118 Gempa Terjadi di Kabupaten Bandung dalam 38 Hari, Ini Analisis BMKG

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi gempa bumi. Foto: Inked Pixels/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gempa bumi. Foto: Inked Pixels/shutterstock

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 118 aktivitas gempa bumi terjadi di wilayah Kabupaten Bandung dan sekitarnya sejak 11 Agustus hingga 17 September 2026 (38 hari).

Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Kamis (17/9) pukul 08.00 WIB, gempa yang tercatat memiliki kekuatan mulai dari magnitudo 1,0 hingga 3,4.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, mengatakan dari 118 aktivitas gempa tersebut, sebanyak 13 kejadian dilaporkan dirasakan masyarakat di wilayah Pangalengan, Talegong, Cisewu, dan sekitarnya.

"BMKG mencatat 118 aktivitas gempa bumi dengan kekuatan berkisar M1,0 hingga M3,4. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 kejadian dirasakan masyarakat dengan intensitas II-III MMI," ujar Wijayanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/9).

Gempa M2,8 berpusat 25 km selatan Kabupaten Bandung, kedalaman 4 km, Kamis (17/9/2026). Foto: Dok. BMKG

Intensitas II-III MMI tersebut menggambarkan getaran yang dirasakan nyata di dalam rumah, dengan sensasi seperti adanya truk yang sedang melintas.

Berdasarkan lokasi pusat gempa, BMKG menyebut rangkaian gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal. Hasil analisis juga menunjukkan pusat-pusat gempa membentuk pola kelurusan yang mengarah barat daya-timur laut.

Pusat gempa tersebut berada sekitar 5-8 kilometer di sebelah barat Sesar Garsela Segmen Kendang dan di sebelah utara Sesar Garsela Segmen Kencana. Sesar Garsela adalah sesar geser aktif yang membentang sepanjang 42 kilometer dari selatan Garut hingga selatan Bandung.

"Secara tektonik, gempa bumi tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar lokal," kata Wijayanto.

Tidak Berada di Zona Sesar Garsela

Meski berada di sekitar Sesar Garsela, BMKG menjelaskan sebaran aktivitas gempa yang terjadi tidak berada tepat pada zona Sesar Garsela Segmen Kendang, Sesar Garsela Segmen Kencana maupun Sesar Cicalengka.

Hal tersebut merujuk pada buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang diterbitkan Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) pada 2024.

"Sebaran gempa bumi yang terjadi tidak berada pada zona sesar Garsela Segmen Kendang, Garsela Segmen Kencana maupun Sesar Cicalengka, tetapi berada pada area yang belum terpetakan," ujar Wijayanto.

Karena itu, BMKG menilai masih diperlukan kajian lebih mendalam untuk mengetahui sumber gempa yang memicu rangkaian aktivitas kegempaan tersebut.

BMKG Operasikan 35 Sensor di Jabar

Untuk memantau aktivitas kegempaan, BMKG saat ini mengoperasikan 35 sensor seismik yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat.

Jaringan seismograf tersebut berperan dalam mendeteksi dan mencatat aktivitas gempa bumi berukuran kecil atau mikro dengan tingkat presisi yang cukup baik.

Aktivitas seismik berskala kecil tersebut umumnya bersumber dari pergerakan patahan aktif pada sesar-sesar darat yang terdapat di wilayah Jawa Barat.

BMKG memastikan pemantauan terhadap rangkaian gempa di Kabupaten Bandung dan sekitarnya akan terus dilakukan. Informasi terbaru juga akan disampaikan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat.

"BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi yang terjadi serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada pemangku kepentingan dan masyarakat," kata Wijayanto.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi atau isu yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.