1.100 Rumah Bantuan Dhuafa Aceh Batal Dibangun di 2019

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pembangunan rumah (ilustrasi). Foto: Antara/Mohamad Hamzah
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan rumah (ilustrasi). Foto: Antara/Mohamad Hamzah

Baitul Mal Provinsi Aceh rencananya membangun 1.100 rumah dhuafa di akhir 2019 ini. Namun, proyek yang sudah diverifikasi sejak 2018 lalu ini harus mundur karena tak kunjung dibangun.

Padahal, menurut anggota DPR Aceh (DPRA) Iskandar Usman Al-Farlaky, alokasi rumah pada Baitul Mal Aceh sudah melalui seluruh tahapan evaluasi, verifikasi, hingga rapat koordinasi. Termasuk dengan asosiasi konstruksi, asosiasi konsultan, dan LPJK.

"Dewan Syariah Baitul Mal juga sudah setuju dibangun tahun 2019 ini. DPA-nya sudah disahkan di APBA-P. Anehnya, kenapa batal dieksekusi?" ujar Iskandar pada kumparan, Minggu (24/11)

Politisi Partai Aceh itu mengaku banyak calon penerima bantuan kebingungan dan mempertanyakan alasan pembatalan rumah tersebut. Keluhan itu ia terima dari masyarakat yang datang menemuinya.

“Mempertanyakan kenapa pembangunan 1.100 unit rumah yang sudah diverifikasi batal dibangun,” kata Iskandar.

kumparan post embed

Sebenarnya, Sekretariat Baitul Mal Aceh, kata Iskandar, telah memerintahkan langkah-langkah pengerjaan seperti validasi ulang ke 23 kabupaten/kota, menetapkan tim pengelola, berkonsultasi dengan ULP. Pokja untuk pembangunan rumah, sudah ada yang ditetapkan berdasarkan wilayahnya masing-masing.

"Validasi 23 kabupaten/kota selesai dilakukan, daftar perusahaan sudah disampaikan ke ULP, namun tiba-tiba informasi yang beredar pembangunan pending dan batal dieksekusi, kenapa?" sebut Iskandar.

Nilai rumah bantuan Baitul Mal Aceh ini per-unitnya mencapai Rp 80 juta. Jumlah total pagu anggaran untuk 1.100 mencapai Rp 88 miliar.

Atas dasar pembatalan itu, kata Iskandar, pihaknya telah menyurati secara resmi Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Musababnya, bantuan rumah tersebut sangat dinanti calon penerima rumah itu sendiri.

"Masyarakat sudah pasti memiliki pertanyaan yang sama. Apalagi bagi mereka yang sekarang sangat berharap rumahnya bisa segera dibangun oleh pihak Baitul Mal. Kita berharap ada penjelasan yang objektif dan bisa segera dikerjakan demi kepentingan masyarakat banyak," pungkasnya.

Ilustrasi pembangunan rumah. Foto: Pixabay

Sementara itu, Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Rahmad Raden mengungkapkan, bantuan rumah dhuafa tersebut tidak dibatalkan. Namun, pengerjaannya ditunda dan akan dilanjutkan pada 2020 mendatang.

“Bahasanya bukan dihentikan akan tetapi ditunda, karena kalau dilanjutkan tahun ini kemungkinan besar dan diperhitungkan waktunya sudah tidak cukup. Jadi waktunya tidak cukup untuk pembangunan. Makanya ditunda daripada nanti tidak selesai,” ujar Rahmad saat dikonfirmasi.

Rahmad menjelaskan, dari 1.100 rumah tersebut institusinya telah menyiapkan semua proses perencanaan. Namun di tengah perjalanan waktu sudah tidak cukup, makannya diambil keputusan untuk ditunda.

“Rencananya akan dilanjutkan tahun 2020. Rumah itu dibangun bukan menggunakan dana zakat tetapi dana infak. Dana infak dan zakat yang ada di Baitul Mal itu secara aturan adalah pendapatan asli Aceh,” tuturnya.

Rahmad menjelaskan, rencana awalnya pembangunan rumah itu dibangun setelah APBA-P, semua perlengkapan administrasi sudah diselesaikan. Namun demikian, setelah menghitung waktu tidak memungkinkan sehingga ditunda.

“Kita berharap sebenarnya bisa dibangun awal Oktober ternyata tidak dapat. Dibangun di 23 kabupaten/kota dengan jumlah berbeda-beda, tahap verifikasi sudah selesai dilakukan hanya saja tinggal tahap pembangunan,” pungkasnya.