Kumparan Logo

Tips Kendalikan Amarah Saat Anak Balita Mulai Bertingkah

kumparanMOMverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak bertingkah.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak bertingkah. Foto: Shutterstock

Orang tua mana yang tak senang bila anak balitanya tumbuh dengan sehat dan aktif? Tapi jujur saja, ada kalanya balita yang sehat dan aktif justru membuat kita kewalahan dengan ragam ulah dan tingkahnya. Entah itu tiba-tiba marah, uring-uringan, terus melawan, hingga mengamuk tantrum. Aduh, memancing amarah!

Tapi kita sebagai orang tua harus tetap bisa mengendalikan diri, Moms. Sebab mengeluarkan emosi negatif kepada si kecil, tidak akan memperbaiki keadaan dan justru akan mempengaruhi psikologisnya.

Jadi bila lain kali si kecil mulai bertingkah, yuk coba tips mengendalikan amarah dari Young Parents berikut ini:

anak bertingkah Foto: Shutterstock

1. Ingat, Anda Tidak Sendiri

Percayalah, bukan Anda saja yang merasa frustasi ketika anak balita sedang bertingkah. Menurut Alfred Tan, direktur eksekutif Singapore Children's Society, ada lebih banyak orang tua kehilangan kesabaran ketika mengasuh anak-anaknya. Rasa frustasi tersebut sebagian besar disebabkan oleh orang tua yang mempunyai harapan dan tuntutan terlalu tinggi para si kecil.

2. Temukan Pemicunya

Sebelum Anda marah kepada anak, cobalah temukan pemicu amarah tersebut. Namun sebagian besar permasalahan yang paling umum dirasakan anak adalah tekanan sehari-hari, ditambah dengan dorongan terus-menerus dari orang tua.

Selain itu, ada lagi pemicunya disebabkan oleh masalah rumah tangga sehingga dilampiaskan pada anak. Tantangan merawat anak di berbagai tahap perkembangan juga bisa tidak bisa dihindari.

"Untuk orang tua dari bayi, itu mungkin berasal dari sulitnya menghadapi bayi yang menangis hari demi hari, dengan tidak banyak waktu atau kesempatan untuk perawatan diri dan kegiatan sosial atau rekreasi. Selain itu, perkembangan emosi balita yang belum stabil bisa membuat orang tua kesulitan," kata Reshmi Karayan Kayanoth, psikolog senior dari Departemen Kedokteran Psikologi di National University Hospital (NUH).

ilustrasi ibu mengintrogasi anak Foto: Shutterstock

3. Cari Bantuan

Ya Moms, sebagai ibu, kita memang cenderung lebih cepat marah daripada ayah ketika sedang mengasuh si kecil. Secara umum ibu lebih agresif secara verbal, sementara ayah lebih kepada fisik. Oleh sebab itu, perbanyaklah mencari bantuan bila dirasa Anda sulit untuk mengontrol emosi.

"Ini karena ibu biasanya yang mendisiplinkan anak, mengawasi pekerjaan rumah dan mengelola urusan rumah tangga di rumah," kata Frances Yeo, psikolog utama di Thomson Pediatric Center (The Child Development Center).

4. Hindari Bereaksi Berlebihan

Tidak apa-apa sesekali menegur si kecil, tapi tak perlu membentak, Moms. Anak, terutama balita, menyadari lingkungannya dan belajar dari semua itu. Sehingga pengalaman keluarga sedikit banyak akan mempengaruhi perkembangan kepribadian mereka.

"Anak-anak belajar melalui pemodelan. Misalnya, jika orangtua berteriak atau memukul anak itu, anak itu juga dapat melakukan hal yang sama ketika dia marah. Anak Anda mungkin bereaksi dengan menjadi pemberontak, menarik diri atau bahkan cemas dan merasa tidak aman," kata Frances.

Ilustrasi balita bertingkah, ibu bereaksi akan marah. Foto: Shutterstock

5. Menjauh Sebentar

Frances menyarankan agar ibu melakukan tiga langkah untuk mengatasi rasa amarah. Pertama, kenali bahwa Anda memang marah, selanjutnya berjalan menjauh dari situasi yang membuat Anda marah dan tenangkan diri. Setelah itu, kembali lagi untuk menyelesaikannya usai pikiran menjadi jernih. Jika belum tenang juga, mintalah suami Anda untuk menggantikan menjaga anak sementara selama Anda menenangkan diri.

6. Minta Maaf

Bila Anda baru saja meledakkan emosi Anda, segeralah minta maaf kepada si kecil. Ini sebenarnya adalah satu langkah pengendalian amarah terbaik yang bisa diambil untuk mengembalikan hubungan dan membangun kepercayaan pada anak lagi. Akui bahwa Anda salah dan telah kehilangan kendali.

Bicarakan tentang apa yang terjadi yang meningkatkan emosi dan apa yang bisa dilakukan secara berbeda untuk mencegah terulangnya. Itu memberdayakannya dan membangun keterampilan pemecahan masalahnya juga.

7. Cari Kegiatan yang Menyenangkan

Cobalah untuk mengikuti kegiatan rutin seperti berolahraga, menemui teman-teman, melakukan hobi, bersantai menonton film, itu adalah cara efektif untuk Anda mengelola stres, Moms. Selain itu, Anda juga bisa bercerita dengan suami atau orang terdekat untuk membantu Anda mengatasi emosi negatif tersebut.

ibu dan anak bermain di rumah Foto: Shutterstock

8. Tetapkan Aturan

Buatlah seperangkat aturan sehingga Anda tahu untuk masuk untuk berbicara jika ayah akan meledak dalam kemarahan. Hindari bertengkar di depan anak-anak. Itu hanya akan membingungkan mereka. Ketika dia sudah tenang, jangan mulai menyalahkan suami Anda.

Dengarkan dia dan katakan padanya Anda ada untuknya. Jika dia jelas memiliki masalah manajemen kemarahan, sarankan Anda mencari bantuan bersama sebagai pasangan. Sebab membantu istri atau suami Anda misalnya untuk menghilangkan stres dengan menawarkan diri seperti menawarkan untuk menjaga anak-anak di akhir pekan.

9. Perbaiki Ikatan

Tidak ada kata terlambat untuk membangun kembali hubungan Anda dengan anak-anak Anda. Jika Anda belum meminta maaf, segeralah meminta amaf kepada si kecil. Bila sudah melakukan hal-hal tersebut tetapi amarah belum juga bisa dikontrol, segeralah cari layanan kesehatan mental untuk mendapatkan bantuan, Moms.