Kumparan Logo

The Power of Mama, Para Ibu yang Berjaga di Tengah Karhutla Kalimantan

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota The Power of Mama beristirahat saat melakukan operasi pemadaman karhutla di perkebunan kelapa sawit Sungai Putri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (29/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Anggota The Power of Mama beristirahat saat melakukan operasi pemadaman karhutla di perkebunan kelapa sawit Sungai Putri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (29/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Langit di atas Kalimantan tampak oranye dan dipenuhi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran ini menghanguskan hutan dan membuat banyak warga mengalami gangguan pernapasan.

Bagi Juniarni (48), dampaknya juga terasa dari suara burung yang semakin jarang terdengar. Petani dan ibu tiga anak yang tinggal di Desa Sungai Awan Kiri, Kalimantan Barat, itu mengatakan biasanya kicauan burung terdengar hampir setiap saat. Namun, kini suasana justru sunyi.

Juniarni (48), anggota The Power of Mama, berpose usai melakukan operasi pemadaman karhutla di kawasan gambut Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

“Burung-burung itu tidak melakukan kesalahan apa pun. Mengapa mereka yang menjadi korban?” kata Juniarni, dikutip dari Reuters.

Juniarni merupakan salah satu dari lebih dari 140 perempuan yang tergabung dalam kelompok pemadam kebakaran The Power of Mama. Para relawan yang terdiri dari petani dan ibu ini berpatroli di 10 desa menggunakan sepeda motor untuk memantau titik panas dan membantu memadamkan api.

Juniarni (48) dan Jusmarlita (55), anggota The Power of Mama, menggunakan selang untuk memadamkan karhutla di kawasan gambut Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Mengenakan pakaian pelindung berwarna merah, mereka juga mengedukasi warga agar tidak menggunakan api untuk membuka lahan karena dapat meningkatkan risiko kebakaran.

Kelompok ini dibentuk pada 2022 setelah Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) memberikan pelatihan pemadaman kebakaran kepada para perempuan dari empat desa di Ketapang.

Anak-anak Ikut Terdampak Asap Karhutla

Anggota The Power of Mama, kelompok relawan pemadam kebakaran perempuan, menyiapkan selang untuk memadamkan karhutla di kawasan gambut Sungai Putri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (29/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Salah satu alasan para ibu bergabung menjadi relawan adalah untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat asap tebal.

Elly Marlina (46), salah satu relawan, mengatakan anak-anaknya pernah mengalami infeksi saluran pernapasan dan membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk pulih.

“Dibutuhkan waktu lebih dari setahun bagi mereka untuk pulih,” ujar Elly.

Irma (38), petani sekaligus ibu dua anak, mengatakan tantangan semakin besar karena api juga dapat membara di bawah permukaan tanah gambut.

Anggota The Power of Mama bersama pengawas mereka, Mita Anggraini (kanan bawah), mengenakan sepatu sebelum melakukan operasi pemadaman karhutla di Sungai Putri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (29/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

“Lahan kami paling rentan terhadap kebakaran. Tahun ini kondisinya jauh lebih buruk karena persediaan air kami mengering,” kata Irma.

Harapan untuk Hutan Kalimantan

Berdasarkan data pemerintah, sekitar 202.000 hektare lahan di Indonesia terbakar sepanjang Januari hingga Juli tahun ini. Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, dengan lebih dari 38.000 hektare lahan terbakar.

Jusmarlita (55) dan anggota The Power of Mama membawa pompa air menggunakan sepeda motor sebelum melakukan operasi pemadaman karhutla di Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Bagi para ibu di The Power of Mama, menjaga hutan berarti ikut melindungi keluarga dan anak-anak dari dampak karhutla.

“Harapan kami semakin memudar, karena seperti yang Anda lihat, sudah tidak ada lagi hutan,” ujar Elly.

Menteri Kehutanan Indonesia mengatakan kebakaran kali ini dapat berlangsung lebih lama dari biasanya, bahkan hingga awal November, karena musim hujan datang lebih lambat.

kumparan post embed