Tips agar Anak Bisa Bermain Kolaboratif Bersama Teman-temannya
ยทwaktu baca 3 menit

Seiring bertambahnya usia, anak akan mengalami perubahan dalam hal bermain. Mengutip FirstCry Parenting, ada empat tahap permainan yang dilakukan anak berdasarkan usia dan cara bermainnya, yaitu sebagai berikut.
Permainan soliter (0 โ 2 tahun), yaitu aktivitas bermain yang dilakukan sendirian.
Permainan paralel (2 โ 3 tahun), yaitu aktivitas bermain yang dilakukan anak bersama anak lain, namun tanpa mempengaruhi satu sama lain.
Permainan asosiatif (3-5 tahun), yaitu aktivitas bermain yang mulai melibatkan interaksi sosial sederhana, seperti mengobrol dan bertukar mainan.
Permainan kolaboratif (5 tahun ke atas) yaitu aktivitas bermain yang lebih kompleks dan melibatkan kerja sama. Beberapa permainan kolaboratif yang umum di Indonesia yaitu polisi-polisian, bentengan, gobak sodor, petak umpet, dan lain sebagainya.
Dalam permainan kolaboratif, anak-anak akan mengambil peran untuk mencapai tujuan atau narasi yang sama. Selain itu, anak-anak secara tidak langsung dituntut untuk memahami aturan sosial, seperti berbagi, bekerja sama, bergiliran, dan menangani ketidaksepakatan. Mereka juga harus berpartisipasi menetapkan aturan, mengambil peran menjadi pemimpin, dan berkontribusi agar permainan jadi lebih menyenangkan.
Nah Moms, karena permainan kolaboratif lebih kompleks yang melibatkan keterampilan sosial tertentu, berikut ini tips yang dapat dilakukan orang tua untuk mendorong anak agar tertarik dan ingin terlibat dalam permainan kolaboratif bersama teman-temannya.
Tips Mendorong Anak agar Mau Terlibat dalam Permainan Kolaboratif
1. Ajarkan Konsep Berbagi
Bagi anak-anak, terutama balita, berbagi mungkin merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Pasalnya, sejak bayi ia cenderung lebih sering bermain sendirian. Hal itu mungkin akan terbawa sampai ia tumbuh menjadi balita. Untuk itu, penting bagi orang tua untuk mengajari anak berbagi agar si kecil siap jika akan bermain secara kolaboratif bersama teman-temannya.
2. Bermain secara Bergiliran
Anak berumur 5 tahun ke atas umumnya sudah mulai memahami konsep bergiliran. Apalagi jika sejak bayi ia sudah dibiasakan untuk bermain secara bergiliran, konsep ini mungkin tak akan sulit dipelajari saat memasuki masa kanak-kanak, sehingga ia tidak kesulitan saat bermain dengan teman-temannya.
3. Kerja Sama Tim
Kerja sama tim merupakan salah satu ciri permainan kolaboratif. Anda dapat melatih anak agar mampu bekerja sama dengan membagi tugas harian di rumah, misalnya anak merapikan kasur, sedangkan Anda yang menyapu kamarnya. Selain itu, Anda juga dapat mengajak anak melakukan aktivitas lain yang melibatkan kerja sama, seperti membuat prakarya atau berkebun bersama.
4. Mematuhi Aturan
Permainan kolaboratif biasanya memiliki aturan dan tujuan yang harus diikuti oleh semua pemainnya. Pemain yang tidak bisa mencapai tujuan akan disebut sebagai pihak yang kalah. Sebelum anak terlibat dalam permainan tersebut, pastikan si kecil sudah terbiasa mematuhi aturan di rumah ya, Moms. Tujuannya agar anak dapat menerima kekalahan dan mengikuti permainan secara adil.
