107 Ribu Hektare Hutan Terbakar, Menko Polkam Waspadai El Nino Terkuat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyampaikan keterangan pers usai rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyampaikan keterangan pers usai rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Djamari Chaniago membuka data total terdapat 107 ribu hektar luas lahan hutan Indonesia terbakar saat ini.

“Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan 107 ribu hektar sampai dengan hari ini,” ujar Djamari saat konferensi pers di kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8).

Dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah berlangsung, operasi udara dan darat dilakukan secara paralel untuk memadamkan titik api.

Di udara, 43 helikopter dikerahkan untuk lebih fleksibel mencapai area titik api dan menyemburkan air.

“Sebagai catatan, dalam melaksanakan operasi udara yang dilakukan oleh satgas udara, kita mengerahkan sekitar 43 helikopter,” ucapnya.

Menko Polkam Djamari Chaniago dalam konferensi pers bersama Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, dan Kepala BIN di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Rabu (5/8). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Sementara di darat, upaya terbatas pada sumber perairan darat dan pengerahan unit flexible tank. Metode ini dibantu oleh pembukaan sumur-sumur di sekitar lokasi kebakaran.

“Sementara air sudah kurang di darat kita temukan tapi kita masih punya menggunakan flexible tank yang bisa kita bawa,” sambungnya.

“Bahkan, kita juga bisa membuat sumur di daerah-daerah itu. Sumur buatan yang bisa mengeluarkan air,” lanjutnya.

Terkait efektivitas kedua metode tersebut, Djamari menyebut operasi udara lebih ampuh untuk lebih cepat memadamkan titik api.

“Upaya paling tepat adalah yang efektif operasi udara sebenarnya sangat efektif membuat hujan buatan oleh BNPB,” ungkapnya.

Waspadai Ancaman El Nino Terkuat

Seorang nelayan mencari ikan dengan jaring di sungai di Tangerang, provinsi Banten, pada 17 Juli 2026, saat permukaan air menurun sebagian akibat dampak El Nino, yang telah membawa musim kemarau berkepanjangan. Foto: Bay Ismoyo/AFP

Djamari juga menjelaskan jika saat ini Indonesia tengah menghadapi ancaman El Nino terkuat.

“El Nino itu ada yang dimulai sampai dengan yang terkuat. El Nino terkuat itu adalah suatu keadaan di mana sangat membuat kekeringan dan mudah sekali kebakaran. Kemarau akan lebih panjang,” terangnya.

Menurutnya kondisi ini sangat berpengaruh pada lambannya pemadaman kebakaran hutan yang tengah diupayakan.

“Cuaca ini sangat sangat menentukan upaya keberhasilan kita,” pungkasnya.