Kumparan Logo

Vaksin Campak Belum Merata, Beberapa Daerah Hanya Capai 11 Persen

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas menyuntikkan vaksin campak rubella kepada seorang anak dalam Bulan Imuniasi Anak Nasional (BIAN) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) III Tanah Abang, Jakarta, Kamis (4/8/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menyuntikkan vaksin campak rubella kepada seorang anak dalam Bulan Imuniasi Anak Nasional (BIAN) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) III Tanah Abang, Jakarta, Kamis (4/8/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Moms, masih banyak anak di Indonesia yang belum mendapatkan vaksin campak secara lengkap. Kondisi ini membuat risiko penularan penyakit campak tetap tinggi, terutama di daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), mengungkapkan bahwa meski data resmi berada di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, temuan di lapangan menunjukkan masih banyak anak yang belum mendapatkan vaksin campak-rubella (MR).

Ia menyebut, beberapa daerah bahkan memiliki cakupan yang sangat rendah. Wilayah seperti Aceh, Sumatera Barat, Riau, serta kawasan Tapal Kuda dan Madura di Jawa Timur, termasuk Sumenep, menjadi contoh daerah dengan cakupan imunisasi rendah.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Bahkan, dalam pelaksanaan program sebelumnya, ada wilayah yang hanya mencapai sekitar 11 persen, jauh dari target nasional sebesar 90 persen.

“Padahal targetnya 90 persen kita bayangkan ya. Jadi betul-betul ini sangat memprihatinkan,” kata dr. Piprim di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3).

Bayi Bergantung pada Kekebalan Lingkungan

Selain itu, dr. Piprim juga mengatakan bayi berusia di bawah 9 bulan yang belum masuk jadwal imunisasi sangat bergantung pada kekebalan lingkungan, khususnya dari orang tua. Jika orang tua telah mendapatkan vaksin lengkap, maka bayi ikut terlindungi dari risiko penularan.

Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock

Ia juga menyebut, dalam situasi wabah atau kejadian luar biasa, pemberian booster vaksin MR pada orang dewasa dapat menjadi langkah tambahan untuk memperkuat perlindungan, meski program pemerintah saat ini tetap difokuskan pada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun.

Menurutnya, vaksin campak tetap efektif diberikan kepada orang dewasa yang belum atau belum lengkap imunisasinya. Ia juga kerap mengingatkan bahwa praktik vaksinasi telah dikenal sejak masa Kekaisaran Utsmaniyah sebelum kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Edward Jenner.

Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock

Piprim pun mengajak masyarakat, khususnya para orang tua, untuk tidak ragu melakukan vaksinasi. Ia menegaskan, penolakan vaksin justru berisiko menjadikan anak sebagai sumber penularan campak, sehingga kesadaran bersama sangat penting untuk melindungi kesehatan anak-anak Indonesia.

“Ayo kembali kita fokus kita satu jaga kesehatan anak-anak Indonesia. Jangan egois karena bisa jadi ketika kita menolak vaksinasi, anak-anak kita lah yang sumber penularan dari virus campak ini,” pungkasnya.