100 Tahun Gereja Hati Kudus Berdiri di Aceh, Jemaat Rayakan dengan Khidmat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jemaat Gereja Paroki di Aceh saat memperingati 100 tahun berdirinya. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jemaat Gereja Paroki di Aceh saat memperingati 100 tahun berdirinya. Foto: kumparan

Lantunan doa menggema sejak pagi dalam perayaan Ekaristi yang menjadi pembuka rangkaian Pesta Yubileum 100 Tahun Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Banda Aceh, Minggu (27/9/2026).

Perayaan tersebut menjadi bagian penting dari peringatan satu abad perjalanan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus di Banda Aceh. Peringatan ini tidak hanya menandai usia gereja, tetapi juga menjadi momentum bagi umat untuk merefleksikan perjalanan iman sekaligus mensyukuri keberadaan umat Katolik di Aceh hingga saat ini.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan. Setelah ibadah, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan syukuran Yubileum 100 Tahun yang dihadiri umat Katolik dari sejumlah wilayah di Aceh serta para tamu undangan.

Pembina Masyarakat Katolik Aceh sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Dewan Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Banda Aceh, Baron Ferryson Pandiangan, mengatakan peringatan tersebut merupakan perayaan iman umat Katolik di Banda Aceh dan wilayah sekitarnya.

“Ini pertama adalah perayaan iman. Perayaan iman orang-orang Katolik yang ada di wilayah Banda Aceh sekitarnya,” kata Baron.

Jemaat Gereja Paroki di Aceh saat memperingati 100 tahun berdirinya. Foto: kumparan

Menurutnya, selama satu abad, terhitung sejak 1926 hingga 2026, Paroki Hati Kudus Yesus tidak hanya menjadi tempat umat menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan kehidupan umat Katolik di Aceh.

Paroki Hati Kudus Yesus Banda Aceh saat ini menjadi paroki induk yang melayani umat Katolik di sejumlah daerah. Pelayanannya mencakup Stasi Meulaboh, Sabang, Takengon, Lhokseumawe, dan Bireuen.

Karena itu, perayaan 100 tahun tersebut turut menjadi ruang perjumpaan umat dari berbagai wilayah.

“Dalam rangka kebersamaan iman umat di Banda Aceh sekitarnya ini, maka 100 tahun ini dirayakan secara bersama,” ujarnya.

Baron menyebut saat ini terdapat sekitar 328 kepala keluarga atau sekitar 868 jiwa yang berada dalam pelayanan Paroki Hati Kudus Yesus di Aceh.

Jumlah tersebut mencakup umat di Banda Aceh dan sejumlah wilayah pelayanan lainnya, seperti Lhokseumawe, Sabang, Takengon, Meulaboh, dan Bireuen.

Bagi umat, jumlah tersebut menjadi bagian dari gambaran perjalanan komunitas Katolik yang terus menjalankan kehidupan iman di tengah keberagaman masyarakat Aceh.

Baron mengatakan peringatan satu abad diharapkan tidak berhenti sebagai penanda usia gereja. Momentum tersebut diharapkan menjadi dorongan agar umat semakin bertumbuh dalam kehidupan iman sekaligus memperkuat pelayanan kepada sesama.

“Harapannya dengan perayaan ini, tentu 100 tahun, umat-umat Katolik yang ada di paroki ini semakin bertumbuh dan semakin berbuah iman-iman kekatolikannya,” katanya.

Ia berharap pertumbuhan tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan rohani maupun aktivitas sosial kemasyarakatan.

“100 tahun ini bukan hanya angka,” ujar Baron.

Menurutnya, perjalanan satu abad tersebut juga menunjukkan perkembangan kehidupan iman umat Katolik di Aceh yang berjalan dengan dukungan berbagai pihak.

“Menampakkan bahwa perkembangan iman umat Katolik di Aceh ini berjalan dengan baik dan penuh toleransi. Dan tentu didukung oleh banyak hal, stakeholder-stakeholder yang mendukung kami,” katanya.