Waspada Pneumonia Mycoplasma, Anak Lagi Sakit Disarankan Tak Masuk Sekolah
ยทwaktu baca 3 menit

Peningkatan kasus pneumonia di China masih terus dipantau oleh Kementerian Kesehatan. Meski begitu, para orang tua juga perlu mewaspadai karena anak-anak masuk kelompok rentan mengalami pneumonia.
Sebelum itu, perlu diketahui bahwa pneumonia mycoplasma merupakan salah satu penyebab infeksi saluran pernapasan, bahkan sebelum pandemi COVID-19. Mycoplasma pneumoniae dapat ditularkan lewat cairan droplet melalui udara.
Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), mengungkapkan pneumonia mycoplasma rentan dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak.
"Mycoplasma pneumoniae ini infeksi karena bakteri, yang bisa menyerang dewasa dan anak. Kategorinya atipikal, tidak terlalu banyak namun jarang terjadi. Dan bisa menimbulkan risiko pneumonia berat dan dapat mengancam jiwa," jelas Dr. Agus dalam konferensi pers 'Waspada Ancaman Pneumonia Mycoplasma' yang digelar secara daring, Jumat (1/12).
Sementara itu, Dokter Spesialis Baru RSUP Persahabatan DR.dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P (K) mengungkapkan, gejala seseorang yang terkena infeksi M. Pneumoniae umumnya baru muncul 1-4 minggu setelah terinfeksi.
Nah Moms, berikut adalah gejala pneumonia mycoplasma yang bisa terjadi pada anak-anak, khususnya di bawah 5 tahun:
Bersin-bersin
Hidung tersumbat
Sakit tenggorokan
Mata berair
Mengi
Muntah atau diare
Menurut dr. Erlina, diagnosis bakteri ini juga tidak dapat diperiksa dengan menggunakan pemeriksaan gram. Namun, dilakukan pemeriksaan -ray terutama bagian thorax.
"Bagaimana dengan di Indonesia? Kita belum sampai pengecekan strain mycoplasma pneumoniae. Anak-anak juga tidak dilakukan swab," jelas dr. Erlina.
Langkah Pencegahan pada Anak Agar Terhindar dari Pneumonia Mycoplasma
Nah Moms, Dokter Spesialis Anak Subspesialisasi Pulmonologi Respirologi RS Cipto Mangunkusumo, Dr., dr. Nastiti Kaswandani, SpA(K), menjelaskan bahwa pneumonia mycoplasma cenderung menyerang lebih banyak anak-anak usia sekolah ketimbang balita.
"Kalau mendengar kata pneumonia kesannya mengancam jiwa. Tapi sebenarnya itu pneumonia yang atipikal. Dan penyebabnya mycoplasma pneumoniae itu utamanya menyerang anak sekolah bukan balita. Karena mereka bertemu dengan banyak orang di sekolahnya," jelas dr. Nastiti
Khusus bagi anak-anak, dr. Nastiti mengungkapkan beberapa langkah preventif yang bisa dilakukan orang tua, seperti:
Berikan nutrisi yang adekuat untuk anak. Untuk bayi, berikan ASI eksklusif sampai dua tahun
Lengkapi semua imunisasi yang direkomendasikan oleh IDAI dan Kemenkes, karena beberapa imunisasi ada yang berkaitan dengan pneumonia.
Orang tua berhenti merokok, karena anak yang yang tinggal dengan perokok rentan terkena ISPA dibandingkan ayah ibu yang tidak merokok.
"Pesannya untuk balita, lengkapi imunisasi. Ketika terjadi pneumonia biasanya dicari penyebabnya, karena seringkali tidak hanya satu bakteri aja. Kadang virus, lalu ditempeli bakteri. Sehingga semua vaksin yang dianjurkan penting untuk dilengkapi," tuturnya,
Dan untuk masyarakat umum, mengingat bakteri ini bisa menginfeksi siapa saja. dr. Erlina mengingatkan untuk melakukan langkah pencegahan. Sebenarnya, pencegahannya tidak jauh berbeda seperti Anda menghadapi pandemi COVID-19 sebelumnya, Moms.
Tindakan pencegahan yang perlu dilakukan masyarakat, antara lain:
Mempertahankan kebiasaan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk rutin cuci tangan dan tetap pakai masker
Menjaga kesehatan anak, termasuk mencegah anak dengan gejala infeksi untuk masuk sekolah
Menjaga jarak dengan orang sakit dan tidak bepergian ketika sakit
Menggerakkan vaksin COVID-19 di pusat pelayanan vaksinasi terdekat
Segera periksakan diri ke dokter jika membutuhkan perawatan
