100 Juta Warga RI Di-booster Vaksin Corona 2022, Orang Miskin Dapat Gratis

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Vaksin Corona pada Anak. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Vaksin Corona pada Anak. Foto: Shutterstock

Wacana pemberian booster atau vaksin COVID-19 dosis ketiga untuk masyarakat umum kini tengah dibahas oleh pemerintah. Vaksinasi ini memang perlu ditambah dosisnya.

Sebab menurut hasil penelitian, kadar antibodi yang dihasilkan vaksin pada dosis pertama dan kedua di dalam tubuh penerimanya akan perlahan memudar setelah 6 bulan.

Menurut Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu, Saat ini memang hanya tenaga kesehatan (nakes) yang diizinkan mendapat booster, namun masyarakat umum juga akan mendapatkannya di 2022 mendatang.

"Jadi kalau lihat ini saya juga baca bahwa AS sudah akan booster, kita di Indonesia ini memang baru nakes karena kita memprioritaskan nakes itu booster karena mereka sering terpapar dengan pasien-pasien. Nah bagaimana program kita ke depan, kita tahun depan sudah lakukan skema untuk booster, tahun depan bagi yang sudah divaksinasi dosis 2," kata Maxi.

Hal ini disampaikan dalam acara 'Dialog Produktif Semangat Selasa | Kesiapan Hidup Berdampingan Dengan Covid-19' yang disiarkan melalui YouTube FMB 9, Selasa (7/9).

Akan tetapi, pemberian booster secara gratis ini memang hanya akan diprioritaskan kepada masyarakat yang tidak mampu.

"Skema ini sudah kami buat sekalipun memang pemerintah tidak mampu melakukan pembayaran untuk semua penduduk seperti saat ini. Jadi kita akan prioritaskan terutama masyarakat miskin, jumlahnya cukup banyak ya 100 juta. Itu akan kita prioritaskan program pemerintah untuk dilakukan booster," tambahnya.

Plt Dirjen P2P Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu. Foto: Kemenkes RI

Dengan itu berarti pemerintah harus mencari vaksin tambahan, di luar kebutuhan herd immunity. Namun Maxi belum menjelaskan vaksin apa yang akan digunakan menjadi booster.

Di sisi lain, Maxi menyampaikan alasan pemberian booster ini masih harus ditunda karena alasan kemanusiaan. Rasanya tidak adil memberikan booster apabila mayoritas penduduk dunia masih belum mendapatkan vaksin dosis pertama dan kedua.

"Dalam perkembangannya kita akan terus menyesuaikan. Karena memang WHO belum mengizinkan untuk melakukan booster. Bukan tidak boleh secara medis, tapi secara kesetaraan itu masih banyak masyarakat di dunia ini yang belum divaksinasi. Rata-rata dunia baru di bawah 10% yang mendapat vaksin," jelas Maxi.

Terakhir, ia kembali menambahkan bahwa penanganan pandemi ini tak akan selesai meskipun terdapat negara yang sudah memberikan booster kepada warganya. Sebab, selama masih banyak negara lain yang belum memberikan vaksin, maka negara masih belum bisa aman dari pandemi COVID-19.

"Kalau penanganan pandemi ini enggak bisa. Sekalipun AS sudah dosis 3 tapi negara lain ada yang belum divaksin itu kan masih mengkhawatirkan karna mobilitas sekarang cepat dari negara ke negara lain, jadi penanganan secara dunia itu tidak mungkin negara itu merasa sudah aman kalo dia sudah selesai vaksin [dosis] satu [dan] dua maupun booster. Tidak menjadi jaminan negara itu aman," tutup Maxi.