Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
1000X Innovation Challenge: Mahasiswa UI Tingkatkan Akurasi Deteksi TBC Jadi 87%
27 Februari 2025 11:19 WIB
·
waktu baca 4 menit
ADVERTISEMENT
Marvin Foundation bersama The Habibie Center sukses menyelenggarakan Grand Final 1000X Innovation Challeng e di Auditorium FEB UI, Selasa (25/2). Juara 1 pada lomba ide inovasi untuk mahasiswa seluruh Indonesia tersebut adalah Tim Oculab dari Universitas Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pada Rabu (26/2), tim Oculab bersama 10 tim finalis lainnya mengunjungi kantor kumparan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, untuk bertemu CEO kumparan Hugo Diba. Dalam kunjungannya itu, Tim Oculab yang beranggotakan beranggotakan Luthfi Misbachul Munir, Annisa Az Zahra, dan Dyah Laksmi Mahyastuti bercerita banyak tentang inovasi yang mereka kembangkan, yaitu teknologi inovasi dalam bidang kesehatan bernama Oculab.
Mereka bercerita bahwa software Oculab membantu pekerjaan laboran (teknisi laboratorium) untuk mengidentifikasi dan menghitung bakteri penyakit tuberkulosis. Produk ini merupakan hasil pengembangan dari tugas akhir Apple Developer Academy 2024 yang diikuti Luthfi dan Annisa.
Bagi mereka, mengikuti ajang 1000X Innovation Challenge adalah sebuah cara untuk mendapatkan validasi saintifik dari produk bidang medis yang sedang mereka kembangkan.
ADVERTISEMENT
“Sebenarnya tujuan ikut lomba itu bukan nyari menang atau kita pengen dapet hadiahnya. Tapi lebih ke kita emang lagi ngembangin produk dan produk ini emang di bidang medikal. Jadi harus tervalidasi secara saintifik bahkan secara bisnis marketnya,” tutur Dyah Laksmi, mahasiswi Teknik Elektro UI.
Ide Oculab tercetus lantaran sebagian anggota dan keluarga tim ini memiliki keluhan penyakit. Awalnya, tim ini berniat untuk membuat inovasi pada kanker paru-paru. Tetapi, setelah melakukan riset lebih dalam dan berdiskusi dengan ahli di UI dan RS Cipto Mangunkusumo, inovasi pada kanker dinilai tim terlalu sulit untuk dibuat. Maka, tim memutuskan untuk membuat inovasi pada penyakit tuberkulosis mengingat masih banyak penderita tuberkulosis di Indonesia.
“Dari penyakit-penyakit kita tuh ada poinnya masing-masing. Terus kita coba nyari penyakit mana sih yang lebih concerning di Indonesia dan ternyata kita ketemu nih tuberkolosis,” timpal Annisa, mahasiswi Sistem Informasi UI.
ADVERTISEMENT
“Aku beruntung banget bisa sembuh dari tuberkulosis. Tapi ternyata di Indonesia masih banyak banget yang kena tuberkulosis. Tingkat akurasi deteksinya juga masih rendah. Dari situ kayak kita coba bikin impact dari yang kecil dulu, dari penyakit tuberkulosis,” tutur Luthfi pada kesempatan yang sama.
Cara kerja software ini adalah mendeteksi visual mikroskop dari saliva orang dengan indikasi tuberkulosis. Dari visual ini, software Oculab akan otomatis menghitung jumlah bakteri penyebab tuberkulosis.
“Jadi kalau kita lihat mikroskop itu kan bulat gitu ya bentuknya. Di dalam bulatan itu tuh ada kayak bakteri-bakteri merah-merah kecil. Nah tugas dari laboran atau dokter itu untuk identifikasi mana bakterinya dan dihitung. Kira-kira seberapa parah sih si pasien tersebut kena tuberkulosis dan untuk menentukan obat yang tepat juga ke depannya,” jelas Luthfi.
ADVERTISEMENT
Saat ini, tingkat akurasi deteksi tuberkulosis secara manual oleh laboran hanya berada di angka 45 hingga 70 persen. Dengan software Oculab, tingkat akurasi deteksi tuberkulosis ini meningkat sampai 87 persen. Mereka berharap tingkat akurasi ini akan meningkat lagi seiring dengan pengembangan teknologi artificial intelligence (AI) softwarenya ditambah dengan validasi dari dokter.
“Nah kalo misalnya dari AI kami sendiri, dari hasil testing kami, sekarang itu lagi di progres 87 persen. Tapi kami punya target ke depannya dari gabungan dari AI kami dan juga divalidasi sama dokter itu semoga ke depannya bisa di angka 97-98 persen,” lanjut mahasiswa Teknik Komputer ini.
Setelah memenangkan 1000X Innovation Challenge, tim ini telah menyiapkan beberapa rencana untuk terus mengembangkan produk Oculab. Ada 3 rencana yang telah disiapkan mereka.
ADVERTISEMENT
“Untuk ke depannya, kita tuh udah bikin roadmap. Kita tuh bahkan bikin roadmap optimis, realistis, bahkan pivot. Jadi nggak ada roadmap pesimis, karena kami percaya kalau misalkan entrepreneurship gagal yaudah pivot, jangan langsung udah gitu,” ujar Luthfi.
Berdasarkan roadmap realistis mereka, Tim Oculab berencana fokus mengembangkan produk ini dari segi akurasi dan kebutuhan lainnya. Mereka juga akan mencoba mencari mitra dari non-governmental organization (NGO) yang bergerak dalam hal penanggulangan tuberkulosis di Indonesia. Selain itu, mereka juga turut mencari program inkubasi dengan tujuan mendapat dana untuk mendaftarkan lisensi software Oculab.
Tim Oculab lalu berpesan untuk anak muda bahwa anak muda harus bisa memberi makna untuk lingkungan sekitar. Salah satu caranya adalah membuat inovasi yang didapatkan dari kondisi faktual, bukan mengada-ada solusi dari masalah yang sebetulnya tidak ada.
ADVERTISEMENT
“Aku percaya kalau anak muda itu harus bisa impactful. Jadi cobalah untuk melakukan sesuatu yang bisa memberikan makna buat orang lain,” ujar Annisa.
“Kita mulai dari hal yang kecil, dari problem jangan dari solution, jadi jangan reverse engineer. Bukan ‘kita punya solusi, oh kita cari problemnya apa’, tapi bener-bener dari problem, kita cari solusinya apa. Jangan ngebuat sebuah solusi itu dipaksakan,” pungkas Luthfi.
Reporter: Aliya R Putri