Kumparan Logo

Wacana Dokter Umum Dilatih Jadi Obgyn, Apa Kata Para Ibu yang Tinggal di 3T?

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu berteriak saat melahirkan. Foto: christinarosepix/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu berteriak saat melahirkan. Foto: christinarosepix/Shutterstock

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berencana melatih dokter umum sebagai obgyn untuk ditempatkan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Sejumlah ibu yang tinggal di daerah juga turut merespons wacana ini.

Ibu di Fakfak, Papua

Jeany Gracelda Umboh, ibu 2 anak yang punya pengalaman lahiran di Fakfak, Papua, menceritakan pengalamannya melahirkan anak pertama. Jeany bercerita, di seluruh Fakfak hanya ada 1 orang dokter kandungan. Dokter tersebut bertugas di RSUD Fakfak dan buka klinik di rumah pada malam hari.

Saat melahirkan, ia juga dalam pantauan dokter tersebut, namun penanganannya dilakukan oleh bidan karena dokter sedang melakukan operasi caesar. Namun mirisnya, ada seorang ibu yang lahiran bersamaan dengannya, harus berakhir meninggal dunia, termasuk bayinya juga.

"Pasien ini selama hamil hanya melakukan pemeriksaan ke bidan kampung (bukan bidan yang ada di puskesmas), setelah merasa ada kejanggalan dan sakit yang bukan biasanya, baru dibawa ke rumah sakit," kata Jeany.

Saat itu Jeany melihat ibu tersebut sudah mengalami pendarahan hebat dan raut mukanya tampak sangat kesakitan. Suasana di ruangan penuh kepanikan, sementara dokter masih sibuk mengoperasi pasien lain.

"Jujur situasi saat itu membuat saya sempat frustrasi, tapi karena keluarga saya menyemangati, saya pun semangat lagi dan akhirnya bisa melahirkan dengan baik," kata Jeany.

Ilustrasi ibu melahirkan caesar. Foto: martin81/Shutterstock

"Setelah saya dipindahkan ke kamar ibu dan anak, saya mendengar pasien yang di sebelah saya telah meninggal baik ibu tersebut dan juga bayi nya," imbuh perempuan yang kini tinggal di Manado, Sulawesi Utara, ini.

Saat itu perasaan Jeany campur aduk. Ia tersadar, begitu beratnya perjuangan seorang ibu, apalagi dengan pengetahuan terbatas, dan akses kesehatan yang masih minim.

Tapi sebagai warga yang sempat tinggal di daerah 3T, Jeany juga ragu jika harus ditangani dokter umum yang dilatih sebagai obgyn. Menurutnya, yang lebih penting dilakukan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan rutin selama kehamilan. Sebab di lingkungan tempat tinggalnya itu, banyak ibu yang belum paham pentingnya pemeriksaan rutin saat hamil maupun pemenuhan nutrisi bagi ibu dan janin.

"Semoga wacana ini dipikirkan secara matang yang terbaik untuk ibu hamil dan bayi agar ketika wacana ini terlaksana, diterima dengan baik untuk menjangkau daerah-daerah 3T di Indonesia," kata Jeany.

Ibu di Kota Bima, NTB

Ilustrasi ibu melahirkan. Foto: Shutterstock

Khusnul Khatimah, ibu 2 anak asal Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, juga mengutarakan kondisi serupa. Khusnul mengaku, jumlah dokter obgyn di wilayah tempat tinggalnya juga tidak banyak, yakni hanya ada 3 orang. Dari ketiga orang tersebut, ada 1 dokter favorit yang antreannya begitu panjang sehingga tidak mudah diakses.

Karena jumlahnya yang terbatas ini, pernah ada kejadian ibu hamil yang tidak tertolong nyawanya.

"Tempo hari saya pernah dengar ada kasus ibu, kalau tidak salah itu pada saat Hari Raya Idul Fitri, itu ada kasus ibu hamil meninggal karena keadaannya harus segera dioperasi tapi pada saat itu dokter obgynnya tidak ada karena semuanya lagi liburan, tanggal merah kan. Nah, jadi ibunya tidak tertolong," tutur Khusnul.

Meski dokter obgyn di Kota Bima hanya ada 3 orang, ia tetap berpikir ulang jika dalam kondisi tertentu harus ditangani oleh dokter umum yang dilatih sebagai obgyn. Sebab ia khawatir penanganannya tidak akan optimal.

Ibu di Nunukan, Kalimantan Utara

Ibu lainnya yang tinggal wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, Nuryani, juga menuturkan keterbatasan dokter kandungan di wilayahnya. Ibu 2 anak yang tinggal di Nunukan, Kalimantan Utara, ini menyebut hanya ada 3 dokter obgyn di Pulau Nunukan.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu dokter kandungan tersebut tidak praktik karena sedang sekolah, sehingga yang tersisa hanya ada 2 dokter kandungan. Selain kedua dokter itu ada dokter radiologi yang bisa menangani USG, namun Yani tak pernah periksa ke sana dan lebih memilih antre di dokter kandungan.

Itu pun, menurut Yani--sapaan akrabnya, fasilitas kesehatan di Nunukan adalah yang terbaik di lokasi tersebut, dan menjadi faskes rujukan dari daerah-daerah lain di sekitarnya.

"Kayak di Pulau Sebatik, Sei Menggaris, itu dokter umum aja masih langka daerah situ. Apalagi dokter kandungan, kayaknya nggak ada," katanya.

Yani menyebut, suaminya selama ini bekerja di Sei Menggaris. Di sana, hanya ada 1 dokter umum dan 1 dokter gigi. Jika ada persalinan, hanya bidan yang bisa menangani.

"Kalau rujuk ya tetap dia harus nyeberang ke sini," tuturnya.

Sebagai gambaran, untuk menuju ke Nunukan, warga Sei Menggaris perlu menyeberang naik boat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Atau bisa juga dengan kapal feri namun waktu tempuhnya lebih lama dan jadwalnya hanya seminggu sekali.

"Seadainya untuk daerah lain ada dokter yang dibekali kemampuan seperti obgyn, itu lebih baik menurutku. Bidan juga perlu dibekali kemampuan (yang lebih baik)," tuturnya.