani oleh ahlinya, Alhamdulillah sudah terjadi perubahan. Tapi laporan terakhir ini kondisinya sudah mulai membaik,” kata Edriwan.
Dinkes Bengkulu juga sudah berkoordinasi dengan Pemkab Seluma agar rumah pasien dilakukan tindakan-tindakan preventif untuk mencegah terjadi kejadian serupa. Namun, tidak dirinci lebih lanjut tindakan apa saja yang dilakukan.
Anak-anak Paling Berisiko Kena Cacingan
Kejadian di Bengkulu ini mengingatkan kita pada kisah Raya, balita berusia 4 tahun di Sukabumi, yang harus kehilangan nyawa karena mengalami cacingan, —yang kemudian dikonfirmasi meninggal karena sepsis. Kondisi Raya juga makin parah lantaran mengalami malnutrisi, stunting, dan meningitis TB.
Kasus Raya menjadi sorotan, karena ia diduga terpapar larva cacing gelang di area rumahnya yang kumuh, banyak kotoran ayam berserakan di tanah, hingga sehari-hari mandi di empang.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2023 mengungkap hampir 80 persen populasi yang terkena cacingan adalah anak-anak usia sekolah. Dan cacing gelang (Ascaris lumbricoides) menjadi yang paling banyak menginfeksi orang-orang, baik di Indonesia maupun dunia.
"Karena anak aktif bermain di tanah, di luar rumah, jadi mungkin edukasi mereka tentang perilaku hidup bersih dan sehat belum maksimal. Kenapa itulah anak usia sekolah yang paling banyak," ujar anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, DR. Dr. Riyadi, SpA, Subs IPT(K), dalam webinar yang diselenggarakan IDAI, Jumat (22/8).
Sementara kelompok selanjutnya yang rentan terinfeksi cacingan adalah anak-anak usia prasekolah atau 2-5 tahun. Sebab, anak di usia ini masih belum memahami sepenuhnya tentang mana saja yang berbahaya atau tidak untuk disentuh.
Dr. Riyadi menjelaskan, dampak cacingan memang akan begitu signifikan pada anak-anak, karena mereka masih dalam fase pertumbuhan. Bila kecacingan berlangsung lama dan tidak mendapat pengobatan, maka akan sangat berbahaya pada kesehatannya. Misalnya, menurunkan daya tahan tubuh, penurunan fungsi kognitif dan produktivitas, hingga terganggunya proses pencernaan dan malabsorbsi.
"Kalau anak sampai meninggal, ada faktor lain, misalnya terkena penyakit lain yang menyebabkan hal fatal. Karena berlangsung kronis, bisa menjadi stunting. Stunting selain penyebabnya gizi kurang, tapi juga penyakit kronis salah satunya kecacingan," jelas Dr. Riyadi.
