Waspada, Moms! Ini 4 Penyakit yang Kerap Disebut Silent Disease pada Anak
·waktu baca 4 menit

Moms, pernahkah Anda mendengar istilah silent disease pada anak? Ya, silent disease kerap dimaknai sebagai penyakit yang tidak memunculkan gejala tapi dampaknya bisa sangat serius. Namun sebetulnya menurut para ahli, penyakit tersebut bukan tidak memunculkan gejala, hanya saja gejala yang muncul tidak spesifik atau bahkan terkadang tidak disadari oleh orang tua.
Silent disease ini biasanya baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam, seperti tes darah atau medical check up. Lantas apa sih yang termasuk kategori silent disease?
Silent Disease yang Kerap Dialami Anak
1. TBC
Tuberculosis atau TBC atau TB pada anak saat ini sedang mendapat perhatian serius dari para ahli. Sebab menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr. Imran Pambudi, MPHM, kasus TBC di Indonesia saat ini menempati posisi ke-2 terbesar di dunia! Bahkan pada 2022, kasus TBC di Indonesia sebanyak 100.726, naik 200 persen dari tahun 2021 sebesar 42.187 kasus.
TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru namun dapat menyerang hampir semua organ tubuh. Gejala TBC pada anak juga seringkali tidak disadari. Bahkan menurut dr. Imran, gejalanya bisa muncul 2 tahun kemudian!
Anak dengan TBC ditandai dengan berat badan turun atau tidak naik dalam 2 bulan, batuk lebih dari 3 minggu, demam lebih dari 3 minggu, lesu, tidak nafsu makan, dan ada benjolan lebih dari satu di leher.
2. Pneumonia
Pneumonia atau radang paru-paru juga kerap disebut sebagai number one silent desiase in children. Menurut data WHO, pada 2017 ada 25.481 kematian balita karena pneumonia di Indonesia. Data itu membuat Indonesia masuk dalam peringkat ke-7 negara dengan kasus pneumonia terbanyak di dunia.
Pneumonia biasanya diawali dengan gejala yang tidak spesifik, seperti demam, tampak sesak napas, muntah, diare, kehilangan nafsu makan, hingga batuk kering atau batuk berdahak disertai lendir.
3. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
ISK termasuk penyakit yang kerap ditemukan pada anak. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Amerika Serikat, 3 dari 100 anak mengalami ISK. Penyakit ini bisa dialami oleh anak laki-laki maupun perempuan.
Berikut beberapa fakta soal ISK pada anak:
Bayi di bawah usia 12 bulan lebih mungkin terkena ISK dibandingkan anak yang lebih besar.
Selama beberapa bulan pertama kehidupan, ISK lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.
Pada usia 1 tahun, anak perempuan lebih mungkin terkena ISK dibandingkan anak laki-laki—dan anak perempuan terus memiliki risiko lebih tinggi sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.
Mengutip laman IDAI, ISK disebabkan oleh kuman Escherichia coli yang berasal dari saluran cerna anak. Selain Escherichia coli, ISK dapat disebabkan karena kuman lain, seperti Klebsiela, Proteus, Enterokokus, atau Enterobakter.
Gejala anak terkena ISK pun tergantung dari usia, tempat infeksi dan berat reaksi peradangannya. Pada bayi baru lahir (neonatus), gejala klinis tidak spesifik sehingga sering tidak terdeteksi. Gejalanya bisa berupa kesulitan minum, tampak kuning, gagal tumbuh, muntah, diare, suhu tubuh turun atau meningkat.
Lalu pada bayi yang berumur di atas satu bulan, gejalanya bisa berupa demam, penurunan berat badan, tidak nafsu makan, sering menangis, kulit menguning dan sering mengalami diare.
Pada anak yang lebih besar, gejalanya bisa berupa anyang-anyangan, sering merasa sakit atau nyeri ketika buar air kecil, sering mengompol, air kemih berwarna keruh, nyeri di pinggang dan muntah-muntah. Dalam kasus yang parah, anak mungkin mengalami kejang-kejang yang disertai dengan menggigil.
4. Anemia Defisiensi Besi (ADB)
Menurut Dokter spesialis gizi klinik dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia dr Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, 1 dari 3 anak Indonesia mengalami ADB.
Padahal, kebutuhan zat besi cukup vital, terutama pada periode kritis kehidupan anak yakni masa kanak-kanak awal dan remaja. Zat besi ini dibutuhkan, salah satunya untuk perkembangan sistem saraf pusat.
Beberapa gejala anemia defisiensi besi seperti lelah, lemah, kulit pucat atau kuning, sesak napas, pusing dan sakit kepala. Anak juga bisa mengalami detak jantung cepat atau tidak teratur, nyeri dada, kaki dan tangan dingin, kuku rapuh, rambut rontok, pika (ingin mengonsumsi hal-hal selain makanan, seperti tanah liat, pasir atau batu) dan sakit pada lidah.
Nah Moms, itulah beberapa penyakit yang kerap dianggap sebagai silent killer atau silent disease pada anak. Lantas bagaimana cara mencegahnya, ya?
Agar lebih jelas, yuk ikuti kumparanMOM Playdate Oktober yang akan digelar pada Minggu, 29 Oktober 2020 di kantor kumparan. Karena, di sana akan ada talkshow dengan tema “Waspada Silent Disease, Beneran Silent Nggak Sih?” bersama narasumber dokter spesialis anak.
Selain itu, ada berbagai aktivitas menarik yang bisa dilakukan ibu dan anak. Mulai dari bermain bersama melengkapi puzzle, birthday bash, hingga games cerdas cermat hebat bagi -anak. Tunggu apa lagi, yuk segera daftarkan diri Anda dan si kecil dengan klik link berikut: https://kum.pr/oktober.
Untuk informasi lainnya, bisa dilihat dalam artikel berikut:
